Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSTRUKSI EKSPRESI PERASAAN CINTA REMAJA DALAM PERSPEKTIF TINDAK TUTUR Yuli Sarita; Yusup Irawan
TELAGA BAHASA Vol 10, No 1 (2022): TELAGA BAHASA VOL.10.1 TAHUN 2022
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v10i1.299

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur dan fungsinya dalam percakapan ekspresi perasaan cinta remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah para remaja berusia 18 hingga 22 tahun sebanyak 18 orang: 6 laki-laki dan 12 perempuan.  Data diperoleh melalui wawancara. Ditemukan bentuk-bentuk tindak tutur dalam ekspresi menyatakan cinta dan menerima cinta. Bentuk-bentuk tindak tutur itu adalah 1) asertif atau representatif, 2) direktif, 3) komisif, 4) ekspresif, dan ragu-ragu), dan 5) deklaratif. Dalam tindak tutur asertif ditemukan fungsi menyatakan dan memberikan. Dalam tindak tutur direktif ditemukan fungsi meminta dan mengajak. Dalam tindak tutur komisif ditemukan fungsi berjanji, berkomitmen, dan menawarkan. Dalam tindak tutur ekspresif ditemukan fungsi mengungkapkan perasaan cinta, percaya diri, dan ragu-ragu dan dalam tindak tutur deklaratif ditemukan fungsi menyepakati, menyetujui, dan mengabulkan. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa konstruksi ekspresi cinta direalisasikan dalam wujud konfigurasi tindak tutur yang kompleks. Ia bukan hanya tindak tutur ekspresif saja.
MORFOFONOLOGI KATA POLIMORFEMIK BERKONSTRUKSI ALOMORF {mәŋ-} DAN MORFEM DASAR BERAWAL VOKAL DALAM BAHASA INDONESIA Cahyo Yusuf; Rangga Asmara; Herpindo Herpindo; Yusup Irawan
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1190

Abstract

This study aims to prove the morphophonology of polymorphemic words with allomorphic construction {mәŋ-} and basic morphemes with initial vowel phonemes /a/, /e-ε/, /ә/, /i-I/, /o-ͻ/, /u-U/: (a) unity of energy of nasal consonant /ŋ/ intra-syllable, and (b) segment of nasal consonant /ŋ/ intra-syllable, and (c) morphophonological process. The data collection involved listening and recording techniques followed by note-taking techniques. The recording was created using the Speech Analyzer Praat. This research contains six data: [mәŋtak], [mәŋekͻr], [mәŋәndap], [mәŋikat], [mәŋomba?], [mәŋukur]. Data analysis used a sound          approach with distributional methods and induction methods. The results of this study are (1) the unitary energy of the nasal consonant /ŋ/ in the syllable energy of the two polymorphemic words, for example [mә.ŋe.kͻr], and (2) the segmental sound of the entity nasal consonant /ŋ/ tough is at the onset of the second syllable. polymorphemic words, for example, [mә.ŋәn.dap], (3) between the sound sequences that the consonant-nasal entity /ŋ/ onset of the second syllable polymorphemic words, for example [mә.ŋi.kat], shifts to the first syllable coda so that the first syllable takes the form allomorph {mәŋ-}and basic morpheme {bond has the initial vowel phoneme /i/.Tujuan penelitian ini untuk menemukan morfofonologi kata polimorfemik berkonstruksi alomorf {mәŋ-} dan morfem dasar berfonem awal vokal /a/, /e-ε/, /ә/, /i-I/, /o-ͻ/, /u-U/ pada aspek: (a) kesatuan energi konsonan nasal /ŋ/ intrasilabel, dan (b) segmen bunyi konsonan nasal /ŋ/ di intrasilabel, serta (c) proses morfofonologinya. Penyediaan data menggunakan metode simak dan teknik rekam yang dilanjutkan dengan teknik catat. Perekaman dilakukan dengan menggunakan perangkat speech analyzer Praat. Penelitian ini terdapat enam kelompok data: [mәŋambil], [mәŋekͻr], [mәŋәndap], [mәŋikat], [mәŋomba?], [mәŋukur].  Data dianalisis menggunakan pendekatan akustik (getaran bunyi) dengan metode agih dan metode induksi. Hasil penelitian ini ialah (1) kesatuan energi dibuktikan entitas konsonan nasal /ŋ/ dalam kesatuan energi silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋe.kͻr], dan (2) bunyi segmental dibuktikan entitas konsonan nasal /ŋ/ tegar berada pada onset silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋәn.dap], (3) antarrangkaian bunyi bahwa entitas konsonan-nasal /ŋ/ onset silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋi.kat], bergeser ke koda silabel kesatu sehingga silabel kesatu berwujud alomorf {mәŋ-} dan morfem dasar {ikat} berfonem awal vokal /i/.
Menelusuri Variasi Bahasa Dayak di Kapuas Hulu: Kajian Dialektometri Atas Delapan Isolek Irmayani Abdulmalik; Dedy Ari Asfar; Yusup Irawan; Foni Agus Setiawan; Herpanus Herpanus; Muhammad Pramulya
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4920.242-256

