Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran burnout dalam menjembatani hubungan antara pengalaman kerja digital, persepsi kesempatan naik kelas, dan work engagement terhadap turnover intention karyawan Generasi Z. Di tengah lingkungan kerja yang serba cepat dan berbasis teknologi, Generasi Z menghadapi tekanan digital yang tidak hanya memengaruhi kinerja, tetapi juga kondisi psikologis dan keputusan karier mereka. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei terhadap karyawan Generasi Z di organisasi berbasis digital. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kerja digital, persepsi kesempatan naik kelas, dan work engagement berpengaruh signifikan terhadap burnout. Selanjutnya, burnout terbukti meningkatkan turnover intention dan berperan sebagai mediator utama dalam hubungan antarvariabel. Temuan ini menegaskan bahwa burnout menjadi faktor kunci dalam menjelaskan kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Implikasi: Secara teoretis, penelitian ini memperkuat integrasi Job Demands–Resources Model dan Conservation of Resources Theory dalam konteks kerja digital. Secara praktis, organisasi perlu menyeimbangkan beban kerja digital, memperjelas pengembangan karier, dan meningkatkan engagement guna menekan burnout. Orisinalitas: Orisinalitas penelitian terletak pada pendekatan integratif antara aspek digital dan psikologis dalam memahami turnover Generasi Z.