Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Menelusuri Variasi Bahasa Dayak di Kapuas Hulu: Kajian Dialektometri Atas Delapan Isolek Irmayani Abdulmalik; Dedy Ari Asfar; Yusup Irawan; Foni Agus Setiawan; Herpanus Herpanus; Muhammad Pramulya
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4920.313-327

Abstract

This article aims to present the distribution of eight Dayak isolects in Kapuas Hulu Regency from a dialectometric perspective. Based on dialectometric calculations, primary data consisting of a number of vocabulary items in the target language obtained through fieldwork were analyzed using Séguy's formulation, then grouped according to Guiter's scale and compared with Lauder's scale. The results show that language classification referring to Guiter's scale produces four language groups, namely Kayaan, Tamanik, Ibanik, and Buket-Punan. Within the Tamanik language, there is a subdivision at the level of subdialect differences, namely Taman and Tamambaloh. Furthermore, the Taman subdialect itself is further divided into two variants that are at the level of no difference, namely Taman Kapuas and Taman Sibau. The other language group is Ibanik. According to Guiter's scale, this language group is divided into the Kantuk and Iban variants, both of which are at the subdialect difference level. The last language group is Buket-Punan. Interestingly, this last language group shows different results from the perspectives of Guiter and Lauder. Based on Guiter's scale, this language group is considered a single language but with different dialects. Conversely, according to Lauder's scale, Buket and Punan are regarded as two distinct languages. This demonstrates differing interpretations of language grouping between Guiter and Lauder. In other words, if based on Guiter's scale, the eight isolects can be grouped into four languages. However, according to Lauder, the eight isolects can be grouped into five languages. AbstrakTulisan ini bertujuan memaparkan distribusi delapan isolek Dayak di Kabupaten Kapuas Hulu dalam perspektif dialektometri. Dengan berlandaskan pada penghitungan dialektometri, data primer berupa sejumlah kosakata dalam bahasa target yang diperoleh melalui pupuan lapangan dianalisis menggunakan formulasi Séguy yang kemudian dikelompokkan berdasarkan skala Guiter dan diperbandingkan dengan skala Lauder. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi bahasa yang merujuk pada skala Guiter menghasilkan empat kelompok bahasa, yaitu, Kayaan, Tamanik, Ibanik, dan Buket-Punan. Pada bahasa Tamanik, terdapat turunan pengelompokan pada taraf beda subdialek, yaitu Taman dan Tamambaloh. Selanjutnya, pada subdialek Taman sendiri terbagi lagi menjadi dua varian yang berada pada level tidak ada beda, yaitu Taman Kapuas dan Taman Sibau.  Kelompok bahasa lainnya adalah Ibanik. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini terbagi menjadi varian Kantuk dan Iban yang keduanya berada pada level beda subdialek. Kelompok bahasa terakhir adalah Buket-Punan. Uniknya, kelompok bahasa terakhir ini memperlihatkan hasil yang berbeda dari sudut pandang Guiter dan Lauder. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini adalah satu bahasa yang sama tetapi dialek yang berbeda. Sebaliknya, jika merujuk pada skala Lauder, Buket dan Punan dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Ini memperlihatkan interpretasi pengelompok bahasa yang berbeda antara Guiter dan Lauder. Artinya, jika didasarkan pada skala Guiter, delapan isolek itu dapat dikelompokkan menjadi empat bahasa. Namun, menurut Lauder, delapan isolek tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bahasa.
Exploring Conceptual Metaphors in a Corpus of Sanggau Malay Songs: Cognitive Semantic Perspective Agus Syahrani; Alif Irvansyah; Ermanto Ermanto; Havid Ardi; Dedy Ari Asfar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8418

