Deiske A. Sumilat
Universitas Sam Ratulangi

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Analysis Of Upwelling Event Based On Satellite Imagery In Fishery Management Area (FMA) 716 Nickyta Laurensis Setiadi; Joshian Nicolas W. Schaduw; Alfret Luasunaung; Ferdinand F. Tilaar; Lefrand Manoppo; Reiny A. Tumbol; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.2.2020.31213

Abstract

Oceanographic parameters are very important to analyze for determining fishing ground, it is related to upwelling. The aim of the study was to see the analysis of chlorophyll-a concentration at the time of upwelling at Fisheries Management Area (FMA) 716, then verify with the fisheries catch data. The research method is descriptive-analytical and statistical, which aims to describe or provide an overview of chlorophyll-a results from ASCAT imagery on the MetOp and NOAA satellites, and sea surface temperature results from MODIS imagery on the Aqua satellite. Then they processed for statistical correlation using the Pearson correlation method. The results showed that based on spatial and temporal analysis, the parameters that affect the upwelling in FMA 716 are sea surface temperature, so that the water mass moves from west to east, and increase the chlorophyll-a concentration. Pearson correlation shows that the correlation value of chlorophyll-a is higher than the sea surface temperature parameter with a value of 0.72. The fish catches data of yellowfin tuna (Thunnus albacares) appears a positive effect with a correlation value of 0.75. AbstrakKonsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut merupakan parameter yang dapat dijadikan indikator tingkat kesuburan di suatu perairan, yang berkaitan dengan kejadian upwelling. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis konsentrasi klorofil-a pada saat kejadian upwelling di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716, dengan output berupa tabel dan grafik, kemudian diverfikasi dengan data hasil tangkapan. Metode penelitian adalah deskriptif analitis, dan statistik, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap data parameter klorofil-a hasil pencitraan ASCAT pada satelit MetOp dan NOAA, dan suhu permukaan laut hasil pencitraan MODIS pada satelit Aqua. Kemudian diolah dan diuji korelasinya secara statistik dengan menggunakan metode korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis spasial dan temporal parameter yang mempengaruhi kejadian upwelling pada WPP 716 adalah suhu permukaan laut, sehingga massa air bergerak dari arah barat menuju timur, dan meningkatkan konsentrasi klorofil-a. Korelasi pearson menunjukkan nilai korelasi klorofil-a lebih tinggi dibandingkan parameter suhu permukaan laut dengan nilai sebesar 0,72. Hasil tangkapan ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) tampak berpengaruh positif dengan nilai korelasi sebesar 0,75.Kata kunci: upwelling, klorofil-a, suhu permukaan laut, Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares), WPP 716
KEANEKARAGAMAN SPONS DI KAWASAN PANTAI KINAMANG KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Putra Musak; Deiske A. Sumilat; Joshian N. W. Schaduw; Antonius P. Rumengan; Esther D. Angkouw; Suzanne L. Undap
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53334

