Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Identitas Transgender Sebagai Beauty Influencers di Instagram Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v8i2.10310

Abstract

Peran identitas melalui pemaknaan kata “cantik” antara perempuan dan kelompok transgender memberikan warna baru bagi penelitian tentang gender di Indonesia. Kehadiran kelompok transgender di Indonesia saat ini menuai pengakuan dan penolakan masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa kelompok transgender adalah kelompok yang dianggap sebagai penyakit masyarakat, namun sebagian orang menganggap bahwa kelompok transgender adalah panutan dalam kecantikan. Kecantikan selama ini erat kaitannya dan identik dengan perempuan, namun dalam hal ini erat kaitannya dengan transgender. Di era kemajuan teknologi, komunikasi yang semakin meningkat membuat gerakan kelompok transgender semakin dikenal dan dikenal di masyarakat. Penelitian ini berfokus pada bagaimana identitas transgender sebagai panutan dalam kecantikan ditampilkan melalui media sosial yaitu Instagram. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori identitas, transgender, kecantikan, dan semiotika. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotika. Metode future atau semiotika masa depan dalam kajiannya lebih menitik beratkan pada teori identitas dan melihat bagaimana makna dihasilkan dari sebuah tanda yang dibuat. Hasil dari penelitian ini adalah konsep kecantikan menjadi perdebatan identitas tidak hanya dimana kecantikan tidak lagi dimiliki oleh seorang wanita tetapi juga milik kelompok transgender, selain itu munculnya transgender menjadi role model dalam industri kecantikan ingin mencoba merebut dan bermain dengan identitas yang telah terbentuk. 
STRATEGI KOMUNIKASI PARIWISATA DINAS PARIWISATA KABUPATEN BLITAR DALAM MEMBANGUN BRAND DESTINATION MUSEUM PENATARAN SEBAGAI DESTINASI WISATA Yasinta Citra Dewi Kurniasari; Muchammad Rizqi; Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita
RELASI Vol 6 No 02 (2026): ILMU KOMUNIKASI
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/relasi.v6i02.2772

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan secara mendalam mengenai strategi komunikasi pariwisata yang diimplementasikan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Blitar dalam rangka membangun brand destination Museum Penataran sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang unggul. Meskipun Kabupaten Blitar dianugerahi dengan kekayaan episentrum wisata sejarah yang bernilai sangat tinggi seperti kawasan Penataran, tingkat kunjungan wisatawan ke museum tersebut masih menunjukkan fluktuasi yang tajam dan cenderung mengalami stagnasi dari tahun ke tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk menggali fenomena sosial secara holistik. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi lapangan, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi dengan melibatkan pihak Dinas Pariwisata dan wisatawan. Analisis data menggunakan kerangka Teori Manajemen Kesan (Impression Management) dan konsep Destination Branding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pariwisata dilakukan secara komprehensif melalui perumusan identitas visual daerah "Blitar Land of Kings", penonjolan narasi sakral pelestarian sejarah, serta integrasi berbagai saluran komunikasi untuk mengubah persepsi publik terhadap museum dari sekadar tempat penyimpanan artefak menjadi ruang wisata edukatif yang bermakna.
Gender, Seksualitas dan Kelas dalam Representasi Pekerja Domestik dalam Film Inem Pelayan Seksi (1976) Nara Garini Ayuningrum; Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita; Hajidah Fildzahun Kusnadi Nadhilah Kusnadi
Jurnal Riset Komunikasi Vol 17, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jrk.v17i1.39386

