Darus S.J. Paransa
Universitas Sam Ratulangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Antioxidant Activity Assay of Fractionated Extracts of Red Alga Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty, 1996 Nurfadillah Kadang; Desy M.H. Mantiri; Deiske A. Sumilat; Darus S.J. Paransa; Verly Dotulong; Leonardus R. Rengkung
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.61592

Abstract

Indonesia with more than 70% of its territory covered by oceans, is rich in marine resources such as the red alga Kappaphycus alvarezii, which contains bioactive compounds with antioxidant activity. This study aims to analyse the antioxidant effectiveness of fractionated extracts of K. alvarezii using ethanol, ethyl acetate, and n-hexane as solvents. Samples were collected from aquaculture in the Arakan Village, Tatapaan District, South Minahasa Regency. Extraction began with salt, removal, followed by maceration using 96.5 ethanol, then concentration using a rotary evaporator. The extract was fractionated based on solubility in polar, semi-polar, and non-polar solvents. Antioxidant activity was evaluated using the DPPH method by calculating the percent inhibition at a concentration of 1000 ppm. Results showed that each fraction exhibited different abilities in reducing free radicals. The n-hexane fraction showed the highest activity with an average inhibition of 54.36%, followed by ethyl acetate (45.33%) and ethanol (44.81%). The higher activity of the n-hexane fraction is attributed to non-polar bioactive compounds. This study supports the potential of K. alvarezii as a natural antioxidant for pharmaceutical or cosmetic applications and encourages further exploration of its health-related benefits. Keywords: red algae Kappaphycus alvarezii, antioxidant, DPPH, fractionation     ABSTRAK Indonesia memiliki wilayah lebih dari 70% berupa lautan yang kaya akan sumber daya hayati salah satunya alga merah Kappaphycus alvarezii, yang mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas antioksidan dari fraksi ekstrak            K. alvarezii menggunakan pelarut etanol, etil asetat, dan n-heksan. Sampel diambil dari budidaya perairan Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Ekstraksi dimulai dengan dekantasi garam, kemudian dimaserasi menggunakan etanol 96%, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator. Setelah diekstraksi, dilakukan fraksinasi untuk memperoleh fraksi berdasarkan kelarutannya dalam dalam pelarut polar, semi polar, non-polar. Aktivitas diuji menggunakan metode DPPH dengan menghitung nilai persen inhibisi dari masing-masing fraksi pada konsentrasi 1000 ppm. Pengujian aktivitas antioksidan pada fraksi ekstrak K.alvarezii menunjukkan bahwa setiap fraksi memiliki kemampuan yang berbeda dalam mereduksi radikal bebas. Fraksi n-heksan menunjukkan aktivitas tertinggi dengan nilai inhibisi rata-rata 54,36%, diikuti oleh fraksi etil asetat (45,33%) dan etanol (44,81%). Fraksi n-heksan  lebih efektif dalam menetralkan radikal bebas oleh kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada pelarut (non-polar). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan alga merah Kappaphycus alvarezii sebagai antioksidan alami, yang berpotensi untuk digunakan dalam industri farmasi atau kosmetik dan membuka peluang lebih lanjut mengenai pemanfaatan alga dalam bidang kesehatan. Kata kunci: alga merah Kappaphycus alvarezii, antioksidan, DPPH, fraksinasi
Study on The Determination of Chitosan Functional Groups of Sotong (Sepia sp ) Bone Extract Tasya D.P. Br Sihotang; Inneke F.M. Rumengan; Stenly Wullur; Darus S.J. Paransa; Nickson J. Kawung; James J.H. Paulus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.63121

Abstract

Chitosan of cuttlefish (Sepia sp). from North Sulawesi waters has never been reported yet. This study aims to (1) modify cuttlefish bone chitin into chitosan; (2) determine the yield of chitosan of cuttlefish bone raw materials; (3) determine the functional groups of chitosan obtained from cuttlefish bone using the FTIR analysis method. Samples of cuttlefish bone were collected from several locations, dried, and grinded. The steps of extraction of chitin consisted of demineralization with 1.5M HCl for 72 hours, neutralization with distilled water, deproteination with 3.5% NaOH solvent and heating at 600C for 4 hours, and then neutralization again and drying. Modification chitin to chitosan was conducted by deacetylation with 60% NaOH at 1100C for 4 hours. The results showed that the yield of chitosan was about 3.8%. The chitosan was then subjected to FTIR, and the results indicated that functional groups of the chitosan molecule, namely the -NH, -CH, CC-, -OH and -C=O groups, are in the wavelength range corresponding to the wavelength range of the standard chitosan molecule, with slight variations, especially in the -NH group. It can be concluded that the cuttlefish bone chitosan meets the criteria for functional groups of standard chitosan. Keywords: chitosan, cuttlefish bone, FTIR, deacetylation Abstrak Kitosan dari tulang sotong (Sepia sp). asal perairan Sulawesi Utara belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memodifikasi kitin tulang sotong menjadi kitosan; (2) mengetahui rendemen kitosan dari bahan baku tulang sotong; (3) mendeterminasi gugus fungsi kitosan dengan metode analisis FTIR. Sampel tulang sotong dikoleksi dari beberapa lokasi, dikeringkan dan digerus. Tahap-tahal ekstraksi kitin terdiri dari demineralisasi dengan HCl 1,5M selama 72 jam, netralisasi dengan akuades, deproteinasi dengan NaOH 3,5% dan pemanasan pada suhu 600C selama 4 jam, kemudian netralisasi dan pengeringan. Moodifikasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan deasetilasi dengan NaOH 60% dan dipanaskan pada suhu 1100C selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen kitosan yang dihasilkan sekitar 3,8%. Kitosan yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian FTIR, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa gugus fungsi molekul kitosan, yaitu gugus -NH, -CH, CC-, -OH dan -C=O, berada pada rentang panjang gelombang yang sesuai dengan rentang panjang gelombang molekul kitosan standar, dengan sedikit variasi terutama pada gugus -NH. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kitosan tulang sotong yang diteliti memenuhi kriteria gugus fungsi kitosan standar. Kata kunci: kitosan, tulang sotong, FTIR, deasetilasi