Abstract

Spons are primitive living settled animals that are filter feeder. These animals are commonly found in tropical and sub-tropical waters, ranging from the intertidal zone to the subtidal. The aim of this study is to know the diversity of species and the content of bioactive sponges. Sponge data collection: ecological index, species composition and density of sponge as well as knowledge of the study of bioactive sponge using the library study of the research carried out and using the scientific articles of the last 10 years, from 2013 to 2023. The study used the transec belt method that has been modified. From the use of the method, 17 Families were obtained, 48 individuals at a depth of 7 m and 118 individuals at 14 m. Based on the results of this study showed that the index of diversity obtained from the analysis results belonged to the average in 7 m and 14 m. Distribution patterns obtained from data analysis results obtain the distribution pattern at a depth of 7 m grouping 5 families, uniform 5 families and random 1 family. At a depth of 14 m, the most spread pattern is the uniform spread of 10 families, and the spread model groups 4 families. The index of diversity obtained from the results of data analysis is high (stable). The composition of the species obtained from the results of the analysis showed the highest species of the clionaidae family and the lowest sponge species composition is 7 m depth is 0%, the lower species in 14m depths is 11.86%. The highest value of spongy density at a depth of 7 meters is 2.44 ind/m² and the lowest is 0.15 ind/m², whereas at depths of 14 meters with the highest values are 3.16 ind/m² and lower is 0.08 ind/m² and a library study of the bioactive content received 27 articles related to the family obtaining at the research site and in teluk manado.Keywords: Diversity, Sponge, Kinamang Beach, Bioactive ContentABSTRAKSpons merupakan hewan primitif yang hidup menetap yang bersifat filter feeder (menyaring). Hewan ini sangat umum dijumpai di perairan tropis dan sub tropis, sebarannya mulai dari zona intertidal hingga zona subtidal. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keanekaragaman jenis dan kandungan bioaktif spons. Pengambilan data spons : indeks ekologi, komposisi jenis dan kepadatan spons serta mengetahui kajian mengenai bioaktif spons dengan menggunakan studi pustaka dari penelitian yang telah dilakukan dan menggunakan artikel ilmiah 10 tahun terakhir tahun 2013 sampai 2023. Penelitian ini menggunakan metode belt transek yang telah dimodifikasi. Dari pengunaan metode tersebut diperoleh 17 Famili, 48 individu pada kedalaman 7 m dan 118 individu pada kedalaman 14 m. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman yang diperoleh dari hasil analisis tergolong sedang pada kedalam 7 m dan 14 m. Pola Sebaran yang diperoleh dari hasil analisis data didapatkan pola sebaran pada kedalaman 7 m pola sebaran mengelompok 5 famili, pola sebaran seragam 5 famili,dan pola sebaran acak 1 famili. Sedangkan pada kedalaman 14 m pola sebaran terbanyak yaitu, pola sebaran seragam 10 famili, dan pola sebaran mengelompok 4 famili. Indeks keseragaman yang diperoleh dari hasil analisis data yaitu tergolong tinggi (stabil). Komposisi jenis yang diperoleh dari hasil analisis menunjukkan jenis spons tertinggi yaitu dari famili clionaidae dan komposisi jenis spons terendah kedalaman 7 m yaitu 0%, jenis spons terendah pada kedalaman 14 m yaitu 11,86 %. Nilai kepadatan spons tertinggi pada kedalaman 7 m yaitu 2,44 ind/m² dan terendah yaitu 0,15 ind/m², sedangkan pada kedalaman 14 meter dengan nilai tertinggi yaitu 3,16 ind/m² dan terendah yaitu 0,08 ind/m² dan studi pustaka mengenai kandungan bioaktif yang didapatkan 27 artikel yang berkaitan dengan famili yang didapatkan di lokasi penelitian dan di teluk manado.Kata Kunci: Keanekaragaman, Spons, Pantai Kinamang, Kandungan Bioaktif
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA KARAGENAN YANG DIEKSTRAKSI DARI RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum DAN Kappaphycus alvarezii SEBAGAI BAHAN BAKU MASKER WAJAH Adinda N. Dunggio; Billy Th. Wagey; Inneke F.H. Rumengan; Deiske A. Sumilat; Agung B. Windarto; Esther Angkouw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53359

