Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENTINGNYA PENGENALAN EDUKASI KESEHATAN LINGKUNGAN PADA IBU DAN ANAK Riski Wais Al Qorni; Ledyawati Ledyawati; Bintang Agustina; Ayu Wijayanti; Sri Indarti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (JIMAKUKERTA) Vol. 1 No. 1 (2021): JIMAKUKERTA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.003 KB) | DOI: 10.36085/jimakukerta.v1i1.2520

Abstract

Pengetahuan mengenai kesehatan lingkungan pada anak sejak dini dapat diartikan sebagai metode pembelajar awal yang memberikan  ruang dan kesempatan agar dapat menambahkan wawasan pemahaman anak akan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan, karena alam merupakan lingkungan  yang harus dijaga dan dirawat. Peran orang tua terkhusus Ibu-ibu merupakan ujung tombak dalam memberikan contoh penting mengenai bagaimana cara menjaga kesehatan lingkungan. Anak-anak sudah harus dikenalkan dan diberikan dorongan motivasi agar tertumbuh kreativitas sang anak supaya terbiasa menjaga lingkungan sekitar, dan anak akan semakin mempunyai rasa tanggung jawab agar sewaktu sudah menginjak dewasa bisa menjadi masyarakat yang peduli lingkungan dan memiliki pengetahuan dan khendak untuk menjaga bumi secara berkelanjutan (Priyatna Aquarini, Meilinawati Lina, Subekti Mega. 2017). Desa Bumi Ayu merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Dengan jumlah penduduk 2.878 jiwa yang terdiri dari laki-laki 1.468 jiwa dan perempuan 1.410 jiwa. Daerah ini belum memiliki kesadaran penuh mengenai kesehatan lingkungan. Perwujudan kegiatan ini dilakukan  dengan  praktik pengajaran edukasi dengan dor to dor (rumah ke rumah) dengan sasaran utama anak-anak dan ibu-ibu. Dari hasil edukasi yang dilakukan para ibu-ibu dan anak-anak dapat lebih paham dan bisa menerapkan langsung dari penjelasan-penjelasan yang dijabarkan. Kata Kunci : edukasi lingkungan, keperdulian, anak-anak,
FESTIVAL SEBAGAI METODE TRANSFORMASI SOSIAL Ayu Wijayanti; Lesti Heriyanti
Jurnal Sosiologi Nusantara Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsn.8.2.197-208

Abstract

Upaya transformasi sosial atau perubahan sosial yang direncanakan pada masyarakat, dapat diwujudkan melalui festival yang dikemas dalam nuansa menyenangkan dan menghibur, sehingga dapat merangkul spektrum masyarakat yang lebih luas. Berdasarkan pemahaman tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyelenggarakan FEKDI (Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia), untuk memperkenalkan QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) sebagai salah satu metode pembayaran non tunai yang dapat mempermudah transaksi jual beli masyarakat. Adapun tujuan dan fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan perilaku ekonomi masyarakat Kota Bengkulu yang direpresentasikan oleh pengunjung dan audien yang terlibat dalam rangkaian festival keuangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi perubahan perilaku ekonomi masyarakat setelah gelaran festival keuangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara mendalam terhadap pihak penyelenggara dan pengunjung festival. Implikasi temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa rangkaian kegiatan FEKDI memberikan dampak yang signifikan atas transformasi sosial atau perubahan sosial khususnya perubahan perilaku ekonomi. Perubahan ini terlihat dari terjadinya peningkatan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran, alih-alih menggunakan uang tunai, yang mayoritas terjadi di kalangan remaja yang lebih melek teknologi. Kondisi demikian sesuai dengan preposisi teori perubahan sosial yang menjelaskan bahwa suatu perubahan yang dikehendaki selalu berada di bawah pengedalian serta pengawasan agen of change dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu melalui sebuah perencanaan sosial, sehingga terjadilah perubahan pola pikir, perilaku, dan budaya materi dalam masyarakat.
PENYULUHAN EDUKASI BAHAYA GAWAI PADA REMAJA DI SMP NEGERI KARYA SAKTI Evita Rahma Dona; Ayu Wijayanti; Risananosanti Risananosanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (JIMAKUKERTA) Vol. 2 No. 3 (2022): JIMAKUKERTA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi pada era globalisasi dan digital dalam beberapa tahun terakhir sangat berkembang dengan pesat, hal tersebut yang menjadikan latar belakang perubahan komunikasi yang sangat minim menjadi modern dan serba digital seperti sekarang ini. Adanya kemajuan teknologi memberikan dampak positif bagi penggunanya. Namun, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak negatif terhadap penggunaan utilitas ketika disalahgunakan atau disalahgunakan, terutama bagi siswa. Salah satunya bisa terjadi pada siswa SMP Negeri Karya Sakti, maka dari itu diperlukan suatu upaya edukasi akan hal tersebut kepada siswa. Tahap pelaksanaan, memberikan pemaparan materi secara langsung dan membahas tentang langkah-langkah untuk menghindari bahaya gawai ketika sudah kecanduan. Pada kegiatan ini menggunakan metode sosialisasi dan pendampingan edukasi secara langsung kepada siswa dan siswi. Kata Kunci: gawai, siswa, edukasi
Analisis Relasi Sosial dan Ekonomi Pedagang dengan Bank Keliling di Pasar Tradisional Najua Syahrani; Lesti Heriyanti; Ayu Wijayanti
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, October 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i3.3184

