p-Index From 2021 - 2026
1.288
P-Index
This Author published in this journals
All Journal TEKNO
Jack H. Ticoh
Universitas Sam Ratulangi

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Penurunan Fondasi Dangkal Menggunakan Program Settle3D (Studi Kasus: SMA Eben Haezar Manado) Natanael C. Kalendesang; Jack H. Ticoh; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdirinya sebuah konstruksi bangunan berkaitan erat dengan peran fondasi dalam memikul dan meneruskan beban struktur yang ada. Dalam hal ini, fondasi membutuhkan nilai daya dukung yang cukup untuk mencegah terjadinya kegagalan struktur. Seiring dengan berjalannya waktu, kontruksi bangunan akan mengalami penurunan secara bertahap, sehingga penurunan fondasi yang terjadi perlu dihitung dan dipertimbangkan agar berada dalam batas aman. Nilai daya dukung fondasi serta penurunan yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, parameter tanah di lokasi konstruksi, pembebanan struktur bahkan tahun rencana konstruksi bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kapasitas daya dukung fondasi berdasarkan dimensi rencana, serta menghitung penurunan fondasi yang terjadi baik dengan menggunakan metode manual maupun menggunakan perangkat lunak Settle3D. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Metode yang digunakan dalam menganalisis daya dukung fondasi adalah metode Meyerhoff, metode Hansen dan metode Vesic. Dalam menganalisis penurunan fondasi digunakan metode Schmertmann, metode Poulos & Davis, serta metode Janbu. Jumlah fondasi yang dianalisis sebanyak 5 fondasi kolom lingkaran dan 15 fondasi kolom persegi. Analisis daya dukung fondasi menggunakan beban maksimum untuk setiap jenis kolom, yakni, beban kolom lingkaran sebesar 257,183 kN dan beban kolom persegi sebesar 1642,642 kN. Hasil analisis daya dukung fondasi metode Hansen memperoleh hasil terkecil, yakni sebesar 715,182 kN untuk kolom lingkaran dan 1768,148 kN untuk kolom persegi. Sehingga, dimensi fondasi rencana dapat dinyatakan mampu memikul beban struktur yang ada. Hasil analisis penurunan fondasi dikontrol dengan menggunakan ketentuan differential settlement, sehingga memperoleh kesimpulan bahwa setiap fondasi dinyatakan aman terhadap beda penurunan yang terjadi Kata kunci – pembebanan, daya dukung, penurunan fondasi, Settle3D.
Studi Perbandingan Desain Fondasi Rakit Dengan Fondasi Tiang Bor Pada Proyek Pembangunan Gedung Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Toar John Lapian; Fabian J. Manoppo; Jack H. Ticoh
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan tinggi biasanya dibangun menggunakan fondasi dalam seperti: fondasi tiang dan fondasi sumuran. Fondasi merupakan bagian terbawah dari sebuah bangunan, dimana fondasi berfungsi untuk meneruskan beban-beban yang bekerja ke tanah di bawahnya. Gedung Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi merupakan salah satu infrastruktur penunjang pendidikan yang dibangun pada tahun 2019. Gedung Fakultas Hukum terdiri dari 12 lantai dengan ketinggian sekitar 60 meter, dibangun di atas fondasi tiang bor dengan diameter tiang sebesar 0,8m. Hasil studi dan analisis menunjukkan bahwa fondasi rakit tidak ada permasalahan pada daya dukung, daya dukung ijin netto yang didapat berdasarkan uji N-SPT dengan Metode Vesic dengan desain fondasi yang direncanakan 40 m x 21 m dan ketebalan fondasi rakit 2 m menghasilkan daya dukung ijin 559.89 kPa. Sedangkan beban yang akan dipikul sebesar 553.611 kPa, sehingga