Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU DAN MURID DIFABEL DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA SIMPANG 4 KUTACANE ACEH TENGGARA Iriana Putri Anisa; Achiriah Achiriah; Aulia Kamal
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, dan Pendidikan Vol. 2 No. 3 (2023): February
Publisher : Lafadz Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/sibatik.v2i3.690

Abstract

Komunikasi interpersonal adalah pertukaran informasi antara dua orang dengan beberapa efek dan umpan balik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk komunikasi interpersonal yang dilakukan guru terhadap murid difabel serta untuk mengetahui kendala dalam komunikasi interpersonal antara guru dan murid di Sekolah Dasar Luar Biasa Simpang Empat, Kutacane, Aceh Tenggara. Dalam peneltian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, proses komunikasi secara komunikasi interpersonal yang dilakukan dalam dua bentuk, yaitu bentuk komunikasi diadik dan bentuk komunikasi total. Kedua, kendala dalam komunikasi interpersonal yang terjadi adalah sebagai berikut: (1) jumlah guru yang sedikit sehingga proses pembelajaran di dalam kelas harus dilakukan dengan satu guru meskipun memiliki permasalahan anak difabel yang berbeda-beda. Kedua, anak difabel SDLB Simpang Empat Kutacane terkadang susah memahami kalimat panjang. Ketiga, ada beberapa bahasa atau kata yang terkadang sulit untuk dijelaskan dengan bahasa isyarat. Keempat, terkadang menjumpai murid difabel yang moodnya selalu berubah-ubah.
Konseptualisasi Agama dan Implikasinya di Indonesia Aulia Kamal
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.16944

Abstract

This article discusses how the concept of "religion" is conceptualized in Indonesia and its implications. Through literature review, data was collected and analyzed descriptively, and it was found that: First, the term "religion" is conceptually constructed academically based on the World Religion Paradigm (WRP) with Islam as the model and monotheism as the main feature. Politically, the WRP is increasingly hegemonic through Pancasila, and is constructed in accordance with the policy of religious life from the colonial era to the orde New Order (Orde Baru). Thus, the definition and categorization of religion are stricter and more political. Second, this construction has implications for: (1) Monotheism becoming the standard feature of "recognized religion", making it exclusive and discriminatory. (2) In order to be recognized by the state, Hinduism, Buddhism, and Confucianism are forced to monotheize their theological concepts and submit to Pancasila. (3) The government hastily reduces various local practices to "belief systems". (4) Religion becomes the main identity in citizenship, leading to discrimination and stigmatization of believers of faiths. (5) Academically, the WRP also influences the paradigm in the study of religion. This article recommends the need for a re-identification of religious categories academically, outside of political interests. In addition, it is necessary to distinguish native religions from belief systems because even though they are not identical to world religions, they are not as simple as spiritual practices. Abstrak: Artikel ini mendiskusikan bagaimana kata "agama" dikonseptualisasi di Indonesia dan implikasinya. Melalui studi kepustakaan, data dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif, dan ditemukan bahwa: Pertama, kata “agama” secara konseptual dikonstruksi secara akademis berdasarkan paradigma agama dunia (WRP) dengan Islam sebagai model dan monoteistik sebagai fitur utama. Secara politis, WRP semakin hegemonik melalui Pancasila, lalu dikonstruksi seturut kebijakan kehidupan beragama dari masa kolonial hingga Orde Baru. Jadi definisi dan kategori agama lebih ketat dan politis. Kedua, konstruksi ini berimplikasi pada: (1) Monoteistik menjadi ciri standar pengakuan “agama”, sehingga eksklusif dan diskriminatif. (2) Agar diakui negara, Hindu, Budha, dan Konghucu dipaksa untuk memonoteistifikasi konsep teologinya, tunduk kepada Pancasila. (3) Pemerintah secara gegabah mereduksi berbagai praktik lokal ke dalam "aliran kepercayaan". (4) Agama menjadi identitas utama dalam kewarganegaraan, yang mengarah pada diskriminasi dan stigmatisasi penghayat kepercayaan. (5) Secara akademis, WRP juga mempengaruhi paradigma dalam studi agama. Artikel ini merekomendasikan perlunya identifikasi ulang kategori agama secara akademis, di luar kepentingan politik. Selain itu, perlu membedakan agama pribumi dari aliran kepercayaan karena meskipun tidak identik dengan agama dunia, namun ia tidak sesederhana sebagai praktik kebatinan.
Relasi Sosial Etnis Tionghoa-Melayu di Kota Tanjungbalai Pasca Konflik Tahun 2016 Raden Haitami Abduh; Aulia Kamal
Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya Vol 6 No 2 (2023): Islamic Culture
Publisher : LPPM Institut Pesantren KH. Abdul Chalim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/almada.v6i2.3395