Abstract

The aim of this study was to compare the physicochemical characteristics of carrageenanextraction from seaweeds E. spinosum and K. alvarezii, and the facial mask preparations produced.This study was conducted from February to May 2023, starting from sampling in Nain Village, WoriDistrict, North Minahasa Regency and continued at the Marine Biotechnology and PharmaceuticalLaboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Sam Ratulangi University. This study was carriedout in several stages, namely extraction with NaOH at three different temperatures, and carrageenancharacterization by measuring yield, moisture content and gel strength, as well as mask preparationfrom carrageenan raw material using a mask maker machine and waterbath. Furthermore, irritation testwas performed by applying the mask preparation on human skin. The results of this study showed thatthe yield of carrageenan extracted from seaweeds K. alvarezii and E. spinosum were 22.36% and13.86%, respectively. The moisture content of carrageenan K. alvarezii (16.25%) was lower than E.spinosum (19.00%). Similarly, the gel strength of carrageenan K. alvarezii was 69.12 g/cm2 lower thanE. spinosum (80.20 g/cm2). Mask made from carrageenan from E. spinosum using a machine took 29hours and resulted in a film-like shape that was slightly flexible, while mask processing fromcarrageenan from K. alvarezii only took 10 minutes resulting in a compact jelly-like texture. Withwaterbath for 30 minutes, mask made from carrageenan from E. spinosum formed a solid gel, whilemask from carrageenan from K. alvarezii formed a thinner gel. It can be concluded that differentphysicochemical characteristics of carrageenan extracts cause different textures of the masksproduced. Irritation test of mask made from carrageenan from both types of seaweed did not causeirritation on the skin.Keywords: Seaweed, Eucheuma spinosum, Kappapychus alvarezii, Carrageenan, Facial Mask ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisika kimia ekstraksikaragenan dari rumput laut E. spinosum dan K. alvarezii, dan sediaan masker wajah yang dihasilkan.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Mei 2023 yang dimulai dari pengambilan sampel diDesa Nain, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara dan dilanjutkan di Laboratorium Bioteknologidan Farmaseutika Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Sam Ratulangi.Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu ekstraksi dengan NaOH pada tiga suhu yangberbeda, dan karakterisasi karagenan dengan mengukur rendemen, kadar air dan kekuatan gel, sertapreparasi masker berbahan baku karagenandengan mesin pembuat masker dan waterbath.Selanjutnya uji iritasi dilakukan dengan mengoleskan sediaan masker pada kulit manusia. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa rendemen karagenan yang diekstraksi dari rumput laut K. alvareziidan E. spinosum, masing-masing 22,36% dan 13,86%. Kadar air dari karagenan K. alvarezii (16,25%),lebih rendah dari E. spinosum (19,00%). Demikian pula, kekuatan gel karagenan K. alvarezii sebesar69,12 g/cm2lebih rendah dari E. spinosum (80,20 g/cm2). Masker berbahan baku karagenan dari E.spinosum dengan menggunakan mesin membutuhkan waktu 29 jam dan hasilnya berbentuk film yangagak lentur, sedangkan pemrosesan masker dari karagenan dari K. alvarezii hanya butuh waktu 10menit menghasilkan bertekstur jeli yang kompak. Dengan waterbath selama 30 menit, maskerberbahan baku karagenan dari E. spinosum berbentuk gel yang padat, sedangkan masker darikaragenan dari K. alvarezii berbentuk gel yang lebih encer. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik fisikakimia ekstrak karagenan yang berbeda menyebabkan tekstur dari masker yang dihasilkan jugaberbeda. Uji iritasi masker berbahan baku karagenan dari kedua jenis rumput laut tersebut, tidakmenimbulkan iritasi pada kulit. Kata kunci: Rumput Laut, Eucheuma spinosum, Kappapychus alvarezii, Karagenan, Masker Wajah
IDENTIFIKASI MOLEKULER SPESIES MIKROBA FOTOSINTETIK YANG BERASOSIASI DENGAN ASCIDIACEA DI TELUK MANADO Angelicca L.D.M. Angkouw; Inneke F.M. Rumengan; Joice R.T.S.L. Rimper; Medy Ompi; Deiske A. Sumilat; Robert A. Bara
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.3.2023.54003

