Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN SKA DI RSUP PROF DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2014 Malutu, Hisky; Joseph, Victor F. F.; Pangemanan, Janry
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10952

Abstract

Abstract: Acute Coronary Syndrome (ACS) is a collection of symptoms caused by acute myocardial ischemia. Over the past decade, several studies linking hyperglycemia on admission to higher mortality rate of patients with ACS, including acute myocardial infarction (AMI). This study aimed to obtain the profile of blood glucose levels among ACS patients at Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado from January to December 2014. This was an observational descriptive study with a retrospective approach. The results showed that there were 126 ACS patients; 21 patients were eligible for inclusion criteria. The number of male patients are higher than of female patients; most patients aged >60 years old; and the most type of ACS was unstable angina pectoris. Of the 21 patients, there were 6 patients with type 2 DM. Conclusion: Plasma glucose levels in ACS patients on admission tend to be normal, but fasting plasma glucose is higher in the NSTEMI and STEMI patients. Keywords: ACS, type 2 DM, stress hyperglycemia, admission, plasma glucose, fasting plasma glucose  Abstrak: Sindroma Koroner Akut (SKA) adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh iskemik miokard akut. Selama dekade terakhir ini, beberapa studi menghubungkan hiperglikemia pada saat masuk rumah sakit dengan angka mortalitas yang semakin tinggi pada pasien dengan SKA, termasuk Infark Miokard Akut (IMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah pada pasien SKA di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan studi retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan 126 pasien SKA tetapi yang memenuhi kriteria inklusi hanya 21 saja. Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, golongan usia terbanyak >60 tahun, dan jenis SKA terbanyak ialah angina pektoris tidak stabil. Didapatkan pula 6 pasien dengan riwayat DM tipe 2 sebelumnya dan 15 pasien tanpa riwayat DM tipe 2. Simpulan: Kadar glukosa darah sewaktu pada pasien SKA cenderung normal, tetapi kadar glukosa darah puasa meningkat pada jenis STEMI dan NSTEMI. Kata kunci: SKA, DM tipe 2, stres hiperglikemik, glukosa darah sewaktu, glukosa darah puasa
Terapi Reperfusi pada Infark Miokard dengan ST-Elevasi Bambari, Hana A; Panda, Agnes L; Joseph, Victor F.F.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32850

Abstract

Abstract: Myocardial infarction is classified into ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) and Non-ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI). STEMI patient is considered for a reperfusion therapy, consisting of percutaneous coronary intervention (PCI), fibrinolytic therapy, and coronary artery bypass grafting (CABG). This study was aimed to determine the effectiveness of reperfusion therapy in STEMI patients. This was a literature review study. The results described the effectiveness of reperfusion therapy in terms of the time action, as follows: effective PCI if <120 minutes, fibrinolytic therapy <90 minutes, and CABG within four to 30 days after angiography. In case of revascularization with PCI there was a decrease in mortality and complications of reinfarction, major bleeding, and stroke. There was a reduction in complications of cardiogenic shock with fibrinolytic therapy when given within the first 60 minutes of symptom onset. Fibrin-spesific fibrinolytics (accelerated infusion alteplase, tenecplase, and reteplase) were the most effective regimen associated with reduced mortality. CABG procedure is recommended in coronary anatomical conditions that was not suitable for PCI and several other indications; although the complications were high but the survival of 30 days and one year was very good. In conclusion, PCI is the first line choice and effective if performed less than the first 120 minutes. Fibrinolytics are effective if they are administered during the first 60 minutes in case the PCI is not performed. Moreover, CABG is recommended in anatomical coronary condition that is not suitable for PCI and other indications.Keywords: reperfusion therapy, acute myocardial infarction, STEMI  Abstrak: Infark miokard diklasifikasikan atas ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) dan Non-ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI). Pada pasien STEMI diper-timbangkan untuk dilakukan terapi reperfusi yang terdiri dari percutaneous coronary intervention (PCI), terapi fibribolitik, dan coronary artery bypass grafting (CABG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi reperfusi pada pasien STEMI. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian ini menjelaskan efektivitas terapi reperfusi ditinjau dari waktu tindakan. Tindakan PCI efektif dilakukan <120 menit, terapi fibrinolitik <90 menit, dan CABG dalam empat hingga 30 hari setelah angiografi. Pada kasus revaskularisasi dengan tindakan PCI terdapat penurunan mortalitas dan komplikasi reinfark, perdarahan mayor, dan stroke. Terdapat penurunan komplikasi syok kardiogenik pada terapi fibrinolitik bila diberikan dalam 60 menit pertama setelah onset gejala. Fibrin-spesific fibrinolytics (accelerated infusion alteplase, tenecplase, dan reteplase) merupakan regimen yang paling efektif dikaitkan dengan penurunan mortalitas. Tindakan CABG direko-mendasikan pada kondisi anatomi koroner yang tidak sesuai untuk PCI dan beberapa indikasi lain; meskipun komplikasi tinggi namun kelangsungan hidup 30 hari dan satu tahun sangat baik. Simpulan penelitian ini ialah tindakan PCI merupakan pilihan lini pertama dan efektif diberikan dalam waktu <120 menit. Fibrinolitik efektif diberikan dalam 60 menit pertama bila PCI tidak dapat dilakukan sedangkan tindakan CABG direkomendasikan pada kondisi anatomi koroner yang tidak sesuai untuk PCI dan beberapa indikasi lain.Kata kunci: terapi reperfusi, infark miokard akut, STEMI
Rehabilitasi Jantung pada Pasien Gagal Jantung Kronik Lumi, Axel P.; Joseph, Victor F. F.; Polii, Natalia C. I.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 3 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.v13i3.33448

