Arfan Bakhtiar
Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS PERFORMANSI SUPPLY CHAIN MENGGUNAKAN METODE SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus PT Starcam Apparel Indonesia Factory B) Nanda Himmatul Ulya; Arfan Bakhtiar
Industrial Engineering Online Journal Vol 12, No 4 (2023): WISUDA PERIODE OKTOBER TAHUN 2023
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPT Starcam Apparel Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri pembuatan produk pakaian jadi (garment). Dalam menjalankan proses bisnis perusahaan ini terkadang mengalami masalah pada proses pengadaan raw material yaitu terdapat rejectnya material fabric dan accessories dari supplier sehingga akan menghambat proses produksi dikarenakan perlu melakukan pelaporan dan menunggu replacement material yang dikirim pemasok, terkadang terjadi keterlambatan dalam pengecekan kembali quantity order pada material yang datang sehingga apabila tidak sesuai jumlahnya menyebabkan pemesanan ulang material kekurangannya. Selain itu, belum adanya indikator penilaian konerja rantai pasok objektif yang menjadi tolak ukur evaluasi kinerja rantai pasok. Metode SCOR dapat untuk mengukur kinerja rantai pasok perusahaan. Pengukuran dilakukan berdasarkanb5 proses inti yang dijabarkan dalam atribut dan metrik kinerja melalui pendekatan proses bisnis Departemen PPIC. Kemudian dilakukan pembobotan menggunakan Analytical Hierarcy Process (AHP) untuk tiap levelnya. Metode ini mampu menghubungkan keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Berdasarkan hasil pengolahan AHP, didapatkan total nilai akhir skor Supply Chain dari Departemen PPIC sebesar 63.628 yang termasuk kategori Average.Kata Kunci: Supply Chain; SCOR; AHP; Proses Bisnis.AbstractPT Starcam Apparel Indonesia is a company engaged in the manufacture of garment products. In carrying out business processes, this company sometimes experiences problems in the raw material procurement process, namely there are rejections of fabric materials and accessories from suppliers which will hamper the production process due to the need to report and wait for replacement materials sent by suppliers, sometimes there is a delay in re-checking the order quantity on the material. which comes so that if it does not match the amount it causes a reorder of the shortage of material. In addition, there is no objective supply chain performance assessment indicator as a benchmark for evaluating supply chain performance. The SCOR method can be used to measure a company's supply chain performance. The measurement is carried out based on the 5 core processes described in the attributes and performance metrics through the PPIC Department's business process approach. Then the weighting is carried out using the Analytical Hierarchy Process (AHP) for each level. This method can connect the interrelationships between criteria or alternatives. Based on the results of AHP processing, the total final score of the Supply Chain score from the PPIC Department is 63,628 which is included in the Average category.Keywords: Supply Chain; SCOR; AHP; Business process.
EVALUASI SISTEM MANAJEMEN KEAMANAN INFORMASI BERDASARKAN PENILAIAN INDEKS KAMI v.4.2 PADA DINAS XYZ PROVINSI JAWA TENGAH Faizah Salsabila Hidayat; Arfan Bakhtiar
Industrial Engineering Online Journal Vol 12, No 4 (2023): WISUDA PERIODE OKTOBER TAHUN 2023
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakRevolusi industri dan digitalisasi membawa dampak negatif dengan munculnya kejahatan siber yang mengancam data dan informasi penting yang dimiliki oleh organisasi. Penting untuk menerapkan sistem manajemen keamanan informasi untuk melindungi data dan informasi yang dikelola. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur level kesiapan dan kematangan sistem manajemen keamanan informasi yang diterapkan oleh Dinas XYZ Provinsi Jawa Tengah menggunakan alat evaluasi Indeks KAMI v.4.2. Penelitian mengadopsi metode penelitian deskriptif kuantitatif dan pengumpulan data penelitian dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori Sistem Elektronik yang digunakan oleh instansi tergolong “Tinggi” dengan skor 26. Penilaian terhadap kesiapan area keamanan Tata Kelola Keamanan Informasi, Kerangka Kerja Keamanan Informasi, dan Pengelolaan Aset berada pada tingkat kematangan I+. Area Pengelolaan Risiko memperoleh tingkat kematangan II. Sementara area Teknologi dan Keamanan Informasi memperoleh tingkat kematangan I. Penilaian secara keseluruhan memperoleh total skor 225 yang tergolong dalam “Tidak Layak”. Penilaian kesiapan pada area Suplemen diperoleh persentase 36% pada Pengamanan Keterlibatan Pihak Ketiga, 33% pada Pengamanan Layanan Infrastruktur Awan, dan 38% pada Perlindungan Data Pribadi. Tentunya diperlukan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan keamanan data.Kata kunci: Indeks KAMI; kejahatan siber; sistem elektronik; sistem manajemen keamanan informasiAbstractThe industrial revolution and digitalization have had a negative impact with the emergence of cybercrime that threatens important data and information owned by organizations. It is important to implement an information security management system to protect data and managed information. This study aims to measure the level of readiness and maturity of the information security management system implemented by Dinas XYZ of Central Java Province using the KAMI Index v.4.2 evaluation tool. The study adopts quantitative descriptive research methods and research data collection with interview, observation, and documentation methods. The results showed that the Electronic System category used by the agency was classified as "High" with a score of 26. Assessment of the security area readiness of Information Security Governance, Information Security Framework and Asset Management is at maturity level I+. The Risk Management area has achieved maturity level II. Meanwhile, the Information Technology and Security area obtained maturity level I. The overall assessment received a total score of 225 which was classified as "Not Feasible". The readiness assessment in the Supplement area obtained a percentage of 36% in Securing Third Party Involvement, 33% in Securing Cloud Infrastructure Services, and 38% in Personal Data Protection. Of course, recommendations for improvements are needed to increase data security.Keywords: Cybercrime; Indeks KAMI; electronic systems; Information Security Management System