Abstract

The objective of this study was to molecularly determine the microbial species. The isolation of microbes from their hosts was conducted by squeezing the tissues that contain green suspension. The suspension was then kept in a freezer until DNA isolation. DNA isolation was performed with standard procedur, following with PCR amplification using universal primer pair for 16S rRNA gene. PCR products were then sequenced, and the results was aligned with the relevant data in NCBI (National Center for Biotechnological Information) web using BLAST (Basic Local Alignment Search Tool). Among the five ascidian species, only one species, Diplosoma virens that its microbial suspension with sample identity, E1 was molecularly identified. PCR product of its 16S rRNA gene was 1150 bp in length. Alignment of this sequence with the relevant sequences in NCBI using BLAST resulted in the range of similarity of 99.40 – 100% with the 16S rRNA sequences of 17 samples described as Prochloron sp., where their hosts were of different species and from different locations, except for sample with accession number of MT 254065. This sample was described as Prochloron didemni IMFR-1 in NCBI was originated from Lissoclinum patella in Manado Bay. However, the 16S rRNA sequence of E1 sample of this study was 100% similarity with the Uncultured Prochloron sp. clone E11-016 that was from different species of host and location. Therefore, Prochloron didemni was non obligate symbiont microbe that could associate with different ascidian species. Keywords: Ascidian, Microbe, 16S rRNA, Prochloron sp. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mikroba secara molekuler. Isolasi mikroba dari inang ascidia dilakukan dengan cara memencet jaringan inang yang berisi suspensi warna hijau. Suspensi yang diperoleh, disimpan beku sampai saatnya isolasi DNA. Isolasi DNA dengan prosedur standar, kemudian diamplifikasi menggunakan primer gen 16S rRNA. Produk PCR kemudian disekuens, dan hasil sekuensnya diselaraskan menggunakan BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) yang ada di di laman NCBI (National Center for Biotechnological Information). Dari 5 jenis ascidia yang diisolasi mikrobanya, ternyata hanya suspensi dari Diplosoma virens dengan identitas sampel E1 yang teridentifikasi secara molekuler. Produk PCR ini berukuran 1150 bp yang hasil sekuensnya ketika dicocokkan menggunakan BLAST pada data sejenis di NCBI, mempunyai kemiripan 99,40 – 100% dengan sekuens gen yang sama pada 17 sampel yang terdeskripsikan sebagai Prochloron sp. di NCBI dengan inang dan lokasi yang berbeda dengan penelitian ini, kecuali sampel dengan aksesi MT 254065. Sampel ini terdeskripsi sebagai Prochloron didemni IMFR-1 yang sampelnya diisolasi dari ascidia Lissoclinum patella dari lokasi yang sama dengan penelitian ini. Namun sampel E1 justru mirip 100% dengan Uncultured Prochloron sp. clone E11-016 yang diisolasi dari inang dan lokasi berbeda. Jadi Prochloron didemni merupakan mikroba simbion non obligate yang dapat berasosiasi dengan jenis-jenis inang yang berbeda. Kata Kunci: Ascidia, Mikroba,16S rRNA, Prochloron sp.
KOMUNITAS DAN KEANEKARAGAMAN ASCIDIA DI PESISIR MINANGA, MALALAYANG SATU, KOTA MANADO Christian Palit; Deiske A. Sumilat; Antonius P. Rumengan Rumengan; Farnis B. Boneka; Chatrien A. L. Sinjal; Jans Lalita
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54995

