Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN PREHOSPITAL DELAY DENGAN KEPARAHAN STROKE ISKEMIK BERDASARKAN KRITERIA NIHSS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO Haniy Thri Afifaningrum; Prasetyo Tri Kuncoro; Agus Budi Setiawan
Mandala Of Health Vol 15 No 1 (2022): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.96 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2022.15.1.5369

Abstract

Pasien stroke di Indonesia banyak mengalami keterlambatan kedatangan ke rumah sakit atau prehospital delay. Pencegahan dalam mengurangi kematian dan meminimalkan kerusakan otak adalah penanganan yang cepat dan tepat sesuai golden period. Prehospital delay akan menghalangi terapi reperfusi pada pasien stroke iskemia. Derajat kerusakan saraf pada pasien stroke akan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara prehospital delay dengan derajat kerusakan saraf pada pasien stroke iskemia. Desain dari penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan data sekunder dari rekam medik NIHSS pasien stroke iskemia di RSUD Margono Soekarjo dari bulan April sampai dengan November 2021. Didapatkan sebanyak 78 pasien yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi terdiri dari 43 pasien yang mengalami prehospital delay < 24 jam dan 35 pasien yang mengalami prehospital delay > 24 jam. Hasil analisis bivariat antara prehospital delay dengan derajat kerusakan saraf berdasarkan kriteria NIHSS menunjukkan nilai (p= 0,831 dan r= -0,25) pada pasien stroke iskemia. Tidak terdapat korelasi yang bermakna antara prehospital delay dengan derajat kerusakan saraf pada pasien stroke iskemia dengan kekuatan korelasi yang lemah dan arah korelasi negatif, artinya semakin rendah skor NIHSS semakin lama prehospital delay. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat korelasi prehospital delay dengan derajat kerusakan saraf berdasarkan kriteria NIHSS pada pasien stroke iskemia di RSUD Margono Soekarjo
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN STADIUM PENYAKIT PARKINSON BERDASARKAN KRITERIA HOEHN & YAHR (STUDI PADA PASIEN PARKINSON RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO) Adzra Alifiah; Prasetyo Tri Kuncoro; Tendi Novara
Medical and Health Journal Vol 1 No 2 (2022): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.096 KB) | DOI: 10.20884/1.mhj.2022.1.2.5640

Abstract

Salah satu faktor risiko dari penyakit Parkinson adalah hipertensi, namun apakah hipertensi berhubungan dengan progresivitas penyakit Parkinson masih belum jelas. Kriteria Hoehn & Yahr merupakan salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk menggolongkan progresivitas penyakit Parkinson menjadi 5 stadium. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara hipertensi dengan stadium penyakit Parkinson berdasarkan kriteria Hoehn & Yahr pada pasien Parkinson RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Metode penelitian ini menggunakan design cross-sectional dengan sampel penelitian sebanyak 48 pasien di poli saraf RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Variabel hipertensi diukur pada saat pasien datang ke poli saraf RSUD Margono Soekarjo Purwokerto untuk kontrol penyakit Parkinson dan variabel stadium penyakit Parkinson berdasarkan kriteria Hoehn & Yahr dinilai dengan pengamatan peneliti. Data penelitian dilakukan analisis menggunakan uji Somers’d. Hasil analisis bivariat antara hipertensi dengan stadium Hoehn & Yahr menunjukkan nilai p = 0,517 dan r = -0,084. Artinya tidak terdapat korelasi yang bermakna antara hipertensi dengan stadium penyakit Parkinson berdasarkan kriteria Hoehn & Yahr dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah dan arah korelasi negative. Hal tersebut berarti semakin tinggi stadium hipertensi maka semakin rendah stadium Hoehn & Yahr. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara hipertensi dengan stadium penyakit Parkinson berdasarkan kriteria Hoehn & Yahr.
Levels of Cortisol and Inflammatory Cytokines after The Induction of Various Sleep Deprivation Stress Models in Male Wistar Rats Fitranto Arjadi; Sindhu Wisesa; Nor Sri Inayani; Prasetyo Tri Kuncoro; Catharina Widiartini
Molekul Vol 17 No 3 (2022)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2022.17.3.6218

Abstract

Sleep deprivation (SD) can modulate the production of various cytokines, including pro-inflammatory cytokines such as IL-6, TNF-α, and IFN-γ, and anti-inflammatory cytokines such as IL-10. Paradoxical sleep deprivation (PSD) increases the risk of inflammation but can be relieved by sleep recovery (SR). This study aimed to determine the differences in levels of cortisol and inflammatory cytokines (IL-6, IL-10, TNF-α, dan IFN-γ) in male Wistar rats (Rattus norvegicus) after induction of various sleep deprivation stress models. Twenty-five of male Wistar rats were randomly divided into five groups: control, PSD (20 hours of SD/day for five days), Total Sleep Deprivation or TSD (24 hours of SD/day for five days), PSD+SR (PSD followed by SR), and TSD+SR (TSD followed by SR). The plasma cortisol levels were measured with ELISA, and inflammatory cytokine levels were measured with immunoassay and calculated with fold change. Mean cortisol levels were significantly increased in treatment groups compared to the control group (p=0.029). Multivariate analysis showed no statistically significant difference in inflammatory cytokine levels of IL-6 (p=0.658), IL-10 (p=0.065), TNF-α (p=0.399), and IFN-γ (p=0.283) in all groups. In conclusion, various sleep deprivation stress models affect cortisol levels but not inflammatory cytokine levels of IL-6, IL-10, TNF-α, and IFN-γ among male Wistar rats.