Hanifa Dina Aulia Dewi Umbara
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI SELF-CONFIDENCE Hanifa Dina Aulia Dewi Umbara; Nanang Priatna
SIGMA Vol 8, No 1 (2022): SIGMA
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/sigma.v8i1.1690

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan matematis yang perlu dikembangkan karena dapat menentukan hasil belajar matematika yang diraih oleh siswa. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, siswa harus memiliki sikap yakin dan percaya akan kemampuannya sendiri. Dalam hal ini self-confidence dibutuhkan oleh siswa untuk mengaktualisasikan kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada masing-masing kategori self-confidence. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 21 siswa kelas XI di salah satu SMK di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang sudah mempelajari materi logika matematika. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki self-confidence tinggi mampu memenuhi tiga indikator kemampuan berpikir kritis matematis dan selalu merasa percaya diri dengan kemampuan matematis yang dimiliki. Siswa yang memiliki self-confidence sedang mampu memenuhi dua indikator kemampuan berpikir kritis matematis dan cenderung ragu serta takut melakukan kesalahan ketika menyelesaikan soal matematika. Siswa yang memiliki self-confidence rendah hanya mampu memenuhi satu indikator kemampuan berpikir kritis matematis dan cenderung tidak merasa yakin ketika menyelesaikan soal matematika dan tidak memahami materi secara utuh.
Students’ Mathematical Problem-Solving Ability from the Perspective of Mathematical Anxiety Levels Hanifa Dina Aulia Dewi Umbara; Suhendra Suhendra; Al Jupri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 3 (2024): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i3.1640

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah, dengan kecemasan matematis diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berdasarkan tingkat kecemasan matematisnya, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan terdiri dari 39 siswa kelas XI dari sebuah SMA di Kota Serang, Provinsi Banten, yang telah mempelajari barisan dan deret geometri. Data dikumpulkan melalui tes tulis untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika serta menggunakan teknik non-tes seperti kuesioner kecemasan matematis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kecemasan matematis rendah memenuhi semua indikator kemampuan pemecahan masalah matematis, siswa dengan tingkat kecemasan matematis sedang memenuhi tiga dari empat indikator, dan siswa dengan tingkat kecemasan matematis tinggi hanya memenuhi satu dari empat indikator tersebut. Oleh karena itu, guru dan siswa harus mempertimbangkan strategi yang tepat untuk mengurangi kecemasan matematis dalam metode pembelajaran guna meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.The mathematical problem-solving ability (MPSA) of students in Indonesia is low, with mathematical anxiety identified as a contributing factor. This research sought to explore students' MPSA from the perspective of mathematical anxiety levels using a qualitative approach with a case study method. The participants included 39 grade XI students from a senior high school in Serang City, Banten Province, who had learned arithmetic and geometric sequences. Data collection included written tests for MPSA and non-test techniques such as mathematical anxiety questionnaire and interviews. The results reveal that students with low mathematical anxiety level fulfilled all the indicators of MPSA, students with moderate mathematical anxiety level fulfilled three of the four indicators of MPSA, and students with high mathematical anxiety level only fulfilled one of the four indicators of MPSA. Therefore, teachers and students should consider appropriate strategies to reduce mathematical anxiety in learning methods, aiming to enhance students’ mathematical problem-solving ability.