Abstract

Ascidian is one of the biota components that make up coral reefs, which has many biological, ecological and pharmaceutical benefits. This makes Ascidian a very attractive target due to its high and unique diversity among marine invertebrates. The purpose of this study is to provide information about the Ascidia community and diversity in the Minanga Coast, Malalayang Satu, Manado City. This research was conducted for 3 (three) months from April to June 2022 with the location of data collection is Minanga Divers Coast. Data were collected using the visual census method at a depth of 7 and 14 m with a transect length of 50 m and a width of 5 m. Data analysis was carried out to obtain the value of species composition and density and ecological index. The results obtained: 1). Ascidia found were 14 species consisting of 12 species at a depth of 7 m and 10 species at a depth of 14 m. 2). The highest species composition and density values were Ascidia P. aurata, and then D. molle 3). The Ascidia diversity index at the study site was was 2.00 at a depth of 7 m and 1.84 at a depth of 14 m. Keyword : Ascidian, species composition, density, diversity. ABSTRAK Ascidia merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai banyak manfaat baik biologi, ekologi dan farmasitika. Sehingga menjadikan Ascidia target yang sangat menarik karena keanekaragamannya yang tinggi dan unik di antara avertebrata laut. Tujuan penelitian ini yaitu memberikan informasi mengenai komunitas Ascidia di Pesisir Minanga, Malalayang Satu, Kota Manado. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan April – Juni 2022 dengan lokasi pengambilan data yaitu Pesisir Minanga Divers. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus visual pada kedalaman 7 dan 14 m dengan panjang transek 50 m dan lebar 5m. Analisis data dilakukan untuk mendapatkan nilai komposisi jenis dan kepadatan, indeks ekologi dan pola sebaran. Hasil yang didapatkan : 1). Ascidia yang ditemukan berjumlah 14 spesies yang terdiri dari 12 spesies pada kedalaman 7 m dan 10 spesies pada kedalaman 14 m, 2). Nilai komposisi jenis dan kepadatan tertinggi yaitu Ascidia P. aurata pada D. molle da 3). Indekskeanekaragaman Ascidia pada lokasi penelitian yaitu dengan nilai 2,00 pada kedalaman 7 m dan 1,84 padakedalaman 14 m. Kata Kunci : Ascidia. komposisi spesies, kepadatan, keanekaragaman.
AKTIVITAS ANTI-UV SEDIAAN SABUN DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK ASCIDIA Lissoclinum sp. Christian Palit; Azzahra Aulina; Rosemarie T. Roring; Jenever Rori; Deiske A. Sumilat
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.55004

Abstract

Ascidian have many types and are known to function as filter feeder organisms that play a role in controlling phytoplankton in the waters, and are known for their potential secondary metabolites. One of the secondary metabolites produced by ascidia is anti-UV. This study aims to analyze the anti-UV activity of soap preparations with the addition of ascidia Lissoclinum sp. This research was conducted at the Laboratory of Pharmaceutical Analysis Chemistry. FMIPA UNSRAT. Anti-UV activity testing of the final soap was carried out by doing 3 repetitions for each formula. The results obtained after being tested on a UV-VIS spectrophotometer showed that there was a decrease in the anti-UV activity of each formula. From the anti-UV analysis that has been carried out, the SPF (Sun Protection Factor) value is obtained with an average SPF value for each formula, namely : soap formula 1: 10.45, soap formula 2: 20.21, soap formula 3: 9.35. Keywords : Ascidia, Soap, Anti-UV, SPF, Formula ABSTRAK Ascidia memiliki banyak jenis dan dikenal memiliki fungsi yaitu sebagai organisme filter feeder yang berperan dalam pengendalian fitoplankton di perairan, serta dikenal karena keberadaan metabolit sekunder yang sangat potensial. Salah satu senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan ascidia yaitu anti-UV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa aktivitas anti-UV dari sediaan sabun dengan penambahan ekstra ascidia Lissoclinum sp. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Analisis Farmasi, FMIPA UNSRAT. Pengujian aktifitas anti-UV dari hasil akhir sabun telah dilakukan dengan melakukan 3 kali ulangan pada masing-masing formula. Hasil yang didapat setelah diujikan pada spektrofotometer UV-VIS menunjukan bahwa adanya penurunan aktifitas anti-UV dari masing-masing formula. Dari analisis anti-UV yang telah dilakukan, didapatkan nilai SPF (Sun Protection Factor) dengan rata-rata nilai SPF pada masing-masing formula yaitu : sabun formula 1 : 10.45, sabun formula 2 : 20.21, sabun formula 3 : 9.35. Kata Kunci : Ascidia, Sabun, Anti-UV, SPF, Formula
KOMPOSISI JENIS DAN KEPADATAN ASCIDIA Rhopalaea sp. DI PESISIR PANTAI KINAMANG, MALALAYANG DUA, TELUK MANADO Putra Musak; Christian Palit; Mutiara Ratih; Deiske A. Sumilat
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55008

