Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembatasan Usia Minimum Perkawinan Dalam Persfektif Psikososial (Studi Pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan) Rimanto Rimanto; Muhamad Rudi Wijaya; Kholid Hidayatullah
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling: Special Issue (General)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.10357

Abstract

Dinamika social yang berdampak pada perubahan norma dan hukum adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari, diskursus tentang isu gender juga mengemuka ditengah-tengah pergolokan pemikiran dan aksi aktualiasasi hukum Islam di segala bidang kehidupan, tidak terkecuali dalam pemikiran persamaan hak bagi semua calon pengantin yang akan melangsungkan perkawinan. Ketentuan batas minimum 16 tahun dalam perundang-undangan perkawinan bagi calon pengantin wanita dianggab tidak mencerminkan rasa keadilan dan menimbulkan banyak persoalan karena belum adanya kemampuan psikis dan biologis. Penelitian ini bertujuan menggali informasi latar belakang dan tujuan yang diharapkan dari perubahan ketentuan batas minimum usia perkawinan dari 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria menjadi 19 tahun bagi semua calon pengantin. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat studi kepustakaan, hal ini berkaitan dengan hal-hal yang menitikberatkan pada masalah batas ideal pernikahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan ketentuan batas minimum usia perkawinan adalah dalam rangka melindungi anak dari eksplorasi seksual dari lembaga perkawinan , dampak biologis dan psikologis yang bermuara kepada lemahnya kemampuan pasangan tersebut memenuhi kewajibannya sebagai suamim istri.
Measurement of Return of Islamic Knowledge Mobility (IROKM) on Women Entrepreneurs who are members of Bueka Aisyiyah Pringsewu Regency Arum Arupi Kusnindar; Ainur Rosidah; Kholid Hidayatullah; Sekar Arum Sari
JESI (Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia) Vol. 15 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jesi.2025.15(1).1-15

Abstract

Introduction/Main Objectives: Islamic Knowledge Mobility (IROKM) is a key driver of women entrepreneurs’ performance in BUEKA Aisyiyah, Pringsewu Regency. This study examines its role in promoting business sustainability and well-being within a Sharia-based business context. The main problem addressed is how IROKM influences the sustainability and performance of women-led business, and to what extent moderating factors such as risk tolerance and knowledge-sharing transparency strengthen this relationship. This paper uniquely combines quantitative PLS-SEM analysis with qualitative NVivo insights to examine IROKM’s role in business performance—an area that has received limited attention, particularly in the context of women entrepreneurs operating under Islamic business principles in Indonesia.Methodology: This study used a mixed-method approach with PLS-SEM to measure IROKM’s impact on business performance and NVivo to analyze entrepreneurs’ perceptions, based on surveys and interviews with BUEKA Aisyiyah women entrepreneurs in Pringsewu Regency.Finding/Results: Results show IROKM significantly boosts business performance (path coefficient = 0.958), especially in revenue, sustainability, and networks, with risk tolerance and knowledge-sharing enhancing the effect. Qualitative data confirm Islamic values foster customer trust and loyalty. Conclusion: IROKM significantly boosts women entrepreneurs’ performance in an Islamic economic context, calling for targeted training, stronger Aisyiyah support, and wider Sharia-compliant financing to advance sustainable Sharia-based business models in Indonesia.