masih di bawah nilai kapasitas dukung ijin tanah. Analisis penurunan menggunakan program Plaxis 3D dan hasil yang terjadi relatif kecil, yaitu sebesar 0.01 m. Nilai tersebut masih tergolong aman karena tidak melebihi nilai penurunan maksimum. Untuk hasil analisis fondasi tiang bor dengan diameter tiang sebesar 0.8 m dan kedalaman fondasi sedalam 12 m, didapat nilai daya dukung sebesar 1802.78 kPa dengan besar penurunan yang terjadi 0.006 m. Bila dilihat dari hasil analisis, fondasi rakit masih bisa dijadikan sebagai alternatif. Karena fondasi rakit mampu untuk memikul beban yang ada dan juga besar penurunan yang terjadi masih lebih kurang dari pada nilai maksimum penurunan. Tetapi fondasi tiang bor merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan fondasi rakit, walaupun kedua fondasi mampu untuk memikul beban yang ada tetapi besar penurunan yang terjadi pada fondasi tiang bor lebih kecil dibandingkan penurunan yang terjadi pada fondasi rakit. Kata kunci – fondasi rakit, daya dukung tanah, penurunan, tiang bor
Analisis Stabilitas Tanggul Timbunan Tanah (Studi Kasus: Tanggul Pengaman Danau Tondano) Bella Th. Tambing; Alva N. Sarajar; Jack H. Ticoh
TEKNO Vol. 21 No. 83 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalihan fungsi lahan di sekitar Danau Tondano mempengaruhi meningkatnya debit air yang berpotensi banjir atau meluapnya air danau ke permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas tanggul timbunan tanah yang digunakan sebagai tanggul pengaman Danau Tondano. Analisis stabilitas tanggul timbunan tanah yang digunakan yaitu; analisis terhadap tanah dasar yang akan menopang tanggul timbunan tanah tersebut. Kemudian perhitungan kestabilan lereng, sebagai perbandingan maka digunakan perhitungan manual dan menggunakan aplikasi Slide 6,0 dengan metode fellenius dan bishop pada kondisi drained dan undrained. Penelitian ini meninjau keruntuhan hidrauilik berdasarkan persyaratan pada SNI 8460-2017 yang dimana keruntuhan hidraulik yang berlaku pada penelitian ini yaitu keruntuhan akibat gaya uplift dan keruntuhan akibat boiling (piping). Data penelitian SPT yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh oleh instansi terkait. Hasil analisis daya dukung tanah dalam penelitian ini memenuhi faktor keamanan daya dukung 1,3 dengan nilai 9,3. Hasil analisis faktor keamanan kestabilan lereng pada metode Fellenius yaitu 15,48 (drained) dan 2,65 (undrained). Dan pada metode Bishop menghasilkan nilai 15,58 (kondisi drained pada trial pertama) dan 2,19 (kondisi undrained pada trial pertama). Sedangkan hasil perhitungan menggunakan aplikasi Slide 6,0 untuk metode Fellenius dan Bishop yaitu 14,7 (drained) dan 2,66 (undrained). Hasil analisis faktor keamanan terhadap keruntuhan akibat gaya Uplift adalah 11,8 dan faktor keamanan akibat Boiling (Piping) adalah 26,7. Jadi lereng dalam penelitian ini aman terhadap keruntuhan hidraulik. Kata kunci - tanggul timbunan, kestabilan lereng, keruntuhan hidraulik
Karakteristik Geoteknik Geosynthetic Clay Liners Sebagai Lapisan Penahan Lindi Pada Sanitary Landfill Melalui Uji Konsolidasi Endridel B. Ragang; Steeva G. Rondonuwu; Jack H. Ticoh