Abstract

Abstract: Heart failure is a major clinical and public health problem with a prevalence of more than 23 million worldwide. Treatment of Heart Failure consists of pharmacological and non-pharmacological measures including physical exercise or cardiac rehabilitation. Cardiac rehabilitation is a set of integrated efforts or programs carried out to control the underlying causes of cardiovascular disease, improve physical, mental condition and as a secondary preventive measure. Cardiac rehabilitation aims to increase the patient's functional capacity, psychological adaptation to the chronic disease process, the foundation for long-term behavior and lifestyle changes to favorably influence long-term prognosis, and maintain an independent lifestyle as long as possible. The method that was used in this research is literature review by comparing the secondary data from literatures that was published in medical journal database such as PubMed, ClinicalKey and Google Scholar by following the inclusion and exclusion criteria. Reviews had been done in ten literatures that fulfill the inclusion and exclusion criteria. Those ten literature states that cardiac rehabilitation has many benefits in patients with heart failure. In conclusion, cardiac rehabilitation programs in patients with heart failure have many benefits on a patient's fitness. Cardiac rehabilitation programs can improve the quality of life in patients. The cardiac rehabilitation program increases Vo2Max and the endurance capacity of the heart. Cardiac rehabilitation program as a preventive step because it can prevent worsening heart health.Keywords: Heart failure, chronic heart failure, rehabilitation  Abstrak: Gagal jantung adalah masalah klinis dan kesehatan masyarakat yang utama dengan prevalensi lebih dari 23 juta di seluruh dunia. Penananganan Gagal Jantung terdiri dari penanganganan farmakologis dan non farmakologis yang antara lain latihan fisik atau rehabilitasi jantung. Rehabilitasi jantung adalah sekumpulan upaya atau program yang terintegrasi yang dilakukan untuk mengontrol penyebab dasar penyakit kardiovaskular, memperbaiki kondisi fisik, mental dan sebagai langkah preventif sekunder. Rehabilitasi jantung bertujuan untuk meningkatan kapasitas fungsional pasien, adaptasi psikologis terhadap proses penyakit kronis, landasan bagi perubahan perilaku dan gaya hidup jangka panjang untuk mempengaruhi prognosis jangka panjang secara menguntungkan, dan mempertahankan gaya hidup mandiri selama mungkin. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review (studi pustaka) dengan membandingkan data sekunder dari literatur-literatur yang dipublikasi dalam database jurnal kedokteran PubMed,ClinicalKey dan Google Scholar sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ada. Studi pustaka dilakukan pada sepuluh literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sepuluh literatur tersebut menyatakan bahwa rehablitasi jantung memiliki banyak manfaat pada kebugaran pasien dengan gagal jantung. Sebagai simpulan, program rehabilitasi jantung pada pasien dengan gagal jantung memiliki banyak maanfaat pada kebugaran pasien. Program rehabilitasi jantung dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien. Program rehabiltasi jantung meningkatkan Vo2Max dan kapasitas daya tahan jantung. Program rehabilitasi jantung sebagai langkah preventif karena dapat mencegah perburukan kesehatan jantung.Kata Kunci: Heart failure, chronic heart failure, rehabiltasi jantung
Hubungan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner dengan Insidens Kejadian Kardiovaskular Mayor pada Pasien STEMI yang Menjalani IKP Primer di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari - Desember 2022 Toliu, Feiby C.; Joseph, Victor F. F.; Rampengan, Starry H.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.56486

