Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

USE OF GLUE VALUE AT RISK FOR OPTIMAL PORTFOLIO RISK MEASUREMENT WITH THE SINGLE INDEX MODEL METHOD Rafni, Turnika Afdatul; Agustina, Dina
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan Vol 20 No 2 (2026): BAREKENG: Journal of Mathematics and Its Application
Publisher : PATTIMURA UNIVERSITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/barekengvol20iss2pp1251-1262

Abstract

Creating an optimal portfolio and measuring risk are ways that can be used to reduce losses and maximize returns in an investment. In this study, the optimal portfolio is formed using the Single Index Model method, which assumes stock returns are influenced only by market returns. The stocks used are stocks that are consistently included in the IDX30 index during the period October 24, 2022-October 25, 2024 and provide positive expected returns, so that based on the Single Index Model method, 5 stocks are included in the optimal portfolio with the proportion of each stock as follows, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 30%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 8%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 35%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)17%, and PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 10%. The risk of the optimal portfolio can be calculated using the Glue Value at Risk method, which provides a more accurate and coherent measure of risk. In this study with a confidence level of and and used a high distortion function and , the Glue Value at Risk amount for the optimal portfolio was obtained at Rp1,996,926. The backtesting results show that Glue Value at Risk provides valid and accurate results for measuring risk at this level of confidence.
Kelayakan Usahatani Melon Inthanon Dengan Sistem Hidroponik Nft Di Pondok Pesantren Manahijul Huda Kabupaten Tasikmalaya Mugis, Dadun Abdul; Agustina, Dina
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH Vol 13, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jimag.v13i1.22867

Abstract

Produksi tanaman buah dapat dilakukan di berbagai wilayah Indonesia dengan media tanam yang sesuai untuk tanaman melon. Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan luas untuk mengembangkan produk pertanian.Salah satu tanaman buah yang banyak diminati oleh masyarakat disana yaitu melon. Pondok pesantren Manahijul huda mengembangkan inovasi berupa budidaya tanaman melon dengan sistem green house. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui analisis kelayakan finansial budidaya melon sistem greenhouse di Pondok Pesantren Manahijul Huda. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Manahijul Huda. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan metode kuantitatif. Sampel yang digunakan yaitu 300 tanaman melon Hidroponik yang ada di Green House Pesantren Manahijul Huda. Berdasarkan hasil analisis, melon yang dhasilkan sebanyak 463 Kg dengan keuntungan bersih sebesar Rp 5.836.696. Adapun R/C rationya yaitu 1,8. Sedangkan BEP unitnya yaitu 2.646 Kg dan BEP rupiahnya yaitu Rp 74.095.795.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP pada Materi Bilangan Bulat ditinjau dari Gaya Belajar Auditori Agustina, Dina; Setiani, Ana; Saefuloh, Nandang Arif
Jurnal PEKA (Pendidikan Matematika) Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal PEKA (Pendidikan Matematika)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37150/t6k47531

Abstract

ABSTRACT: This study aims to investigate students’ mathematical communication skills based on their learning styles. The research adopts a qualitative approach with a case study design. The subjects of this study were nine 7th-grade junior high school students, selected through purposive sampling. Data collection techniques included test instruments (a learning style questionnaire and mathematical communication skill test sheets) and non-test instruments (interviews). Based on the result and discussion, the findings of the study show that students with a visual learning style experience difficulties when the learning process relies solely on lecture-based methods. These students also tend to feel nervous when asked to explain or present their work, and their mathematical communication skills fall into the moderate category. Students with an auditory learning style tend to lose focus due to frequent noise during task completion. However, they are more confident when explaining or presenting the results of their work, placing them in the high category. Students with a kinesthetic learning style prefer hands-on activities using learning aids or studying outdoors. However, they often lack confidence and feel very nervous during presentations, resulting in their mathematical communication skills being classified in the low category.   ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa yang ditinjau dari gaya belajar. Metode yang digunakan yaitu metode pendekatan kualitatif. Desain penelitian yang digunakan yaitu   studi kasus. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 9 siswa SMP kelas VII dan teknik pengambilan subjek tersebut menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu instrumen tes (angket gaya belajar dan lembar soal kemampuan komunikasi matematis) dan instrumen non tes (wawancara). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, hasil dari penelitian tersebut adalah siswa dengan gaya belajar visual itu memiliki kesulitan disaat pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah saja dan siswa tersebut merasa gugup saat melakukan penjelasan ulang dan siswa dengan gaya belajar visual berada di kategori sedang, siswa dengan gaya belajar auditori merasa kehilangan fokus karena selalu berisik pada saat mengerjakan soal dan siswa dengan gaya belajar auditori lebih percaya diri ketika melakukan penjelasan ulang atau presentasi hasil pengerjaannya sehingga gaya belajar auditori ada pada kategori tinggi, siswa dengan gaya belajar kinestetik yaitu siswa yang ketika belajar itu selalu ingin praktek menggunakan alat peraga atau belajar di luar ruangan namun ketika melakukan presentasi siswa dengan gaya belajar kinestetik merasa tidak percaya diri dan sangat gugup sehingga gaya belajar kinestetik ada pada kategori rendah.