Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT PAPARAN TOLUEN Alvin Mohamad Ridwan; Ade Dwi Lestari
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15096

Abstract

Gangguan pendengaran umumnya dikaitkan dengan penuaan, paparan kebisingan, trauma kepala, dan obat-obatan ototoksik. Tetapi semakin banyak bukti yang juga menghubungkan gangguan pendengaran dengan paparan bahan kimia di lingkungan kerja. Pekerja ditempat percetakan mempunyai risiko tinggi terkena gangguan pendengaran dalam pekerjaannya, hal ini disebabkan zat Toluene yang memiliki efek neurotoksik yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran hingga tuli. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa paparan toluene dan bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Kombinasi pelarut kimia ototoksik dan juga bising dapat memperburuk gangguan pendengaran. Gangguan tersebut menyebabkan kerusakan pada outer hair cell pada organ corti, sehingga menyebabkan tuli sensorineural , paparan toluene sendiri juga dapat menyebabkan gangguan pada Susunan Saraf Pusat, Sistem Pernafasan dan lain-lain. Pasien yang mengalami tuli sensorineural memerlukan penanganan perhatian khusus dikarenakan mempunyai prognosis yang buruk dalam perbaikan maupun kekambuhannya. Tatalaksana yang diberikan mungkin dapat mencegah atau menghambat perburukan namun tidak memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT PAPARAN TOLUEN Alvin Mohamad Ridwan; Ade Dwi Lestari
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15096

Abstract

Gangguan pendengaran umumnya dikaitkan dengan penuaan, paparan kebisingan, trauma kepala, dan obat-obatan ototoksik. Tetapi semakin banyak bukti yang juga menghubungkan gangguan pendengaran dengan paparan bahan kimia di lingkungan kerja. Pekerja ditempat percetakan mempunyai risiko tinggi terkena gangguan pendengaran dalam pekerjaannya, hal ini disebabkan zat Toluene yang memiliki efek neurotoksik yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran hingga tuli. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa paparan toluene dan bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Kombinasi pelarut kimia ototoksik dan juga bising dapat memperburuk gangguan pendengaran. Gangguan tersebut menyebabkan kerusakan pada outer hair cell pada organ corti, sehingga menyebabkan tuli sensorineural , paparan toluene sendiri juga dapat menyebabkan gangguan pada Susunan Saraf Pusat, Sistem Pernafasan dan lain-lain. Pasien yang mengalami tuli sensorineural memerlukan penanganan perhatian khusus dikarenakan mempunyai prognosis yang buruk dalam perbaikan maupun kekambuhannya. Tatalaksana yang diberikan mungkin dapat mencegah atau menghambat perburukan namun tidak memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT PAPARAN TOLUEN Alvin Mohamad Ridwan; Ade Dwi Lestari
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i1.15096

Abstract

Gangguan pendengaran umumnya dikaitkan dengan penuaan, paparan kebisingan, trauma kepala, dan obat-obatan ototoksik. Tetapi semakin banyak bukti yang juga menghubungkan gangguan pendengaran dengan paparan bahan kimia di lingkungan kerja. Pekerja ditempat percetakan mempunyai risiko tinggi terkena gangguan pendengaran dalam pekerjaannya, hal ini disebabkan zat Toluene yang memiliki efek neurotoksik yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran hingga tuli. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa paparan toluene dan bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Kombinasi pelarut kimia ototoksik dan juga bising dapat memperburuk gangguan pendengaran. Gangguan tersebut menyebabkan kerusakan pada outer hair cell pada organ corti, sehingga menyebabkan tuli sensorineural , paparan toluene sendiri juga dapat menyebabkan gangguan pada Susunan Saraf Pusat, Sistem Pernafasan dan lain-lain. Pasien yang mengalami tuli sensorineural memerlukan penanganan perhatian khusus dikarenakan mempunyai prognosis yang buruk dalam perbaikan maupun kekambuhannya. Tatalaksana yang diberikan mungkin dapat mencegah atau menghambat perburukan namun tidak memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi
Pengaruh Kinerja Lingkungan, Penerapan Green Accounting, dan Pengungkapan Sustainability Report Terhadap Nilai Perusahaan Ade Dwi Lestari; Khomsiyah
Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (JEBMA) Vol. 3 No. 3 (2023): Artikel Riset Volume 3 Issue 3, November 2023
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jebma.v3i3.2799

