Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Protection of Women and Children Post-Divorce in Sharia Courts in Aceh: A Sociological Perspective Fajri M Kasim; Abidin Nurdin; Salman Abdul Muthalib; Samsinar Syarifuddin; Munawwarah Samad
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28747

Abstract

This  study  discusses  the  protection  of  women  and  children  after divorce  at  the  Syar'iyah  Court  in  Aceh.  A  legal  sociology  approach  is  used to  draw  the  decisions  of  the  Banda  Aceh,  Aceh  Besar,  Pidie,  Bireuen,  and Lhokseumawe Syar'iyyah Courts. The interviews were conducted with judges, community  leaders,  village  heads,  heads  of  the  Office  of  Religious  Affairs (KUA),  academics,  traditional  figures,  and  non-governmental  organizations (NGO) activists. This study concludes that the Syar'iyah Court in Aceh, in its  decision,  has  ensured  the  rights  of  women  and  children.  The  Syar'iyah Court  in  Aceh  determined  the  provision  of  'iddah,  muṭ'ah  maintenance, joint  assets,  and  childcare  rights  to  women.  Children  get  living  expenses, guardianship from the family, and care from the mother. Sociologically, the law has functioned as a means of social control through the Syar'iyah Court and judges as the main part of the legal structure supported by other elements of society so that the protection of women and children can be realized fairly.Keywords: protection of women and children; divorce; legal sociology; sharia court AbstrakKajian  ini  membahas  perlindungan  perempuan  dan  anak  setelah perceraian pada Mahkamah Syar’iyah di Aceh. Dengan pendekatan sosiologi hukum,  studi  ini  bersumber  pada  putusan-putusan  Mahkamah  Syar’iyyah Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, and Lhokseumawe dan wawancara kepada hakim, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala Kantor Urusan Agama (KUA),  akademisi,  tokoh  adat  dan  aktivis  Lembaga  Swadaya  Masyarakat (LSM). Kajian ini menyimpulkan bahwa Mahkamah Syar’iyah di Aceh dalam putusannya telah memastikan hak-hak perempuan dan anak. Mahkamah Syar’iyah di Aceh menetapkan pemberian nafkah ‘iddah, nafkah muṭ‘ah, harta bersama dan hak pengasuhan anak kepada perempuan; dan anak mendapatkan biaya hidup, perwalian dari keluarga dan pengasuhan dari ibu. Secara sosiologis, hukum telah berfungsi sebagai alat kontrol sosial melalui Mahkamah Syar’iyah dan  hakim  sebagai  bagian  utama  dari  struktur  hukum  yang  didukung  oleh elemen masyarakat lainnya sehingga perlindungan terhadap perempuan dan anak dapat terwujud secara adil.Kata Kunci: perlindungan perempuan dan anak; perceraian; sosiologi hukum; Mahkamah Syar’iyah
Pendidikan Islam di Persimpangan Digital: Menjaga Esensi Interaksi Sosial dari Ruang Konvensional ke Ruang Cyber Ainun Rahmadhani; Samsinar Syarifuddin
SERUMPUN : Journal of Education, Politic, and Social Humaniora Vol. 4, No. 1 : SERUMPUN (JANUARY-JUNE 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/srp.v4i1.339

Abstract

Interaksi sosial merupakan nyawa yang menggerakkan roda kehidupan bermasyarakat dan menjadi syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Seiring perkembangan zaman masyarakat harus melakukan adaptasi sosial dengan tetap memegang teguh nilai-nilai etika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep interaksi sosial dalam kajian sosiologi serta mendalami bentuk-bentuk interaksi tersebut dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa interaksi sosial adalah proses hubungan timbal balik yang dinamis, yang dalam sosiologi terbagi menjadi proses asosiatif (kerjasama, akomodasi, asimilasi) dan disosiatif (persaingan, kontravensi, konflik). Dalam perspektif sosiologi pendidikan Islam, interaksi sosial dipandang sebagai instrumen utama untuk menginternalisasi nilai-nilai ilahiyah dan pembentukan karakter yang berlandaskan prinsip ukhuwah serta akhlakul karimah. Meskipun menghadapi tantangan digitalisasi yang menggeser kontak sosial dari ruang konvensional ke ruang siber, esensi interaksi dalam pendidikan Islam tetap diarahkan pada penggunaan etika berkomunikasi (qaulan ma’rufan) untuk mencegah perilaku disosiatif seperti perundungan digital.
Analisis Keragaman Individual: Dampak Perbedaan Tingkat Kecerdasan Terhadap Gaya Belajar Siswa Ummul Hairi; Nia Ramadhani; Samsinar Syarifuddin
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.9028

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami perbedaan individu, keragaman, dan tingkat kecerdasan dalam perspektif psikologi serta pengaruhnya terhadap proses pendidikan. Setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi kepribadian, kemampuan intelektual, minat, bakat, motivasi, maupun gaya belajar. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan perlu memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing individu agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan inklusif. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai buku, jurnal ilmiah, dan artikel akademik yang berkaitan dengan psikologi pendidikan, keragaman individual, tingkat kecerdasan, serta gaya belajar siswa. Hasil kajian mengungkapkan bahwa perbedaan individu dan keragaman memiliki dampak yang signifikan dalam kegiatan belajar, terutama pada aspek gaya belajar, dorongan belajar, interaksi sosial, dan kemampuan akademik peserta didik. Selain itu, tingkat kecerdasan tidak hanya mencakup kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (EQ), spiritual (SQ), serta kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap individu. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan pembelajaran yang fleksibel, variatif, dan berpusat pada peserta didik agar seluruh siswa memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing. Dengan demikian, perbedaan individu, keragaman, dan tingkat kecerdasan bukan merupakan hambatan dalam pendidikan, melainkan potensi yang dapat memperkaya proses pembelajaran dan membantu pengembangan peserta didik secara optimal.