Ira Suwitomo Putri
Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Praktik Bahasa Roh Membangun Diri Sendiri Menurut I Korintus 14:4 Sebagai Upaya Mengendalikan Emosi Ira Suwitomo Putri; Joseph Christ Santo; Joko Sembodo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam hidup bermasyarakat yang sangat beragam, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi secara benar.  Namun pada praktiknya, banyak yang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya. Sebenarnya Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mereka dapat mengendalikan emosi, karena Allah juga yang menciptakan emosi tersebut untuk kepentingan manusia. Dalam I Korintus 14:4 Rasul Paulus membahas tentang bahasa roh di mana fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri, termasuk di dalamnya menjadi orang yang dapat mengendalikan emosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktik bahasa roh membangun diri sebagai upaya mengendalikan emosi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana penulis mewawancarai 10 partisipan yang adalah aktivis GBIS Kepunton, Surakarta, dengan batas usia 25 sampai 75 tahun. Hasil dari penelitian yang didapat cukup bervariatif dan menunjukkan adanya praktik bahasa roh membangun diri dalam konteks I Korintus 14:4 yang dapat difungsikan sebagai pengendalian emosi untuk jemaat Tuhan. 
Perselisihan Paulus dan Barnabas: Tanda Gereja yang Hidup dan Berpikir Ira Suwitomo Putri; Asih Rachmani Endang Sumiwi
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1195

Abstract

Paul and Barnabas were central figures in the spread of the gospel in the early church, but their partnership was marred by a sharp dispute over John Mark's participation in the second missionary journey. This article aims to revisit the conflict from a progressive perspective, arguing that it is not a failure of ministry, but a reflection of a church that is alive and has the ability to think critically for the sake of common progress. This study uses a historical-descriptive analysis method with an exegetical approach to trace the roots of the conflict and the reasons behind the decisions of the two figures. The analysis shows that the tensions that occurred were rooted in differences in strategic considerations: Paul emphasized full commitment and mission effectiveness, while Barnabas emphasized the value of grace, forgiveness, and a second chance for individual recovery. The separation that occurred eventually became a "win-win solution" that actually accelerated the expansion of the reach of the gospel ministry to a wider area. This article concludes that strife is a natural part of human life and the church; For the Church today, disputes do not need to be avoided, but can be an instrument to mature character and expand the capacity of ministry, provided it is managed with spiritual maturity and openness in opinion.   Paulus dan Barnabas merupakan tokoh sentral dalam penyebaran Injil pada masa jemaat mula-mula, namun kemitraan mereka diwarnai oleh perselisihan tajam mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan misi kedua. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali perselisihan tersebut dari sudut pandang progresif, dengan mengajukan argumen bahwa konflik tersebut bukan merupakan kegagalan pelayanan, melainkan cerminan dari gereja yang hidup dan memiliki kemampuan berpikir kritis demi kemajuan bersama. Penelitian ini menggunakan metode analisis historis-deskriptif dengan pendekatan eksegetis untuk menelusuri akar konflik serta alasan di balik keputusan kedua tokoh tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi berakar pada perbedaan pertimbangan strategis: Paulus menitikberatkan pada komitmen penuh dan efektivitas misi, sementara Barnabas mengedepankan nilai anugerah, pengampunan, dan kesempatan kedua bagi pemulihan individu. Perpisahan yang terjadi akhirnya menjadi "win-win solution" yang justru mempercepat perluasan jangkauan pelayanan Injil ke wilayah yang lebih luas. Artikel ini menyimpulkan bahwa perselisihan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia dan gereja; bagi gereja masa kini, perselisihan tidak perlu dihindari, melainkan dapat menjadi instrumen untuk mematangkan karakter dan memperluas kapasitas pelayanan, asalkan dikelola dengan kedewasaan rohani dan keterbukaan dalam berpendapat.