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Kinerja Lingkungan yang diukur menggunakan peringkat PROPER, penerapan Green Accounting yang diukur dengan biaya lingkungan dan laba bersih, serta pengungkapan Sustainability Report yang diukur dengan standard GRI (Global Reporting Initiative) terhadap Nilai Perusahaan. Nilai perusahaan diukur dengan Tobin’s Q. Sampel dalam penelitian yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel kriteria tertentu adalah perusahaan peserta PROPER yang terdaftar di BEI sepanjang tahun 2019-2022. Metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Hasil dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa Kinerja Lingkungan, Penerapan Green Accounting, dan Pengungkapan Sustainability Report berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi perusahaan dalam menerapkan kinerja lingkungan dan green accounting serta dapat mengungkapkan sustainability report sesuai dengan standar untuk meningkatkan kepentingan lingkungan hidup.
Stress and Traumatic Related Disorder pada Konten Moderator: Tinjauan Pustaka Muhammad Izehaga SJ; Klara Devina V; Ade Dwi Lestari; Alvin Mohamad Ridwan; Daniella Satyasari
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 01 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i01.88

Abstract

Peningkatan insiden gangguan mental terkait stres dan trauma di antara pekerja konten moderator kini semakin diakui sebagai isu kesehatan mental yang penting. Tugas yang meliputi penyaringan dan penghapusan konten yang tidak sesuai atau melanggar norma komunitas sering kali dilakukan dalam kondisi yang tidak terlihat oleh publik karena sifat pekerjaan mereka yang sensitif. Paparan berulang terhadap materi yang mengganggu secara psikologis ini merupakan salah satu bahaya psikososial yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja, berupa masalah kesehatan mental, termasuk trauma and stressor-related disorder. Realitas ini menyoroti kebutuhan akan pendekatan yang lebih berorientasi pada kemanusiaan dalam mengelola pekerjaan ini, serta pentingnya strategi pendukung untuk meminimalisir risiko gangguan kesehatan mental mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak kesehatan mental, terutama gangguan terkait trauma dan stres, pada konten moderator, suatu profesi yang seringkali tersembunyi dari perhatian publik. Peneliti melakukan tinjauan literatur berdasarkan relevansi topik ini. Semua basis data dicari melalui Google Scholar, PubMed, dan ResearchGate dengan menggunakan kata kunci Stress and traumatic related disorder pada konten moderator. Hasil dari penelitian ini menunjukkan prevalensi yang signifikan dari gangguan mental ini di kalangan pekerja, namun masih terdapat kekurangan dalam penelitian yang lebih mendalam dan luas mengenai topik ini. Kombinasi psikoterapi dan antidepresan golongan SSRI bisa menjadi pilihan utama untuk menatalaksana kasus trauma and stressor-related disorder pada konten moderator.
Correlation between COHb, HIF-1α levels, and smoking habits with physical fatigue in online motorcycle taxi drivers Magdalena Wartono; Diana Samara Tjam; Ade Dwi Lestari; Adrianus Kosasih; Novendy Novendy
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 58 No 1 (2026)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v58i1.23175

Abstract

Online motorcycle taxi drivers have varying working hours and rest periods which can influence the occurrence of fatigue among them. Additionally, working on the road made them exposed to air pollution, including carbon monoxide. Several studies have reported a relationship between carbon monoxide and fatigue levels in specific types of occupations. Therefore, the aim of this study is to determine the correlation between smoking habits, occupational factors, carboxyhemoglobin (COHb) levels, and work fatigue, as well as the correlation between hypoxia inducible factor 1-alpha (HIF-1α) and COHb levels. Demographic characteristics, smoking habits, and occupational factors were measured using a questionnaire. COHb and HIF-1α levels were measured through blood biomarker examinations, while fatigue levels were assessed using the IFRC questionnaire. Data analysis was conducted using Spearman correlation tests in the SPSS program. The results showed that majority of respondents were male (87%), with the highest age range being 19-44 yr (85.5%). More than 50% of respondents were classified as overweight or obese. The majority of them were light smokers (78.3%). Most respondents had normal COHb levels, and in terms of fatigue levels, a larger proportion experienced mild fatigue (66.7%). No correlation between COHb levels, smoking habits, occupational factors, and fatigue levels as well as between HIF-1α and COHb levels (p>0.05). In conclusion, no correlation is found between COHb levels, smoking habits, occupational factors, and fatigue levels. Similarly, there is no correlation between HIF-1α and COHb levels.
Edukasi Pencegahan Penyakit Menular dan Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan Pasca Banjir di Pangkalan Mansyur, Medan Johor Nany Hairunisa; Husnun Amalia; Ade Dwi Lestari; Laila Musfirah; Nabila Nur Karimah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 4: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joong-ki.v5i4.18186

Abstract

Banjir meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, leptospirosis, dan demam berdarah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pencegahan penyakit menular pascabanjir dan mendorong perubahan perilaku higienis di tingkat keluarga. Metode pada kegiatan ini meliputi metode penyuluhan serta tes berupa pre-test dan post-test. Hasil: Kegiatan penyuluhan ini diikuti oleh 60 peserta, dengan mayoritas peserta perempuan sebanyak 78% dan berumur dewasa 19–45 tahun sebanyak 60%. Pada hasil pretest didapatkan mayoritas peserta memiliki pengetahuan kurang sebanyak 85%, tetapi setelah dilakukan penyuluhan dan diberikan post-test, ternyata yang memiliki pengetahuan kurang menjadi 30%. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat berkontribusi pada pembentukan komunitas yang lebih tangguh dan sehat dalam menghadapi banjir berikutnya.
Penyuluhan Pentingnya Penggunaan Alat Pelindung diri (APD) bagi Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Alvin Mohamad Ridwan; Ade Dwi Lestari; Nany Hairunisa; Dwi Agustawan Nugroho; Alusius Aditya Ramawijaya
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 4: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joong-ki.v5i4.20516

