Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Effects of Propolis Extract Supplementation during Pregnancy on Stress Oxidative and Pregnancy Outcome: Levels of Malondialdehyde, 8-Oxo-2′-Deoxogunosine, Maternal Body Weight, and Number of Fetuses Joko Wahyu Wibowo; Minidian Fasitasari; Siti Thomas Zulaikhah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 31 No. 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2021.031.03.5

Abstract

Oxidative stress is related to pregnancy complications that could increase maternal and infant mortality. This study aimed to determine the effect of propolis extract supplementation during pregnancy on oxidative stress level and pregnancy outcomes utilizing Malonedealdehyde (MDA) and 8-Oxo-2′-Deoxogunosine (8-OHdG) levels, maternal body weight, and the average number of fetuses as the parameters. The study was conducted by using a posttest only control group design on 24 pregnant Wistar rats, which were divided into four groups. Group I was control, Group II-IV were the treatment groups given propolis extract of 1.8mg, 3.6mg, and 7.2mg/200gBW/day, respectively. The standard feed given was AIN93G dose of 20g/day and distilled water ad libitum. Propolis extract was given using a gastric feeding tube every morning for 20 days. At the end of the treatment, body weight was meisured and blood collected for assessed MDA and 8-OHdG levels  by ELISA method  and then we performed abdominal surgery to count number of fetuses. The result are there were decreasing level of MDA and 8-OHDG by administration of propolis significantly (p<0.05) group: I: 2,04±0,091, II: 1,55±0,067, III: 1,05±0,176, IV: 0,73±0,075 (mmol/mL) (p=0.001); 8 OHdG level (ng/mL) group I: 10,02±0,403, II: 8,60±0,078, III: 7,89±0,051, IV: 7,53±0,063 (p=0,001). Average of maternal body weight (g) were increased: group I: 228,33±3,93, II: 237,17±4,36, III: 244,83±4,02, IV: 248,00±5,76 (p=0,001) and Average number of fetuses tend to increased as well, group I : 8,5±0,05, II: 7,8±0,41, III: 9,5±1,05, IV: 9,6±0,52 (p=0,02). The conclusion of this research are supplementation of propolis extract in pregnant rats can reduce oxidative stress and improve pregnancy outcomes.
Pengaruh Ekstrak Biji Chia (Salvia Hispanica L) Terhadap Kadar Gula Darah Sewaktu dan Kadar MDA Syafinda Meisari Trisnani; Chodidjah .; Joko Wahyu Wibowo
Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa Vol 2, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Jurnal Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.95 KB)

Abstract

Hiperglikemia merupakan kondisi dimana tubuh mengalami peningkatan kadar gula darah dan merupakan suatu manifestasi klinis dari DM tipe 2 yang akan meningkatkan ROS sehingga terjadi ketidakseimbangan antioksidan yang berakibat menjadi stres oksidatif salah satu biomarkernya yaitu MDA. Biji chia mengandung antioksidan yang tinggi sehingga efektif untuk menurunkan stres oksidatif yang diakibatkan oleh hiperglikemia pada DM tipe 2. Tujuan penelitian untuk membuktikan pengaruh ekstrak biji chia terhadap kadar GDS dan kadar MDA pada tikus model DMT2 dengan injeksi STZ. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Jumlah sampel 25 ekor tikus wistar jantan yang berusia 3-4 bulan dengan berat 180-200 gram dan diadaptasi selama 7 hari, dibagi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok perlakuan P0 sebagai kontrol, P1 sebagai kontrol positif, P2 sebagai kontrol negatif, P3 untuk di injeksi STZ dan ekstrak biji chia dosis 4,5 mg/KgBB/hari, P4 untuk di injeksi STZ dan ekstrak biji chia dosis 13,5 mg/KgBB/hari. Lama perlakuan 7 hari. Sampel darah diambil dari v. Ophtalmica pada hari ke 14. Pemeriksaan kadar GDS menggunakan metode ELISA dan pemeriksaan kadar MDA menggunakan metode TBARS, data dianalisis dengan uji Anova. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar GDS P0: 127,6±2,8; P1: 204,6±6,1; P2: 76,2±1,3; P3: 45,6±2,07; P4: 40±1,58. Rerata kadar MDA dalam satuan nmol/ml P0: 0,93±0,04; P1: 1,20±0,01; P2: 0,73±0,04; P3: 0,44±0,03; P4: 0,22±0,20. Hasil uji Anova diperoleh P value 0,000 dan hasil uji post hoc LSD antar kelompok diperoleh P value 0,000 (
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kelor Terhadap Viabilitas Sperma Studi Eksperimental Pada Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi MSG Alfa Nurfaizah; Joko Wahyu Wibowo
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1072

Abstract

Paparan monosodium glutamat (MSG) diketahui dapat menurunkan kualitas sperma melalui peningkatan stres oksidatif, yang berdampak pada penurunan viabilitas spermatozoa. Daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung senyawa antioksidan yang berpotensi memberikan efek protektif terhadap sistem reproduksi pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor terhadap viabilitas spermatozoa pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi MSG. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post-test only control group. Sebanyak 20 ekor tikus jantan galur wistar dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok sehat, kelompok kontrol negatif yang diberi MSG, serta dua kelompok perlakuan yang diberi MSG dan ekstrak daun kelor dengan dosis 175 mg/kgBB dan 350 mg/kgBB. Pemberian MSG dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MSG menurunkan viabilitas spermatozoa secara signifikan. Pemberian ekstrak daun kelor pada kelompok perlakuan meningkatkan viabilitas spermatozoa dibandingkan kelompok yang hanya diberi MSG, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0,05). Dosis 350 mg/kgBB menunjukkan efek protektif yang lebih baik dibandingkan dosis 175 mg/kgBB. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun kelor berpotensi meningkatkan viabilitas spermatozoa pada tikus jantan yang diinduksi monosodium glutamat (MSG). Selain itu, ekstrak daun kelor berpotensi dikembangkan sebagai agen protektif alami terhadap gangguan sistem reproduksi akibat paparan MSG.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kelor Terhadap Motilitas Sperma Studi Eksperimental Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Monosodium Glutamate Meisya Nirwana Pratika Sari; Joko Wahyu Wibowo
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1083

