Abstrak Konstruksi sebagai sektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan suatu konsep baru yang lebih adaptif untuk menghadapi tantangan dalam era teknologi dan digital. Keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, rendahnya kualitas dokumen serta lemahnya koordinasi dan pengendalian sumber daya merupakan tantangan yang harus dihadapi ditengah kuatnya persaingan di era pasar bebas. Salah satu faktor yang berkontribusi pada kondisi tersebut adalah belum optimalnya pemahaman dan penerapan area pengetahuan manajemen proyek yang selama ini telah dijadikan rujukan dalam pelaksanaan proyek modern. Terdapat sepuluh area pengetahuan yang secara umum dikenal dan diterapkan dalam pelaksanaan proyek saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi dari tingkat pemahaman dan kinerja sepuluh area pengetahuan dasar manajemen proyek sebagai dasar empiris bagi pengembangan area pengetahuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri konstruksi di Indonesia dengan menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh area yang diuji memiliki kinerja yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kepentingannya dengan kesenjangan tertinggi ada pada area Manajemen Sumber Daya. Analisis kuadran IPA menemukan bahwa area Manajemen Waktu, Kualitas, Komunikasi dan Pengadaan berkinerja baik dan perlu dipertahankan. Sementara itu, Manajemen Risiko dan Pemangku Kepentingan menunjukan kinerja baik namun rendah dalam tingkat kepentingannya, sehingga perlu reposisi strategis untuk meningkatkan pemahaman para pelaku konstruksi tentang aspek penting area tersebut. Temuan ini menegaskan perlunya penyempurnaan kerangka area pengetahuan yang lebih ideal dan adaptif terhadap kondisi ekosistem industri konstruksi di Indonesia. Kata kunci: Manajemen proyek, area pengetahuan, konstruksi, IPA. Abstract Construction industry, significant contributor to national economic growth, requires novel, more adaptable concept to address challenges in technological and digital era. Project delays, cost overruns, substandard document quality, and inadequate coordination and resource control are challenges that must be addressed in the context of intense competition in the era of free markets. One factor contributing to this condition is insufficient understanding and application of project management knowledge areas that have been used as reference in modern project implementation. There are ten areas of knowledge that are generally recognized and applied in current project implementation. The objective of this study is to assess the comprehension and execution of ten fundamental domains of project management knowledge. This empirical investigation will serve as foundation for development of knowledge areas that are more aligned with the needs of construction industry in Indonesia. The study will employ the Importance-Performance Analysis (IPA) method to achieve this objective. Findings indicate that across all domains assessed, performance falls short of their respective importance ratings. The Resource Management domain exhibits the most pronounced disparity. The IPA quadrant analysis revealed that the domains of Time Management, Quality, Communication, and Procurement exhibited strong performance and necessitated preservation. Conversely, Risk Management and Stakeholder Management exhibited commendable performance yet were assigned low importance levels. This necessitated strategic realignment to enhance construction practitioners' comprehension of the pivotal elements within these domains. These findings emphasize the need to refine more ideal and adaptive knowledge area framework for conditions of construction industry ecosystem in Indonesia. Keywords: Project Management, knowledge area, construction, IPA.