Abstract

This article aims to present the distribution of eight Dayak isolects in Kapuas Hulu Regency from a dialectometric perspective. Based on dialectometric calculations, primary data consisting of a number of vocabulary items in the target language obtained through fieldwork were analyzed using Séguy's formulation, then grouped according to Guiter's scale and compared with Lauder's scale. The results show that language classification referring to Guiter's scale produces four language groups, namely Kayaan, Tamanik, Ibanik, and Buket-Punan. Within the Tamanik language, there is a subdivision at the level of subdialect differences, namely Taman and Tamambaloh. Furthermore, the Taman subdialect itself is further divided into two variants that are at the level of no difference, namely Taman Kapuas and Taman Sibau. The other language group is Ibanik. According to Guiter's scale, this language group is divided into the Kantuk and Iban variants, both of which are at the subdialect difference level. The last language group is Buket-Punan. Interestingly, this last language group shows different results from the perspectives of Guiter and Lauder. Based on Guiter's scale, this language group is considered a single language but with different dialects. Conversely, according to Lauder's scale, Buket and Punan are regarded as two distinct languages. This demonstrates differing interpretations of language grouping between Guiter and Lauder. In other words, if based on Guiter's scale, the eight isolects can be grouped into four languages. However, according to Lauder, the eight isolects can be grouped into five languages. AbstrakTulisan ini bertujuan memaparkan distribusi delapan isolek Dayak di Kabupaten Kapuas Hulu dalam perspektif dialektometri. Dengan berlandaskan pada penghitungan dialektometri, data primer berupa sejumlah kosakata dalam bahasa target yang diperoleh melalui pupuan lapangan dianalisis menggunakan formulasi Séguy yang kemudian dikelompokkan berdasarkan skala Guiter dan diperbandingkan dengan skala Lauder. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi bahasa yang merujuk pada skala Guiter menghasilkan empat kelompok bahasa, yaitu, Kayaan, Tamanik, Ibanik, dan Buket-Punan. Pada bahasa Tamanik, terdapat turunan pengelompokan pada taraf beda subdialek, yaitu Taman dan Tamambaloh. Selanjutnya, pada subdialek Taman sendiri terbagi lagi menjadi dua varian yang berada pada level tidak ada beda, yaitu Taman Kapuas dan Taman Sibau.  Kelompok bahasa lainnya adalah Ibanik. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini terbagi menjadi varian Kantuk dan Iban yang keduanya berada pada level beda subdialek. Kelompok bahasa terakhir adalah Buket-Punan. Uniknya, kelompok bahasa terakhir ini memperlihatkan hasil yang berbeda dari sudut pandang Guiter dan Lauder. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini adalah satu bahasa yang sama tetapi dialek yang berbeda. Sebaliknya, jika merujuk pada skala Lauder, Buket dan Punan dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Ini memperlihatkan interpretasi pengelompok bahasa yang berbeda antara Guiter dan Lauder. Artinya, jika didasarkan pada skala Guiter, delapan isolek itu dapat dikelompokkan menjadi empat bahasa. Namun, menurut Lauder, delapan isolek tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bahasa.