Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ekpresi Sirt1 pada Karsinoma Payudara Tikus yang Diinduksi Dimethylbenz (α) Anthracene dan Hubungannya dengan Derajat Histologis, Ukuran Tumor serta Ekpresi PCNA Novrita Padauleng; Dewajani Purnomosari; Sri Herwiyanti; Harjadi Harjadi; Irianiwati Irianiwati; Sitarina Widyarini
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.192

Abstract

Latar belakang: Karsinoma payudara terjadi melalui proses kompleks yang melibatkan mutasi serta modifikasi epigenetik. Kontribusi Sirt1 pada modifikasi epigenetik terjadi melalui aktivitas deasetilasi Sirt1 terhadap beberapa gen penekan maupun pemicu pertumbuhan karsinoma, sehingga transkripsi gen-gen tersebut menjadi inaktif. Penelitian ini bertujuan membandingkan ekspresi Sirt1 pada karsinoma payudara tikus yang diinduksi DMBA dengan kelenjar normal, serta melihat ada tidaknya hubungan antara ekspresi Sirt1 dengan derajat histologis, ukuran tumor, dan ekspresi PCNA.Metode: Sebanyak 30 ekor tikus Sprague dawley betina, dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pakan, kontrol vehicle (minyak jagung), dan karsinoma payudara (induksi DMBA). Analisis jaringan payudara menggunakan teknik imunohistokimia untuk protein Sirt1 dan PCNA, serta pengecatan hematoksilin eosin untuk derajat histologis.Hasil: Ekspresi Sirt1 pada karsinoma payudara tikus lebih tinggi secara bermakna dibandingkan ekspresinya di kelenjar payudara normal (26,12 vs 0,05; p=0,004). Ekspresi Sirt1 positif lebih banyak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajat histologis buruk (56,2%), dan tidak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajat histologis baik. Uji statistik menunjukkan hubungan yang sangat bermakna antara ekspresi Sirt1 dengan ukuran tumor (textitp=0,009;r=0,877) dan ekspresi PCNA (p=0,000; r=0,790).Kesimpulan: Protein Sirt1 pada penelitian ini cenderung sebagai pemicu pertumbuhan karsinomapayudara, dan ekspresi Sirt1 positif lebih banyak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajathistologis buruk. Peningkatan ekspresi Sirt1 disertai dengan peningkatan ukuran tumor dan ekspresiPCNA.
The Correlation between BRCA1 Expression and HER2 Status in Breast Cancer Patients in NTB Muhammad Fikri Adidaifa; Rizka Vidya Lestari; Novrita Padauleng; Arif Zuhan
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 4 (2026): in Progress
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i4.11195

Abstract

Breast cancer is a malignancy with high molecular complexity. The expression of the BRCA1 protein, as a tumor suppressor gene, and the HER2 receptor status, as a prognostic and therapeutic target marker, are two important factors in determining cancer subtypes. This study aims to analyze the correlation between BRCA1 Expression and HER2 Status in breast cancer patients in West Nusa Tenggara (NTB), Indonesia. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach, utilizing secondary data from the medical records of breast cancer patients in hospitals in NTB. The study sample consisted of 50 cases that met the inclusion and exclusion criteria. BRCA1 Expression and HER2 Status were determined using Immunohistochemistry (IHC) examination. Data were analyzed using the Lambda correlation test to measure the strength and direction of the relationship between variables. Among the 50 breast cancer patients, 50% showed positive BRCA1 expression and 50% showed positive HER2 status. The Lambda test yielded an Approximate Significance value of 0.125 (p > 0.05), with a Lambda Symmetric coefficient of 0.000. These findings indicate no statistically significant association between BRCA1 expression and HER2 status among breast cancer patients in West Nusa Tenggara (NTB). No statistically significant association was found between BRCA1 expression and HER2 status in breast cancer patients in NTB. However, these findings should be interpreted considering the cross-sectional design, relatively small sample size, and the distinction between BRCA1 protein expression assessed by immunohistochemistry and BRCA1 gene mutation status. This local dataset may provide preliminary information for further genetic and molecular research on the pathogenesis of breast cancer in this region.