Abstract

Traditional markets are economic spaces that allow for direct negotiations between sellers and buyers to meet daily needs such as household goods, agricultural products, and seafood. In this context, mobile banks serve as an alternative source of capital for small traders who have difficulty accessing formal financial institutions. This research was conducted in Pasar Minggu, Bengkulu City, with the aim of analyzing the social and economic relationships between traders and mobile banks. The study employed dependency theory and a qualitative approach to understand the unequal economic relationship patterns resulting from the inferior position of traders who rely on financial resources from mobile banks. Data were collected through unstructured interviews, two months of observation, and documentation, using a purposive method for selecting informants. The results revealed four main findings: money lending practices among Pasar Minggu traders, the role of trust in lending, information dissemination patterns about mobile banks, and the emergence of financial dependence on mobile banks. The study concluded that although mobile banks play a role in assisting small businesses with capital, the resulting relationship patterns actually create long-term economic dependence for the traders.
Perubahan Perilaku pada Pelaku Pernikahan Usia Dini (di Desa Padang Capo Kab. Seluma Prov. Bengkulu) Ririn Shepta Deanty; Linda Safitra; Ayu Wijayanti
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i3.5947

Abstract

This study aims to analyze the behavioral changes experienced by perpetrators of early marriage in Padang Capo Village, Seluma Regency, Bengkulu Province. Early marriage is still a pressing problem, especially in rural areas, despite various counseling efforts and government policies. This practice is generally influenced by low socioeconomic conditions, local cultural norms, limited education, and pregnancy before marriage. This study used a qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation. To understand the behavioral changes that occur, this study uses behavioral theory in sociology, which emphasizes that individual behavior is formed through the process of social learning, reinforcement from the environment, and adaptation to new social norms and roles.The main subjects in this study are four individuals who married under the age of 18. The results showed that early marriage resulted in complex and multidimensional behavioral changes, including emotional, psychological, social, and family aspects. Some informants experienced high emotional stress, limited access to education, and loss of personal freedom, especially after giving birth. However, some also showed signs of adaptation and emotional growth in their marital relationships. Changes in the social environment and new responsibilities contributed to.
ANALISIS KONFLIK TENURIAL TAMAN WISATA ALAM BUKIT KABA KABUPATEN KEPAHIANG Ayu Wijayanti; Reinaldi Reinaldi; Jamaludin Winarhadi Kusumo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v13i1.74730

Abstract

This research was conducted to find out about land conflicts that had occurred for a long time and disturbed the people around the Bukit Kaba Nature Park area, Kepahiang Regency, which resulted in the arrest of several residents around the area. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of interviews, FGDs and observations, which are then analyzed using a rapid land tenure assessment and conflict theory by Ralf Dahrendorf to identify the parties involved, the power of attorney, governance, and licensing arrangements in the area. The results determined that the parties involved were transmigrant communities, ministries in charge of forestry, Bengkulu provincial government, the Bengkulu BKSDA, the Bengkulu Provincial Ombudsman, the District Head, forest rangers, Sub-District Head, Kepahiang Police Chief, Village government, private parties, and Akar Foundation. The involvement of several of these parties has an impact on power, governance and licensing arrangements, where researchers found that there was conflict between the government and the transmigrant community in the distribution of managed land as a result of changes in territorial status and changes in the types of plants allowed to be planted, resulting in restrictions on the community's economic activities. According to the regulations in effect at the time. 
EVALUASI PROGRAM KAMPUNG NELAYAN SEJAHTERA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI KOTA BENGKULU Dony Trieko Saputra; Ayu Wijayanti
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Inpress Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.59667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Kampung Nelayan Sejahtera dalam pemberdayaan masyarakat pesisir di Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Evaluasi dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan enam kriteria evaluasi kebijakan publik menurut William N. Dunn, yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi langsung, dokumentasi, serta wawancara mendalam dengan informan kunci yang ditentukan melalui metode pemilihan sampel bertujuan (purposive sampling). Analisis data dilakukan secara induktif interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi kebijakan ini secara umum telah berjalan dengan baik, di mana program penataan infrastruktur dasar dinilai efektif, mencukupi, dan efisien dalam mengubah wajah kawasan kumuh menjadi pemukiman yang tertata sehat melalui pola kolaborasi multisektor. Kebijakan ini juga memiliki responsivitas dan ketepatan yang tinggi yang dibuktikan dengan lahirnya diversifikasi pekerjaan baru di sektor pariwisata hutan mangrove sebagai mata pencaharian alternatif keluarga nelayan saat masa sulit tangkapan ikan. Namun demikian, kriteria pemerataan masih menyisakan catatan kritis karena distribusi manfaat ekonomi dan informasi program lanjutan cenderung masih terpusat pada kelompok warga di koridor utama kawasan wisata dan belum menjangkau masyarakat pemukiman bagian dalam secara berkeadilan.