Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Penerapan Teknologi Fermentasi Cuka Kulit Semangka untuk Mengatasi Permasalahan Limbah dan Kesehatan di Wilayah Pasar Induk Caringin Patricia Gita Naully; Perdina Nursidika; Prina Puspa Kania; Firdha Rachmawati; Taufik Gunawan
Wikrama Parahita : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/jpmwp.v7i1.5405

Abstract

Penumpukan limbah kulit semangka di Pasar Caringin memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat di Kelurahan Babakan Ciparay. Limbah tersebut sebenarnya dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat seperti cuka dengan teknik fermentasi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di Kelurahan Babakan Ciparay tentang teknologi fermentasi dan kemampuan untuk mengolah limbah kulit semangka yang ada di Pasar Caringin menjadi cuka. Kegiatan ini dilakukan di aula Kelurahan Babakan Ciparay dan melibatkan 50 orang ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan terbagi menjadi dua sesi, yaitu penyuluhan teknik fermentasi dan pelatihan pembuatan cuka kulit semangka. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa peserta dapat memahami materi yang disampaikan. Peserta juga berhasil membuat cuka kulit semangka yang aroma dan rasanya mirip dengan cuka apel. Berdasarkan hasil yang telah dicapai, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan ibu-ibu PKK di Kelurahan Babakan Ciparay untuk mengolah limbah kulit semangka menjadi cuka. Dengan pengetahuan dan kemampuan tersebut, ibu-ibu PKK dapat membantu mengatasi penumpukan limbah kulit semangka di Pasar Caringin dan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kesehatan serta berpotensi memiliki nilai ekonomis.
Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Guna Mengurangi Kasus Demam Tifoid di Pondok Pesantren Patricia Gita Naully; Fiorida Mathilda; Fiorida Mathilda
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Januari 2023 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/altifani.v3i1.332

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi penularan demam tifoid adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku tersebut sering kali tidak diterapkan oleh para santri yang tinggal di pondok pesantren. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa 44% santri di pondok pesantren Al-Jawami pernah mengalami demam tifoid. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan PHBS para santri di pondok pesantren Al-Jawami. Edukasi PHBS dilakukan pada bulan Maret 2022 dan diikuti oleh 50 orang peserta. Materi disampaikan dengan media powerpoint dan poster. Kegiatan dievaluasi dengan metode tes dan kuesioner.  Hasil tes menunjukkan nilai rata-rata tes akhir peserta lebih tinggi 35 poin dibanding tes awal. Hasil kuesioner juga menunjukkan bahwa seluruh peserta paham terhadap materi yang telah disampaikan dan merasakan kebermanfaatan dari kegiatan ini. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi PHBS berhasil dilakukan dan dapat meningkatkan pengetahuan para santri tentang penyebab, gejala dan penularan demam tifoid serta PHBS sebagai upaya pencegahan demam tifoid.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMBENTUKAN IgG ANTI-SARS-CoV-2 PASCAVAKSINASI CoronaVac PADA MASYARAKAT KOTA CIMAHI Patricia Gita Naully; Firdha Rachmawati; R. Noucie Septriliyana
Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.010.01.1