TEKNO Vol. 21 No. 83 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lempung merupakan tipe tanah lunak yang memiliki karakteristik indeks mampat besar, daya dukung rendah, kemampuan mengikat air besar dan mengalami konsolidasi. Konsolidasi merupakan peristiwa terjadinya deformasi pada lempung lunak akibat keluarnya air pori dari dalah tanah. Serangkain pengujian konsolidasi telah di lakukan di laboratorium terhadap tanah lempung dengan tambahan bentonite sebagai material pengisi geosynthetic clay liners (GCL). Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian di ambil dari Desa Pulutan Kecamatan Remboken kabupaten Minahasa. Pada penelitian ini dilakukan pengujian sifat-sifat fisis dari sampel tanah pulutan dan bentonite, kemudian dilakukan pengujian konsolidasi untuk mendapatkan nilai indeks pemampatan (Cc) dan koefisien konsolidasi (Cv) pada sampel tanah asli dan sampel tanah dengan penambahan bentonite dengan variasi 0%, 50%, dan 100%. Dari hasil pengujian konsolidasi menggunakan alat Oedeometer maka di temukan koefisien konsolidasi (Cv) untuk tanah asli adalah 0, 0015 cm/menit, untuk tanah dengan variasi 0% lempung (100% bentonite) adalah 0,00009 cm/menit, sedangkan untuk variasi campuran 50% adalah 0,0012 cm/menit. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi penambahan bentonite semakin kecil nilai koefisien konsolidasi Cv dan semakin kecil penurunan yang terjadi. Kata kunci - Gesynthetic Clay Linears, konsolidasi, lempung
Studi Kapasitas Fondasi Tiang Bor (Bored Pile) Pada Abutment 2 Jembatan Boulevard II Felina M. Lianto; Roski R. I. Legrans; Jack H. Ticoh
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Boulevard II Manado adalah jembatan tipe beam bridge dengan bentang 75 meter. Jembatan tipe ini menggunakan abutment yang berfungsi untuk mendukung atau memikul beban bangunan di atasnya. Jenis fondasi yang digunakan pada abutment Jembatan Boulevard II adalah kelompok fondasi tiang bor. Untuk memastikan kapasitas fondasi, dilakukan analisis daya dukung aksial dan lateral akibat beban struktur atas serta deformasi aksial dan lateral. Analisis dilakukan menggunakan metode analitik (Meyerhof, Resse-Wright, Broms, Vesic, Poulos-Mates-Davis) dan metode numerik (PLAXIS 3D). Data yang digunakan dalam analisis adalah data sekunder berupa data N-SPT. Parameter kuat geser dan kekakuan tanah diperoleh berdasarkan korelasi dari nilai N-SPT. Analisis menggunakan metode analitik menghasilkan daya dukung aksial (Qg) sebesar 229681 kN (Meyerhof) dan 164798 kN (Resse-Wright). Daya dukung lateral (Hg) sebesar 3372 kN (Broms) dengan deformasi lateral (y0) sebesar 43 mm. Penurunan kelompok tiang (Sg) adalah 122 mm (Vesic) dan 161 mm (Poulos-Mates-Davis). Analisis menggunakan metode numerik (PLAXIS 3D) menghasilkan daya dukung aksial (Qg) sebesar 110193 kN, daya dukung lateral (Hg) sebesar 3330 kN, deformasi lateral (y0) sebesar 24 mm dan penurunan kelompok tiang (Sg) sebesar 113 mm. Kata kunci: Jembatan Boulevard II, abutment, fondasi tiang bor
Analisis Daya Dukung Fondasi Tiang Bor Kelompok Pada Pekerjaan Transmisi Line 150 kV PLTS Terapung PT. PJB Masdar Solar Energi Fahreza Gobel; Roski R. I. Legrans; Jack H. Ticoh
TEKNO Vol. 22 No. 87 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i87.53825

Abstract