Abstract

Ascidian is one of the marine biotas with considerable potential in Indonesian waters but has not received serious attention. Therefore, a little research on this species is good to do with the aim of knowing the species composition and density of Rhopalaea sp. in Manado Bay waters with different depths. The purpose of this study was to analyze the Ascidian index to determine the species composition and density of Ascidian Rhopalaea sp. at different depths in Manado Bay waters, in this case the Kinamang coastal waters, Malalayang Dua. This research was carried out for 5 (five) months starting from April to August 2022. The tools and materials used in this study were: Global Positioning System (GPS), SCUBA set, roll meter, waterproof paper, writing utensils, camera, identification books, Horiba, laptop, Microsoft excel software and Ascidian. Data analysis was conducted to determine the composition and density of Ascidia Rhopalaea sp. The results obtained are Ascidia Rhopalaea sp. found there are 2 types, namely Rhopalaea and Rhopalaea crassa. After analyzing the data, Ascidian species R. crassa had higher composition and density values than Rhopalaea species. Keywords: Ascidian, Species Composition, Density, Manado Bay ABSTRAK Ascidia merupakan salah satu biota laut dengan potensi yang cukup besar di Perairan Indonesia akan tetapi belum mendapatkan perhatian yang serius. Oleh karena masih sedikit penelitian mengenai jenis ini sehingga penelitian ini baik untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan kepadatan jenis Rhopalaea di Perairan Teluk Manado dengan kedalaman berbeda. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis indeks ascidia untuk mengetahui komposisi jenis dan kepadatan Ascidia Rhopalaea sp. pada kedalaman yang berbeda di Perairan Teluk Manado dalam hal ini perairan pesisir Kinamang, Malalayang Dua. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan dimulai pada bulan April sampai dengan Agustus tahun 2022. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Global positioning system (GPS), Set SCUBA, roll meter, kertas anti air, alat tulis menulis, kamera, buku identifikasi, Horiba, laptop, software microsoft excel dan ascidia. Analisis data dilakukan untuk mengetahui komposisi jenis dan kepadatan Ascidia Rhopalaea sp. Hasil yang didapat yaitu Ascidia Rhopalaea sp. yang ditemukan berjumlah 2 jenis yaitu Rhopalaea dan Rhopalaea crassa. Setelah dilakukan Analisa data, Ascidia jenis R. crassa memiliki nilai komposisi jenis dan kepadatan yang lebih tinggi dari jenis Rhopalaea. Kata Kunci: Ascidia, Komposisi Jenis, kepadatan, Teluk Manado
SEBARAN OYSTER Saccostrea cuccullata DI TIANG DERMAGA LABORATORIUM BASAH LIKUPANG Supriadi Lalandos Losoh; Farnis B. Boneka; N. Gustaf F. Mamangkey; Deiske A. Sumilat; Billy T. Wagey; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.58218

Abstract

Kerang Saccostrea cuccullata merupakan spesies penting dalam ekosistem pesisir. Keberadaanya pada struktur buatan manusia seperti dermaga dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan perairan dan potensi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang sebaran S. cuccullata di tiang dermaga Likupang serta menganalisis hubungan antara ukuran cangkang S. cuccullata dengan posisi vertical pada tiang dermaga Laboratorium Basah, Likupang. Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengobservasi kehadiran oyster di dinding tiang dermaga pada beberapa sisi; sisi depan, sisi belakang, dan sisi luar kemudian mendeskripsikan sebaran ukuran oyster terhadap posisi vertical dengan mencatat ketinggian oyster dan mengambil oyster untuk dilakukan pengukuran Panjang cangkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88,75% tiang dihuni Saccostrea cuccullata. Pengukuran Panjang cangkang S. cuccullata menunjukkan bahwa oyster yang menempati level atas dengan Panjang rata-rata 3,50 cm; level tengah berukuran 6, 35 cm; dan level bawah 8, 33 cm. Dengan demikian, posisi vertical sangat berpengaruh pada periode makan dan secara langsung berdampak pada pertumbuhan dan ukuran tubuh oyster. Kata kunci: Saccostrea cuccullata, sebaran, ukuran cangkang