Abstract

Pemerintah Indonesia mewajibkan seluruh masyarakat termasuk penduduk kota Cimahi untuk melakukan vaksinasi dalam menurunkan angka kasus COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Respons imun pascavaksinasi dapat dipengaruhi oleh usia, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh usia, jenis kelamin, pekerjaan, IMT, riwayat infeksi, durasi vaksinasi, kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) dan pola hidup terhadap pembentukan IgG anti-SARS-CoV-2 pascavaksinasi CoronaVac pada masyarakat Kota Cimahi. Sampel yang digunakan adalah 83 orang warga Kota Cimahi yang sudah mendapatkan vaksinasi CoronaVac dosis kedua. Titer IgG anti-SARS-CoV-2 dalam serum diukur menggunakan metode ELISA kuantitatif jenis sandwich. Data dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil menunjukkan bahwa kenaikan usia sebesar satu tahun menurunkan titer IgG anti-SARS-CoV-2 sebesar 0,08 U/ml. Kenaikan IMT sebesar satu poin menurunkan titer sebesar 0,2 U/ml. Riwayat infeksi meningkatkan titer sebesar 1,96 U/ml. Kenaikan durasi vaksinasi sebesar satu bulan menurunkan titer sebanyak 2,85 U/ml. Rutin berolah raga, mengonsumsi protein, vitamin C, dan D meningkatkan titer sebesar 0,88 U/ml, 0,68 U/ml, 0,17 U/ml, dan 0,34 U/ml. Usia, IMT, riwayat infeksi, durasi vaksinasi, dan pola hidup yang baik memiliki p-value ≤ 0,05. Dapat disimpulkan bahwa usia, IMT, riwayat infeksi, durasi vaksinasi, dan pola hidup yang baik memberikan pengaruh signifikan, sedangkan jenis kelamin, pekerjaan, dan KIPI tidak berpengaruh terhadap pembentukan IgG anti-SARS-CoV-2 pascavaksinasi CoronaVac pada sampel penelitian.
Perilaku Seksual sebagai Faktor Risiko Infeksi Human Immunodefiency Virus, Hepatitis B Virus dan Treponema pallidum pada Mahasiswa Syafaatulhakim, Nuraisyah; Dewi, Karina Puspita; Permatasari, Dewi Shinta; Putra, Husni Ramadhan; Suryadi, Nadya Marshanda; Salsabila, Amalia; Rachmawati, Firdha; Naully, Patricia Gita
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16121

Abstract

Sexually transmitted infections (STIs) that often occur in Indonesian society are Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS, Hepatitis B, Treponema pallidum (silifis) and others. College students are susceptible to STIs due to risky behavior, but information on prevalence and analysis of factors related to STIs is still limited. Therefore, the purpose of this study was to analyze factors related to HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections that occur in college students in Cimahi City. The study sample was 70 students selected using the quota technique. Anti-HIV, HBsAg, and anti-Treponema pallidum examinations were carried out using the immunochromatography method; while STI-related factors were measured by filling out a questionnaire and then conducting a Chi-square test. The results of the examination showed that one student was positive for anti-HIV, three students were positive for HBsAg, and two students were positive for anti-Treponema pallidum. The lifestyle of students had a significant effect on the prevalence of HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections such as premarital sex, changing sexual partners, and oral and anal sex with a p value <0.05. The prevalence of HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections in students in Cimahi City is 1.4% infected with HIV, 4.3% infected with Hepatitis B, and 2.8% infected with T. pallidum. The cases of the three sexual infections were influenced by several factors including lifestyle such as having oral and anal sex, changing sexual partners, and wearing piercings.Keywords: sexually transmitted infections; HIV; hepatitis B; syphilis; students ABSTRAK Kasus infeksi menular seksual (IMS) yang sering terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS, Hepatitis B, Treponema pallidum (silifis) dan lain-lain. Mahasiswa rentan terhadap IMS akibat perilaku berisiko, namun informasi prevalensi dan analisis faktor yang berhubungan dengan IMS masih terbatas. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum yang terjadi pada mahasiswa di Kota Cimahi. Sampel penelitian adalah 70 mahasiswa yang dipilih dengan teknik kuota. Pemeriksaan anti-HIV, HBsAg, dan anti-Treponema pallidum dilakukan menggunakan metode immunocromatography; sedangkan faktor terkait IMS diukur melalui pengisian kuesioner dan selanjutnya dilakukan uji Chi-square. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa satu mahasiswa positif anti-HIV, tiga mahasiswa positif HBsAg, dan dua mahasiswa positif anti-Treponema pallidum. Gaya hidup mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap prevalensi infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum seperti hubungan seksual pra-nikah, berganti-ganti pasangan seksual, dan seksual secara oral dan anal dengan nilai p <0,05. Prevalensi kasus infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum pada mahasiswa di Kota Cimahi adalah 1,4% terinfeksi HIV, 4,3% terinfeksi Hepatitis B, dan 2,8% terinfeksi T. pallidum. Kasus ketiga infeksi seksual tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain gaya hidup seperti melakukan hubungan seksual secara oral dan anal, berganti-ganti pasangan seksual, juga memakai tindik.Kata kunci: infeksi menular seksual; HIV; hepatitis B; sifilis; mahasiswa 
Aktivitas Antibakteri Minuman Fermentasi Tepache Terhadap Proteus mirabilis dan Staphylococcus aureus Penyebab Infeksi Saluran Kemih Tiara, Anggi; Yulianti, Melinda; Carissa, Respati Putri; Pasha, Salsya Islami; Wuladari, Novita; Amanda, Seprida Mega; Rachmawati, Firdha; Naully, Patricia Gita
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16205