Abstract

This study aims to analyze the forms and types of conceptual metaphors and image schemas found in the corpus of Malay Sanggau song lyrics using a cognitive semantic approach. This study uses a qualitative descriptive method with data sources in the form of a corpus of seven Malay Sanggau songs taken from YouTube channels: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, and Biar Gonting Inang Putus. Data were collected through audiovisual and digital document analysis, as well as interviews with native speakers of Malay Sanggau to verify meanings. The analysis process was carried out through the stages of transcription, translation, identification of metaphors based on Lakoff and Johnson's Conceptual Metaphor theory, and application of Croft and Cruse's Image Schema theory to find cognitive relationships between the source domain and the target domain. The results of the study show that in the Sanggau Malay song corpus, there are three orientational metaphors, three structural metaphors, and three ontological metaphors. Each type of metaphor describes how the Sanggau Malay community interprets their life experiences, emotions, and cultural values through figurative language. These findings reinforce the view that conceptual metaphors function as a mirror of the cognition and local cultural identity of the Sanggau Malay community. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan jenis metafora konseptual dan skema citra yang terdapat dalam korpus lirik lagu Melayu Sanggau dengan menggunakan pendekatan semantik kognitif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa korpus tujuh lagu Melayu Sanggau yang diambil dari kanal YouTube: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, dan Biar Gonting Inang Putus. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen audiovisual dan digital, serta wawancara dengan penutur asli Melayu Sanggau untuk verifikasi makna. Proses analisis dilakukan melalui tahapan transkripsi, penerjemahan, identifikasi metafora berdasarkan teori Metafora Konseptual Lakoff dan Johnson dan penerapan teori Skema Citra Croft dan Cruse untuk menemukan hubungan kognitif antara domain sumber dan domain sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam korpus lagu Melayu Sanggau terdapat tiga metafora orientasional, tiga metafora struktural, dan tiga metafora ontologis. Setiap jenis metafora menggambarkan cara masyarakat Melayu Sanggau memaknai pengalaman hidup, emosi, dan nilai budaya mereka melalui bahasa kiasan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa metafora konseptual berfungsi sebagai cermin kognisi dan identitas budaya lokal masyarakat Melayu Sanggau.
Malay Kinship Terms and Their Relationship to the Formation of Social Identity in West Kalimantan, Indonesia Yusriadi Yusriadi; Bob Andrian; Muhammad Lutfi Hakim; Dedy Ari Asfar; Chong Shin
Jurnal Arbitrer Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/ar.13.1.75-88.2026

Abstract

This study examines Malay kinship terms and its role in shaping social identity among communities in West Kalimantan, Indonesia. Employing an ethnographic approach within the framework of Social Identity Theory, it analyzes how this terminology functions in everyday life. Data were collected through interviews with 33 Malay participants from nine regions of West Kalimantan, complemented by an analysis of published materials on local kinship. The results indicate that Malay kinship terms act as tools for social categorization, in-group identification, and social comparison across different ethnic communities, reflecting complex socio-historical processes and inter-ethnic relationships. The study also demonstrates the influence of the national language, which serves as both a lingua franca and a prestigious linguistic resource in this context. These findings contribute to ethnolinguistic theory by confirming that kinship terms constitute a reflexive social practice that shapes communal life in both literal and symbolic dimensions. Keywords: kinship terms; social identity; ethnolinguistics; Malay; West Kalimantan; Social identity theory
Makna di Balik Alat Tangkap Ikan: Kajian Semantik Leksikal Pada Masyarakat Dayak Kanayatn Ahadi Sulissusiawan; Dedy Ari Asfar
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1646

Abstract

This research aims to describe the forms and analyze the lexical meanings of traditional fishing gear in the Dayak Kanayatn language as a representation of the relationship between language, culture, and the community's ecological knowledge. This research uses a descriptive method with a lexical semantic approach thru fieldwork in Landak Regency, West Kalimantan. Data was obtained thru direct interviews with Dayak Kanayatn speakers and observation of the use of traditional fishing gear. Data collection techniques include recording, transcribing, translating, and grouping data based on the research subfocus. The research results show that each fishing gear lexicon, such as traps, sieves, pokat, nets, longlines, betek, palampong, tolokng, and sarapakng, has specific formal characteristics and ecological functions, depending on water conditions and fish behavior. Semantically, the lexicon forms a structured network of meanings and the expansion of meaning based on variations in the form of the tool. Culturally, traditional fishing gear is not only a means of subsistence but also embodies values of identity, ecological ethics, and local knowledge systems passed down thru generations. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan menganalisis makna leksikal alat tangkap ikan tradisional dalam bahasa Dayak Kanayatn sebagai representasi hubungan antara bahasa, budaya, dan pengetahuan ekologis masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan semantik leksikal melalui kerja lapangan di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Data diperoleh melalui wawancara langsung dengan penutur Dayak Kanayatn serta observasi penggunaan alat tangkap tradisional. Teknik pengumpulan data meliputi pencatatan, perekaman, transkripsi, penerjemahan, dan pengelompokan data berdasarkan subfokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap leksikon alat tangkap ikan, seperti bubu, bubu ayak, pokat, jala, tajur, betek, palampong, tolokng, dan sarapakng, memiliki karakteristik formal dan fungsi ekologis yang spesifik, sesuai dengan kondisi perairan dan perilaku ikan. Secara semantik, leksikon tersebut membentuk jaringan makna yang terstruktur dan perluasan makna berdasarkan variasi bentuk alat. Secara budaya, alat tangkap tradisional tidak hanya sebagai sarana subsisten, tetapi juga mengandung nilai identitas, etika ekologis, dan sistem pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.