Abstract

Abstract: Major adverse cardiovascular events (MACE) are adverse outcomes in ST elevation myocardial infarction (STEMI) patients, such as death, recurrent myocardial infarction, stroke, rehospitalization, and recurrent revascularization. The occurrence of MACE depends on the patient's age, gender, and lifestyle. This study aimed to determine the relationship between coronary heart disease risk factors and the incidence of MACE in STEMI patients undergoing primary PCI (PPCI). Samples were STEMI patients undergoing PPCI at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, from January to December 2022. This was a retrospective cohort study using the consecutive sampling method. Data were analyzed using the chi-square test and Fisher's exact test. The results obtained 169 cases STEMI patients undergoing PPCI; 80 of them fulfilled the inclusion criteria. The majority of patients did not experience MACE. The most common type of MACE was rehospitalization. The bivariate analysis, it showed that there was no significant relationship between coronary heart disease risk factors and MACE in STEMI patients undergoing PPCI. In conclusion, there is no significant relationship between coronary heart disease risk factors and major adverse cardiovascular events. Keywords: major adverse cardiovascular events; coronary heart disease; risk factors    Abstrak: Kejadian kardiovaskular mayor (KKM) merupakan hasil akhir yang merugikan pada pasien dengan ST elevation myocardial infarction (STEMI), berupa kematian, infark miokard berulang, stroke, rehospitalisasi, dan revaskularisasi berulang. Terjadinya KKM bergantung pada usia, jenis kelamin, dan faktor gaya hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko penyakit jantung koroner dengan insidens KKM pada pasien STEMI. Sampel penelitian ialah pasien STEMI yang menjalani IKP Primer di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari - Desember 2022. Jenis penelitian ialah cohort retrospektif dengan metode consecutive sampling. Uji statistik ialah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi square dan uji Fisher’s exact. Hasil penelitian mendapatkan 169 penderita STEMI yang menjalani IKP primer dengan 80 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar pasien tidak mengalami KKM. Jenis KKM yang paling banyak ditemukan ialah rehospitalisasi. Berdasarkan analisis bivariat, tidak didapatkan hubungan bermakna antara faktor risiko penyakit jantung koroner dengan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien STEMI yang menjalani IKP Primer. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor risiko penyakit jantung koroner dengan kejadian kardiovaskular mayor. Kata kunci: kejadian kardiovaskular mayor; penyakit jantung coroner; faktor risiko
Hubungan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner dengan Kejadian Henti Jantung Ghosalim, Aurell H.; Jim, Edmond L.; Joseph, Victor F. F.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.59446