Abstract

Abstract: Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) menghadapi risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akibat paparan langsung sampah, benda tajam, zat kimia, serta potensi bahaya lalu lintas. Meskipun memiliki tingkat risiko lingkungan yang tinggi, tingkat kesadaran dan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD )sering kali masih minim. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepatuhan pekerja PPSU mengenai pentingnya penggunaan APD standar. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi edukasi interaktif terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), demonstrasi serta praktik pemakaian APD yang benar, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Evaluasi ini diikuti oleh 32 peserta, dengan mayoritas peserta laki-laki sebanyak 78.2% dan berumur dewasa 19–45 tahun sebanyak 93.8%. Pada hasil pretest didapatkan mayoritas peserta memiliki pengetahuan kurang sebanyak 15.6%, tetapi setelah dilakukan penyuluhan dan diberikan post-test, ternyata yang memiliki pengetahuan kurang menjadi 3.1%. Kegiatan ini berhasil mengubah persepsi pekerja lapangan terhadap keselamatan diri dan memicu komitmen penggunaan APD dalam aktivitas sehari-hari. Kesimpulannya, edukasi dan pemenuhan fasilitas APD secara berkala merupakan langkah krusial untuk membangun budaya kerja aman serta menekan angka kecelakaan kerja pada sektor pelayanan publik. Luaran kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini adalah hak cipta, artikel, bahan ajar berupa materi presentasi dan poster
STUDI KASUS PTERIGIUM PADA PEKERJA ADMINISTRASI PERUSAHAN PERTAMBANGAN Melani Gozali; Adriani Litanti; Ade Dwi Lestari
Jurnal Akta Trimedika Vol. 1 No. 3 (2024): Juli 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v1i3.20655

Abstract

Pterygium is an eye condition characterized by the growth of fibrous vascular tissue extending from the conjunctiva to the cornea. Various environmental factors such as dust, UV exposure, and dry air contribute to its development. A 33-year-old male worker at a mining company presented with complaints of red eyes for the past six months. The clinical diagnosis of the patient was bilateral pterygium. The patient has worked for 11 years as an administrative officer at a dusty coal mining company, but UV exposure during work trips without eye protection, computer exposure, and air conditioning are more significant for this worker. Based on the 7-step occupational diagnosis, it was concluded that the pterygium is not directly related to his job. Control measures need to be implemented to reduce further risk.
STUDI KASUS HERNIA NUKLEUS PULPOSUS TORAKAL PADA PETUGAS PENGANTAR GALON AIR MINUM Audira Syafana Khadijah; Aurel Diffa Arpy; Ade Dwi Lestari
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26672

Abstract

Herniated Nucleus Pulposus (HNP) is a pathological condition characterized by protrusion of the nucleus pulposus through the annulus fibrosus, resulting in compression of adjacent neural structures and causing back pain and neurological deficits. In the occupational setting, HNP is frequently associated with physically demanding jobs involving repetitive manual handling of heavy loads. Drinking water gallon delivery workers are exposed to a high risk of HNP due to repetitive lifting of loads weighing approximately 19 kg. Non-ergonomic lifting techniques, including bending and twisting movements, increase mechanical stress on the intervertebral discs and may accelerate disc degeneration and herniation. This case report aims to describe the clinical presentation and diagnosis of occupational thoracic HNP in a drinking water gallon delivery worker, identify contributing occupational risk factors, and propose preventive and control measures from an occupational health perspective. The case involved a 44-year-old male drinking water gallon delivery worker diagnosed with thoracic HNP. Evaluation was conducted using the seven-step approach for diagnosing occupational diseases, including medical history taking, physical examination, and assessment of occupational and ergonomic exposures. The patient presented with bilateral lower back pain accompanied by weakness and inability to move both lower extremities. He routinely performed manual lifting of drinking water gallons without the use of assistive devices such as a trolley. Repetitive heavy lifting, improper lifting techniques, non-ergonomic working postures, prolonged working hours, and long-term occupational exposure were identified as the primary contributing factors. Based on the clinical and occupational evaluation, the condition was diagnosed as work-related thoracic HNP. Thoracic HNP in drinking water gallon delivery workers is strongly associated with ergonomic hazards, particularly repetitive manual lifting, prolonged exposure duration, and non-ergonomic working postures. Early diagnosis and appropriate management are essential to prevent disease progression and disability. The implementation of ergonomic interventions, use of assistive devices, and worker education are important preventive strategies.