Abstract

Paparan monosodium glutamat (MSG) diketahui dapat menurunkan kualitas sperma, terutama motilitas spermatozoa, melalui peningkatan stres oksidatif. Daun kelor (Moringa Oleifera) mengandung berbagai senyawa antioksidan, seperti vitamin C, beta karoten, kuersetin, dan flavonoid, yang berpotensi menangkal radikal bebas akibat paparan MSG. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor terhadap motilitas spermatozoa pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi MSG. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post-test only control group. Sebanyak 20 ekor tikus jantan galur wistar dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok sehat, kelompok kontrol negatif yang diberi MSG, serta dua kelompok perlakuan yang diberi MSG dan ekstrak daun kelor dengan dosis 175 mg/KgBB dan 350 mg/KgBB selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MSG menurunkan motilitas spermatozoa secara signifikan dibandingkan kelompok sehat. Pemberian ekstrak daun kelor pada kelompok perlakuan mampu meningkatkan motilitas spermatozoa dibandingkan kelompok yang hanya diberi MSG, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor efektif dalam memperbaiki motilitas spermatozoa pada tikus jantan yang diinduksi monosodium glutamat (MSG), sehingga berpotensi digunakan sebagai agen pelindung terhadap penurunan kualitas sperma akibat stres oksidatif.
The Effect of Hypoxic MSC Exosome on IL-10 and SOCS3 Expression Sundari, Siti Sundari; Agung Putra; Titiek Sumarawati; Eko Setiawan; Joko Wahyu Wibowo; Hadi Sarosa
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol 9 No 2 (April 2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/woh.vi.2885

Abstract

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder characterized by insulin resistance and persistent inflammation. Increased expression of Suppressor of Cytokine Signaling 3 (SOCS3) and decreased Interleukin-10 (IL-10) contribute to the progression of inflammation and impaired insulin signaling. Mesenchymal stem cell-derived exosomes under hypoxic conditions (EH-MSCs) have shown potential anti-inflammatory effects and may improve inflammatory responses in T2DM. Objective: This study aimed to determine the effect of hypoxic mesenchymal stem cell exosomes (EH-MSCs) on IL-10 and SOCS3 expression in Wistar rats with type 2 diabetes mellitus. Methods: This was an in vivo experimental study using a randomized post-test only control group design. Twenty-eight Wistar rats were divided into four groups (n=7 each): negative control (K1), positive control (K2), treatment with intravenous injection of EH-MSCs 250 µL (K3), and treatment with intravenous injection of EH-MSCs 500 µL (K4). IL-10 and SOCS3 expression levels were measured using qRT-PCR on day 30. Data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Post Hoc LSD test with a significance level of p<0.05. Results: The mean IL-10 expression was highest in K3 (1.99 ± 0.39), followed by K4 (1.47 ± 0.49), K2 (1.37 ± 0.54), and K1 (1.12 ± 0.31), with a statistically significant difference among groups (p = 0.009). Meanwhile, the mean SOCS3 expression was highest in K1 (1.09 ± 0.41) and lowest in K3 (0.56 ± 0.11), with significant differences among groups (p = 0.018). These findings indicate that EH-MSC administration increased IL-10 expression and decreased SOCS3 expression, particularly at the 250 µL dose. Conclusion: Hypoxic mesenchymal stem cell-derived exosomes significantly increased IL-10 expression and decreased SOCS3 expression in T2DM model rats, with the 250 µL dose showing the most effective anti-inflammatory response. EH-MSCs have potential as a therapeutic strategy for reducing inflammation in T2DM.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L) TERHADAP KADAR ALANINE AMINOTRANSFERASE (ALT) (Studi Eksperimental pada Tikus Jantan Galur Wistar dengan Induksi MSG) Rahmat Arraziq; Joko Wahyu Wibowo
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 5 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Mei 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i5.1887

Abstract

Monosodium glutamat (MSG) dosis tinggi dapat menyebabkan stres oksidatif yang mengakibatkan kerusakan hepatosit, ditandai dengan peningkatan kadar alanine aminotransferase (ALT). Daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung flavonoid dan senyawa fenolik yang bersifat antioksidan dan berpotensi hepatoprotektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun kelor terhadap kadar ALT pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi MSG. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain post-test only control group pada 20 ekor tikus yang dibagi menjadi empat kelompok : kontrol sehat (K1), kontrol negative (K2), perlakuan dibagi menjadi kelompok kontrol sehat, kelompok induksi MSG, serta kelompok induksi MSG yang diberi ekstrak daun kelor dengan dosis berbeda. Kadar ALT diperiksa setelah perlakuan dan dianalisis secara statistik dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MSG meningkatkan kadar ALT secara signifikan dibandingkan kontrol sehat (43,50 ± 0,55 U/L vs 19,13 ± 0,55 U/L; p < 0,001). Pemberian ekstrak daun kelor dosis 175 mg/kgBB dan 350 mg/kgBB menurunkan kadar ALT secara bermakna dibandingkan kelompok MSG, dengan dosis 350 mg/kgBB menunjukkan hasil mendekati normal (21,17 ± 0,43 U/L). Kesimpulannya, ekstrak daun kelor berpotensi sebagai agen hepatoprotektif alami dalam menekan kerusakan hati akibat induksi MSG.