Abdul Waris Marsyam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMBENTUK MANUSIA BERPARADIGMA QUR’ANI MELALUI TAFAKUR AYAT-AYAT ALLAH Abdul Waris Marsyam
AL-MUTSLA Vol. 3 No. 2 (2021): Jurnal Al Mutsla Desember 2021
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v3i2.499

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang upaya pembentukan manusia yang berparadigma qur’ani melalui tafakur ayat-ayat Allah, yakni: ayat-ayat Qauliyah, Afaqiyah dan Anfusiyah yang terkandung dalam QS. Fussilat [41]: 53. Cara pandang manusia modern yang dikenal dengan paradigma sains modern, turut andil dalam melahirkan kemerosotan moral manusia modern-kontemporer dan krisis ekologi global yang berdampak pada bencana alam di abad ke-21. Dari sini terlihat pentingnya reintegrasi ilmu atau sains modern dengan agama yang didasarkan pada wahyu al-Qur’an untuk melahirkan kembali manusia literat dan berparadigma qur’ani. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini menyimpulkan bahwa Tafakur ayat-ayat Allah baik ayat-ayat qauliyah (al-Qur’an), afaqiyah (alam raya) dan anfusiyah (diri manusia) merupakan suatu metode dalam pembentukan manusia yang berparadigma al-Qur’an (Qur’anic theory building) yang digunakan dalam memahami realitas dan mengantarkan seseorang pada realitas tertinggi, yakni Sang Maha Benar (al-Haqq). Dalam aplikasinya, perumusan paradigma al-Qur’an dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yakni tahapan pembacaan, pemahaman dan pengamalan.
Tracing Aḥmad al-Ṣāwī’s Sunni Theological Thought (1761–1825) in Ḥāshiyat al-Ṣāwī ʿalā Tafsīr al-Jalālayn Abdul Waris Marsyam; Makmur
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 11 No. 1 (2026): MILLATI
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/millati.v11i1.5942

Abstract

This article examines Aḥmad al-Ṣāwī’s articulation of Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah theology in his Ḥāshiyat al-Ṣāwī ʿalā Tafsīr al-Jalālayn. Living during the transition from late premodern Islamic traditionalism to the modern period, al-Ṣāwī witnessed the emergence of the Wahhābī movement in the Arabian Peninsula, which he sharply criticized and associated with the Khawārij. In his gloss, al-Ṣāwī addresses fundamental theological questions and engages critically with other schools of kalām. Employing a descriptive-analytical method, this study argues that al-Ṣāwī adopted a firm position in defending the doctrines of Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah against two perceived extremes: radical textualism, represented in his account by Wahhābism, and ultra-rationalist liberalism, associated with Muʿtazilism and neo-Muʿtazilism, as well as the intellectual and political influence of French colonialism. The Ḥāshiyah affirms a broad range of Sunni doctrinal principles encompassing both foundational doctrines (uṣūl) and subsidiary questions (furūʿ). Its principal theological concerns include the doctrine of God, prophethood, and eschatology. Moreover, al-Ṣāwī’s commitment to the four Sunni legal schools, rejection of rigidly literalist exegesis, strong criticism of what he regarded as modern Khārijism, employment of taʾwīl and tafwīḍ, and defense of established Sunni religious practices collectively constitute a distinctive articulation of Sunnism in early nineteenth-century Egypt.