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi pekerja domestik perempuan dalam film Inem Pelayan Seksi (1976) melalui analisis konstruksi gender, seksualitas, dan kelas pada kode visual dan naratifnya. Studi ini bertujuan membongkar bagaimana tubuh perempuan kelas bawah diposisikan sebagai situs erotisasi, evaluasi sosial, dan negosiasi ideologis. Menggunakan semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, mitos) yang dipadukan dengan teori male gaze Laura Mulvey (1975) serta konsep voyeuristic dan narcissistic scopophilia, penelitian ini menganalisis adegan kunci terkait kerja domestik dan ekspos tubuh. Temuan mengungkap tiga pola dominan: (1) erotisasi tubuh pekerja domestik melalui teknik sinematik yang menaturalisasi kesenangan laki-laki; (2) konstruksi agensi yang ambivalen, di mana resistensi Inem tampak asertif namun tetap terkekang struktur patriarki dan kelas; serta (3) mitologisasi moralitas perempuan kelas bawah yang menempatkan mereka sebagai jangkar etis tanpa kekuatan struktural. Hasil ini menunjukkan bagaimana film menjalin-menjemari seksualitas, hirarki kelas, dan kerja domestik ke dalam ekonomi visual yang memperkuat ketimpangan sosio-ekonomi. Secara teoritis, studi ini berkontribusi pada analisis film feminis dengan mengungkap cara sinema populer membentuk pemahaman ideologis feminitas kelas bawah. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya representasi pekerja domestik yang lebih adil dalam media Indonesia.
Optimalisasi Produksi Konten Kreatif Media Sosial sebagai Sarana Promosi Kampung Adat Segunung Carangwulung Jombang Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita; Nara Garini Ayuningrum; Rival Bramasta Arista Putra; Almira Amadea
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Tipis Wiring Vol 2 No 1 (2023): Tepis Wiring: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas Islam Raden Rahmat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/tepiswiring.v2i1.1903

Abstract

Desa Carangwulung memiliki potensi wisata yang sangat banyak mulai dari eduwisata tentang kopi,peras susu sapi , hingga eco wisata karena mata air yang melimpah. Sebagai desa yang memiliki potensi berkembangnya ekonomi kreatif, terdapat salah satu dusun yang menjadi dusun dengan produk yang cukup banyak mulai dari produksi kopi, produk makanan, batik, penginapan, hingga wisata alam yang ditawarkan oleh wisatawan yang hadir. Dusun tersebut adalah Dusun Segunung yang juga terletak di Desa Carangwulung yang kemudian menjadi mitra pada kegiatan pengabdian ini. Namun, terdapat permasalahan yang dialami oleh Dusun tersebut adalah pengembangan dari konten media sosial yang dimiliki. Sedangkan, konten yang dikemas secara kreatif dapat menunjang promosi dan penghasilan dari masyarakat. Dusun Segunung memiliki berbagai media sosial mulai dari Instagram, Facebook, YouTube, dan Tik Tok. Permasalahan selanjutnya adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang penggunaan dan pembuatan konten kreatif berupa (foto dan desain) melalui alat tersebut masih sangat perlu ditingkatkan dan dipelajari oleh masyarakat Kampung. Solusi yang yang dilakukan oleh pengusul adalah membuat sosialisasi, pelatihan serta penadmpingan mulai dari bagaimana memanage sebuah konten, bagaimana memicu ide kreatif, bagaimana memproduk konten mulai dari foto dan desain. Target luaran dalam kegiatan ini adalah pemakalah seminar nasional,artikel media massa, video produk, dan produk digital pada media sosial berupa foto produk dan template design.
Discursive Construction of Digital Economy and Identity in TikTok Live (A Critical Discourse Analysis of Live Tiktok @Hepibor86) Fransisca Benedicta Avira Citra Paramita
Communica : Journal of Communication Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/communica.v4i2.1466

Abstract

This study aims to analyse the discursive constructions of the digital economy and community identity within the Joged Sadbor phenomenon on the TikTok live streams of the @Hepibor86 account. The study employs a qualitative approach using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis. The research corpus consists of publicly accessible TikTok live stream material from January to March 2026, including live clips, five selected screenshots, screen recordings, and traces of audience interaction in the form of comments and virtual gifts. The dataset was purposively limited based on the involvement of community groups in the broadcasts, the intensity of digital economic interactions, the emergence of jargon and recurring communication patterns, and the representation of performance practices relevant to the research focus. Analysis was conducted across three dimensions—text, discursive practices, and social practices—to examine language choices, performance patterns, mechanisms of content production and consumption, and their relationship to the platform’s economic logic. The research findings indicate that Joged Sadbor functions not only as entertainment and a source of additional income, but also as a space for the negotiation of local identity, digital visibility, and collective performativity. The findings also reveal practices of the commodification of the body, entertainment, and empathy, where expressions of local culture are repeatedly displayed to attract the audience’s attention and secure gifts as economic value. Therefore, this phenomenon does not simply supplant traditional cultural values, but rather reflects a shift in meaning, an adaptation of cultural practices, and the monetization of local expressions within TikTok’s attention economy.