Abstract

Abstract: One of the causes of death from cardiovascular disease is cardiac arrest. The most common cause of cardiac arrest is coronary heart disease (CHD). This study aimed to determine the relationship between CHD risk factors and cardiac arrest events at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital.  This was an analytical and descriptive study with a retrospective cross-sectional approach. Samples were all patients with cardiac arrest at Gedung CVBC RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou from August to November 2023 who had complete medical recors. The sampling technique used total sampling and research instruments using medical record data. The results obtained 37 patients as samples consisting of male (64.9%) and female (35.1%) patients. The chi-square test showed a significant relationship between sex variable and the incidence of cardiac arrest (p=0.011). There was no significant relationship (p>0.05) between the variables of age, family history, hypertension, hyperlipidemia, diabetes mellitus, obesity and smoking with the incidence of cardiac arrest. In conclusion, gender has a significant relationship with the incidence of cardiac arrest. Meanwhile, age, family history, hypertension, hyperlipidemia, diabetes mellitus, obesity and smoking were not significantly related to the incidence of cardiac arrest. Keywords: coronary heart disease risk factors; cardiac arrest    Abstrak: Salah satu penyebab kematian akibat penyakit jantung ialah henti jantung. Penyebab tersering terjadinya henti jantung dikarenakan oleh penyakit jantung koroner (PJK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko PJK terhadap kejadian henti jantung di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou.  Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel penelitian ialah semua pasien henti jantung di Gedung CVBC RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada bulan Agustus sampai November 2023 dengan data rekam medik lengkap. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan instrumen penelitian menggunakan data rekam medik. Hasil penelitian mendapatkan 37 pasien sebagai sampel penelitian terdiri dari pasien berjenis kelamin laki-laki (64,9%) dan perempuan (35,1%). Hasil uji chi-square memperoleh hubungan bermakna antara variabel jenis kelamin terhadap kejadian henti jentung (p=0,011). Tidak terdapat hubungan bermakna (nilai p>0,05) antara variabel usia, riwayat keluarga, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes melitus, obesitas, dan merokok terhadap kejadian henti jantung. Simpulan penelitian ini ialah jenis kelamin memiliki hubungan bermakna dengan kejadian henti jantung. Pada faktor usia, riwayat keluarga, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes melitus, obesitas dan merokok tidak didapatkan hubungan bermakna dengan kejadian henti jantung di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou.  Kata kunci: faktor risiko penyakit jantung koroner; henti jantung
Pengaruh Rehabilitasi Kardiovaskular terhadap Kapasitas Fisik pada Pasien Gagal Jantung Santoso, Richard L.; Joseph, Victor F. F.; Panda, Agnes L.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 2 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i2.60821

Abstract

Abstract: Cardiovascular rehabilitation is one of the essential management strategies recommended to enhance functional capacity of patients with heart failure. This study aimed to determine the effect of cardiovascular rehabilitation on physical capacity in heart failure patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive and analytical method with a retrospective and cross-sectional design. This study involved 145 heart failure patients undergoing cardiovascular rehabilitation, of whom 48 fulfilled the inclusion criteria, while 97 were excluded. The results showed that majority of participants were male, aged 45–59 years, and had a body mass index (BMI) in the obesity I category. Most patients had hypertension, dyslipidaemia, and were prescribed ACE-I/ARB and statin therapies. Most participants' ejection fractions were classified as reduced (<40%) or mildly reduced (40–49%). Statistical analysis using the paired t-test showed significant improvements in 6-minute walk test distance, VO2 Max, and METs after cardiovascular rehabilitation (p-value <0.05 for each variable). In conclusion, cardiovascular rehabilitation significantly improved physical capacity in heart failure patients, as evidenced by increased 6-minute walk test distance, VO2 Max, and METs. These findings indicate a positive effect of cardiovascular rehabilitation on the physical capacity of heart failure patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Keywords: cardiovascular rehabilitation; physical capacity; heart failure   Abstrak:Rehabilitasi kardiovaskular merupakan salah satu strategi penatalaksanaan penting yang direkomendasikan untuk meningkatkan kapasitas fungsional pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rehabilitasi kardiovaskular terhadap kapasitas fisik pada pasien gagal jantung di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel penelitian ialah 145 pasien gagal jantung yang menjalani rehabilitasi kardiovaskular; 48 pasien memenuhi kriteria inklusi dan 97 pasien dieksklusi. Hasil penelitian mendapatkan mayoritas pasien ialah laki-laki, berusia 45–59 tahun, dengan indeks massa tubuh (IMT) kategori obesitas I. Sebagian besar pasien memiliki hipertensi, dislipidemia, dan mendapatkan terapi ACE-I/ARB serta statin. Sebagian besar fraksi ejeksi pasien dikategorikan sebagai reduced ejection fraction (<40%) atau mildly reduced ejection fraction (40–49%). Analisis statistik menggunakan uji paired t-test menunjukkan peningkatan bermakna pada jarak tempuh uji jalan 6 menit, VO2 Max, dan METs setelah rehabilitasi kardiovaskular (nilai p<0,05 untuk setiap variabel). Simpulan penelitian ini ialah rehabilitasi kardiovaskular secara bermakna meningkatkan kapasitas fisik pasien gagal jantung, yang ditunjukkan oleh peningkatan jarak tempuh uji jalan 6 menit, VO2 Max, dan METs. Temuan ini mengindikasikan adanya pengaruh positif rehabilitasi kardiovaskular terhadap kapasitas fisik pasien gagal jantung di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: rehabilitasi kardiovaskular; kapasitas fisik; gagal jantung