PLTS Terapung Cirata memiliki transmisi line 150 kV yang menggunakan fondasi tiang bor kelompok untuk memikul beban konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis daya dukung aksial, kapasitas uplift, daya dukung lateral, dan penurunan tiang bor kelompok pada konstruksi transmisi line 150 kV. Data tanah yang digunakan dalam analisis adalah data sekunder berupa data hasil uji SPT yang diperoleh dari PT PMSE.. Tahap analisis menggunakan metode analitik dengan panjang fondasi tiang bor adalah 8,5 m serta variasi diameter tiang yaitu 0,4 m, 0,6 m, dan 0,8 m. Jumlah tiang dalam satu kelompok adalah 4 (empat) tiang. Analisis daya dukung aksial tiang bor kelompok menggunakan metode Reese & O`Neill (1988) untuk tanah lempung dan metode Reese & Wright (1977) untuk tanah pasir. Hasil analisis menunjukkan bahwa daya dukung ultimit pada fondasi tiang bor dengan diameter 0,4 m, 0,6 m, dan 0,8 m masing-masing adalah 6372 kN, 10347 kN, dan 14848 kN. Diperoleh juga kapasitas uplift tiang bor kelompok ultimit pada masing-masing variasi diameter yakni 2624 kN (D = 0,4 m), 4109 kN (D = 0,6 m), dan 5710 kN (D = 0,8 m). Untuk analisis daya dukung lateral tiang bor kelompok menggunakan metode Reese & Matlock dengan defleksi izin sebesar 12 mm. Daya dukung lateral tiang bor kelompok ultimit yang diperoleh yaitu 509 kN (D = 0,4 m), 973 kN (D = 0,6 m) dan 1541 kN (D = 0,8 m). Penurunan yang terjadi pada tiang bor kelompok dianalisis dengan menggunakan metode Vesic (1977 dan 1970), Meyerhof (1976), dan software Settle3D. Penurunan maksimum yang terjadi pada fondasi tiang bor kelompok adalah 33 mm (D = 0,4 m), 49 mm (D = 0,6 m) dan 66 mm (D = 0,8 m). Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa pada diameter tiang bor terkecil yakni 0.4 m dan panjang tiang 8.5 m dengan jumlah tiang sebanyak 4 (empat) tiang per kelompok, fondasi tiang bor kelompok dapat memikul beban aksial dan beban lateral akibat konstruksi transmisi line dengan nilai factor keamanan > 2.5. Kata kunci: tiang bor kelompok, daya dukung, transmisi line, uplift, penurunan
Analisis Stabilitas dan Perkuatan Lereng dengan Metode Ground Anchor (Studi Kasus: Ruas Jalan Trans Sulawesi, Desa Lelema, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan) Agnes T. Mandagi; Jack H. Ticoh; Elisa E. P. Pudihang
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.55361

Abstract

Indonesia sebagai negara yang memiliki kondisi topografi berbukit dan dijadikan kawasan pemukiman, memiliki ancaman serius bagi penghuni dan alam sekitarnya ketika terjadi pergerakan tanah yang disebut longsor, pada saat musim penghujan. Lereng dengan kemiringan tertentu, yang memiliki nilai faktor keamanan < 1,25 harus sesegera mungkin ditangani untuk mencegah terjadinya pergeseran tanah ketika terjadi gempa atau pada saat musim penghujan. Salah satu bencana Tanah Longsor yang pernah terjadi di tahun 2018 di ruas jalan Trans Sulawesi, tepatnya di desa Lelema kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan telah dilakukan penanganan di awal tahun 2019 dengan membangun dinding penahan tanah setinggi 2 meter, dimana lereng bagian atas dari dinding penahan tanah cukup tinggi dengan kemiringan lereng yang cukup curam tanpa adanya perkuatan. Berdasarkan analisis faktor keamaman (FK) terhadap lereng eksisting, secara manual dengan metode Felenius (FK = 1,17) dan metode Bishop (FK = 1,21) ataupun dengan menggunakan aplikasi software slide dengan metode Felenius (FK = 1,17) dan Metode Bishop (FK = 1,22). Nilai FK tersebut berada dibawah nilai yang disyaratkan yakni 1,25 karena itu perlu dilakukan perkuatan.Dengan menggunakan aplikasi software slide dilakukan perkuatan lereng dengan metode ground anchor dan diperoleh nilai FK diatas nilai yang disyaratkan (1,25), yakni FK = 2.044 untuk metode Felenius dan FK = 2.130 untuk metode Bishop. Angka faktor keamanan tersebut menunjukkan bahwa perkuatan ground anchor dapat menstabilkan lereng. Kata kunci: stabilitas lereng, ground anchor, software Slide