Abstract

Urinary tract infections can be caused by several types of bacteria, including Proteus mirabilis and Staphylococcus aureus. Urinary tract infections caused by these two bacteria can be treated with antibacterials such as penicillin, methicillin, or ampicillin, which often cause resistance, so alternative antibacterial compounds derived from natural ingredients are needed. Tepache is a prehistoric Mexican fermented drink usually made from pineapple peel. Several studies have reported that Tepache contains probiotics and can inhibit the growth of Escherichia coli. The purpose of this study was to make a Tepache drink and test its antibacterial activity against P. mirabilis and S. aureus bacteria. This study began with the fermentation of Tepache for 10 days. The antibacterial activity of Tepache against P. mirabilis and S. aureus bacteria was tested using the diffusion method, by comparing concentrations of 15%, 25%, 50% and 100%. The results showed that tepache fermentation was successful with a final pH of 3. Tepache with various concentrations of 15%, 25%, 50%, and 100% produced inhibition zones for P. mirabilis and S. aureus. Tepache with a concentration of 100% produced the largest inhibition zones, namely 12.75 mm for P. mirabilis and 13.5 mm for S. aureus. Therefore, it can be concluded that tepache has antibacterial activity at an optimum concentration of 100%.Keywords: antibacterial; tepache; Proteus mirabilis; Staphylococcus aureus ABSTRAK Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri antara lain Proteus mirabilis dan Staphylococcus aureus. Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh kedua bakteri tersebut dapat diobati dengan antibakteri seperti penisilin, metisilin, atau ampisilin, yang sering menyebabkan resistensi, sehingga dibutuhkan senyawa antibakteri alternatif yang berasal dari bahan alami. Tepache adalah minuman fermentasi pra-sejarah Meksiko yang biasanya dibuat dari kulit nanas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa Tepache mengandung probiotik dan dapat menghambat pertumbuhan Eschericia coli. Tujuan penelitian ini adalah membuat minuman Tepache dan menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri P. mirabilis dan S. aureus. Penelitian ini diawali dengan fermentasi Tepache selama 10 hari. Aktivitas antibakteri Tepache terhadap bakteri P. mirabilis dan S. aureus diuji dengan metode difusi, dengan membandingkan konsentrasi 15%, 25%, 50% dan 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa fermentasi Tepache berhasil dilakukan dengan pH akhir 3. Tepache dengan varian konsentrasi sebesar 15%, 25%, 50% dan 100% dapat menghasilkan zona hambat pada P. mirabilis dan S. aureus. Tepache dengan konsentrasi 100% dapat menghasilkan zona hambat terbesar yaitu 12,75 mm pada P. mirabilis dan 13,5 mm pada S. aureus. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa Tepache memiliki aktivitas antibakteri pada konsentasi optimum sebesar 100%.Kata kunci: antibakteri; Tepache; Proteus mirabilis; Staphylococcus aureus