Lina Indrawati
STIKes Medistra Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Self Efficacy dalam Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepatuhan Kemoterapi pada Pasien Kanker di RS Hermina Kota Bekasi Lina Indrawati; Kiki Deniati; Dinda Nur Fajri Hidayati Bunga; Erni Kurniasih
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol 5 No 2 (2024): Juni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v5i2.692

Abstract

Pendahuluan: Kejadian kanker meningkat dari tahun ke tahun dan terjadi hampir di seluruh dunia. Kanker menduduki urutan ke dua penyakit terbesar di dunia. Data jumlah penderita kanker di seluruh dunia mencapai 14 juta kasus dengan angka kematian 8,2 juta setiap tahunnya (WHO, 2018). Hasil penelitian Anggarwati (2018) terkait kepatuhan pasien kanker terhadap kemoterapi di RS Lavalette Kota Malang didapatkan bahwa dari 78 responden sebanyak 25 responden dalam kategori kepatuhan sedang dan rendah. Dibutuhkan self-efficacy yang baik dalam berkomunikasi antara perawat dan pasien. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan self-efficacy dalam komunikasi terapeutik dengan kepatuhan pasien kanker menjalani kemoterapi di RS Hermina kota Bekasi. Metode: jenis deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah jumlah pasien kanker yang menjalani kemoterapi dalam waktu 3 bulan terahir dan sesuai dengan kriteri inklusi peneliti sebanyak 103 pasien. Peneliti melakukan pengambilan data pada responden sebanyak 103 responden dengan mengunakan kuesioner self-efficacy dan kepatuhan menjalani kemoterapi. Uji statistic yang digunakan yaitu menggunakan uji Korelasi Chi Square. Hasil: Berdasarkan analisa statistic dengan tingkat signifikasi 95% atau nilai ɑ 5% (0,05) hasil Uji Chi Square diperoleh p – value (0,571) > nilai ɑ (0,05) sehingga dapat di simpulkan dari hasil tersebut H0 diterima tidak ada hubungan Self-efficacy dalam Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepatuhan Kemoterapi pada Pasien Kanker di RS Hermina Kota Bekasi. Kesimpulan: hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat hubungan Self-efficacy dalam komunikasi terapeutik dengan dengan Kepatuhan Kemoterapi pada Pasien Kanker di RS Hermina Kota Bekasi dengan p – value (0,571) > nilai ɑ (0,05).
Rancangan Model Peer Support Family Meeting Program (FMP 2C1S): Upaya Pemulihan Pasien Stroke terhadap Frekuensi Kekambuhan Stroke Berulang Lina Indrawati; Kiki Deniati; Sarita Candra Merida
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53239

Abstract

Kejadian stroke berulang sampai saat ini masih menjadi fokus perhatian pada program rehabilitasi pasien pasca stroke. Tantangan terbesar bagi tenaga kesehatan dengan multidisplin untuk menyadarkan pasien dan keluarga pentingnya informasi mengenai layanan Masyarakat setelah keluar dari perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, dibutuhkan program khusus yang berfokus pada pemulihan pasien dengan pendekatan keluarga melalui model Peer Support- Family Meeting Program (FMP 2C1S) untuk mengurangi dampak komplikasi pasca stroke. Program FMP2C1S ini meliputi counselling, coping skill development dan Stress Management. Tujuan penelitian ini sebagai upaya pemulihan pasien stroke terhadap frekuensi kejadian stroke berulang. Metode Penelitian ini menggunakan quasi experiment with a pre and post without control group dengan tahapan tahapan penelitian sebagai berikut mulai dari identifikasi masalah, membuat rumusan masalah penelitian, penentuan variabel, melakukan studi pustaka dan telaah jurnal, melakukan ethical clearance ini sangat memprihatinkan, merancang intervensi model Program (FMP 2C1S, melakukan reduksi data dan olah data sebelum intervensi dan sesudah intervensi dan penyusunan laporan akhir.Hasil penelitian ini melalui FMP2C1S efektif untuk mengurangi kejadian serangan berulang pasca stroke, membantu pengelolaan emosi dan manajemen stres pada keluarga pasien.
The relationship between nurses’ therapeutic communication and anxiety levels among patients receiving their first chemotherapy session: A cross-sectional study Kiki Deniati; Lina Indrawati; Dinda Indrawati Bunga
Indonesian Nursing Journal Vol. 4 No. 1 (2026): July 2026
Publisher : Politeknik Negeri Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31962/inj.v4i1.3

Abstract

Background: Patients receiving their first chemotherapy session often experience anxiety due to uncertainty about treatment procedures, side effects, and physical changes. Nurses' therapeutic communication is considered an essential intervention to provide emotional support and reduce anxiety. Purpose: This study investigated the relationship between nurses' therapeutic communication and anxiety in patients who received first chemotherapy session. Method: This quantitative cross-sectional study was conducted from August to December 2025. Seventy-five first-time chemotherapy patients were recruited using inclusion and exclusion criteria. Data were collected using a 10-item Therapeutic Communication Questionnaire and the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-square test at p < 0.05. Result: Among 75 patients completed the questionnaire, the findings showed that most respondents experienced high levels of therapeutic communication (76%) and had no anxiety (66.7%). The bivariate analysis demonstrated a significant correlation between therapeutic communication of nurses and anxiety levels among first chemotherapy session patients (p = 0.004). Conclusion: There is a significant relationship between nurses' therapeutic communication and anxiety in first-time chemotherapy patients. Effective therapeutic communication was associated with lower anxiety levels. Strengthening nurses' therapeutic communication skills may serve as an effective strategy to reduce anxiety and support nurse-led consultations prior to first treatment sessions.
Kebiasaan Ngemil, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi pada Remaja Usia 13 – 15 Tahun di Bekasi : Studi Cross Sectional Lisna Nuryanti; Lina Indrawati; Ayunita Lestari
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740308

Abstract

Pendahuluan: Mengkonsumsi cemilan secara umum diartikan sebagai konsumsi makanan dan minuman di antara waktu makan utama. Seringkali ini melibatkan asupan tinggi lemak, gula, dan garam. Makanan ringan menyumbang sekitar 10% dari total asupan energi harian. Ngemil yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup dapat menyebabkan penumpukan energi dalam tubuh dan mempengaruhi status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan jajanan, aktivitas fisik, dan status gizi pada remaja SMP. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Data remaja usia 13 – 15 – tahun (n = 230, 50,9% perempuan) dikumpulkan menggunakan Food Frequencies Questionaire (FFQ), Physical Activity Questionnaire – Adolescent (PAQ – A) dan BMI (Z – Score). Hasil: Penelitian menemukan bahwa sebagian besar remaja memiliki kebiasaan jajan jarang (51,7%) berkategori “jarang”, 54,3% memiliki aktivitas fisik sedang, dan 77% remaja berstatus gizi normal. Analisis chi – square menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi (p value 0,009), sedangkan kebiasaan jajanan tidak ada hubungan dengan status gizi (p – value 0,799). Pembahasan: Kebiasaan jajanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko status gizi kurang optimal. Pentingnya pendidikan gizi yang efektif dan promosi aktivitas fisik secara teratur mungkin merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesehatan remaja.