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang relasi sosial antar etnis Melayu dan Tionghoa di Kota Tanjungbalai. Relasi sosial antara etnis Melayu dan Tionghoa di Tanjungbalai memiliki dinamika yang menarik pasca konflik 2016. Hampir seluruh konflik yang terjadi di kota Tanjungbalai pasca reformasi banyak melibatkan perselisihan antar etnis khususnya etnis Tionghoa dan Melayu, meskipun banyak konflik yang terjadi bukanlah sepenuhnya berawal dari permasalahan etnis. Studi ini berfokus pada soal bagaimana dinamika relasi sosial antara etnis Melayu dan Tionghoa, sebab pasca reformasi sentimen dan gesekan antar keduanya kerap terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian analisis deskriftif, data dikumpulkan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan data melalui proses wawancara, observasi, dokumentasi dan studi pustaka, dan di analisa menggunakan teori Miles-Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak sekali perubahan yang terjadi dari setiap konflik pasca reformasi. Perubahan yang terlihat jelas adalah perubahan non-realistis, dengan adanya perubahan tersebut, sangat memungkinkan bahwa konflik yang baru dan menimbulkan perang antar etnis kembali terjadi. Apalagi kehidupan sosial antar kedua etnis ini sangatlah terkesan tertutup, artinya mereka bisa untuk tidak saling berkomunikasi, jikapun terjadi komunikasi antara mereka bisa di pastikan sebagian besar komunikasi yang terjadi adalah formalitas semata, karena banyak yang menilai ada eksklusifitas yang terjadi dalam sistem hubungan sosial antar kedua etnis tersebut.
MEDIA INSTAGRAM SEBAGAI AJANG EKSISTENSI DIRI (Studi Kasus pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara) Tria Fricila; Abdul Rasyid; Aulia Kamal
PENDALAS: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 3 (2022)
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam dan Multikultural

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/pendalas.v2i3.183

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri mahasiswa ilmu komunikasi yang menggunakan sosial media instagram yang mengunggah foto dan video di media sosial. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus dimana peneliti akan memberikan pemaparan atau gambaran umum mengenai konsep diri pengguna sosial media instagram yang mengunggah foto dan video di instagram. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Dramaturgi. Pada penelitian ini, peneliti melibatkan 16 informan yang dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian yang menggunakan teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini juga, peneliti melakukan wawancara dan observasi sebagai teknik pengumpulan data dan menggunakan teknik analisis data kualitatif, untuk menyajikan, dan menyimpulkan data yang diperoleh dari hasil wawancara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada ke 16 informan tersebut ditemukan bahwa konsep diri yang terbentuk cenderung positif. Pada saat proses observasi, peneliti juga merasakan hal yang sama dengan informan-informan tersebut. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep diri mahasiswa pengguna sosial media instagram di Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara merupakan konsep diri yang dominan positif.
KONSTRUKSI SOSIAL KEAGAMAAN PEKERJA LADY COMPANION: STUDI PADA REMAJA GENERASI Z DI MARINDAL, DELI SERDANG Nilam Sari; Aulia Kamal
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v9i1.28599

Abstract

The transformation of teenage prostitution through digital platforms has created the Lady Companion (LC) phenomenon involving Generation Z youth in Indonesia. This study aims to analyze the socio-religious construction of LC in Marindal, Deli Serdang, a buffer zone of Medan City, by integrating the dimensions of Islamic religious values within the framework of Berger and Luckmann's (1966) social construction theory. This qualitative research using a case study approach involved eight informants: four adolescent perpetrators of LC aged 16-18, two community members, one community leader, and one religious leader. Data were collected through in-depth interviews and non-participatory observation from July to December 2025, then analyzed using thematic analysis. This study found three things; First, there are four factors driving adolescent involvement in LC; (1) structural factors (weak family supervision); (2) economic factors (survival and consumer pressures); (3) peer influence (in-group recruitment and normalization); (4) and the role of social media (content exposure and transaction facilities). Second, the social construction process takes place through (1) externalization (initial exposure to peers and digital media); (2) objectivation (normalization of LC as a common reality in peer groups); (3) and internalization (acceptance of LC as a self-identity and redefinition of self-esteem, sexuality, and work). Third, Islamic religious values have also experienced a shift from absolute moral norms to secondary ones in the face of economic pragmatism. Theoretically, this study expands the theory of social construction by showing digital media as a dominant agent of externalization in the digital era and integrating the religious dimension in the analysis of social construction. Practically, the findings imply the need for an integrated approach involving strengthening the family economy, digital literacy based on religious values, and revitalization of religious institutions with a contextual approach.