Ruhaliah Ruhaliah
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Transformasi Nilai Siri' Na Pacce dalam Sastra Digital: Kritik Sastra Interdisipliner Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda; Ruhaliah Ruhaliah
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4995.355-366

Abstract

This study aims to analyze the representation and transformation of Siri’ na Pacce values in digital literature through the perspective of interdisciplinary literary criticism. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach because the object of study consists of digital literary texts containing cultural representation, social identity, and meaning transformation within digital media contexts. The research data comprise 12 digital literary texts, including digital short stories, online poetry, and literary narratives on social media platforms published between 2020 and 2025. Data collection techniques were conducted through documentation studies and digital tracing using keywords related to Siri’ na Pacce, digital literature, and Bugis-Makassar culture. Data analysis employed content analysis, social semiotics, and hermeneutic interpretation by integrating perspectives from literary studies, cultural studies, and digital media. The findings reveal that Siri’ na Pacce values continue to be represented in digital literature, although they experience transformations in meaning due to the influence of digital culture and social media. The value of siri’, which traditionally emphasized collective honor, shifts toward representations of personal identity and digital existence, while pacce transforms from direct social solidarity into virtual empathy expressed through online interactions. In addition, digital literature presents cultural representations that are more multimodal, interactive, and contextual than conventional literature. This study demonstrates that local wisdom is dynamic and adaptable to technological developments. Therefore, digital literature functions not only as a medium of contemporary literary expression but also as a space for reinterpretation and preservation of local cultural identity in a global society. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi dan transformasi nilai Siri’ na Pacce dalam sastra digital melalui perspektif kritik sastra interdisipliner. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis karena objek kajian berupa teks sastra digital yang mengandung representasi budaya, identitas sosial, dan transformasi makna dalam konteks media digital. Data penelitian berupa 12 teks sastra digital yang terdiri atas cerpen digital, puisi daring, dan narasi sastra media sosial yang dipublikasikan pada berbagai platform digital periode 2020–2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran digital (digital tracing) dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan Siri’ na Pacce, sastra digital, dan budaya Bugis-Makassar. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), semiotika sosial, dan interpretasi hermeneutik dengan mengintegrasikan perspektif sastra, studi budaya, dan media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Siri’ na Pacce tetap direpresentasikan dalam sastra digital, tetapi mengalami transformasi makna akibat pengaruh budaya digital dan media sosial. Nilai siri’ yang sebelumnya berorientasi pada kehormatan kolektif berubah menjadi representasi identitas personal dan eksistensi digital, sedangkan nilai pacce mengalami pergeseran dari solidaritas sosial langsung menjadi empati virtual melalui interaksi daring. Selain itu, sastra digital menghadirkan bentuk representasi budaya yang lebih multimodal, interaktif, dan kontekstual dibandingkan sastra konvensional. Penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Dengan demikian, sastra digital tidak hanya menjadi media ekspresi sastra kontemporer, tetapi juga menjadi ruang reinterpretasi dan pelestarian identitas budaya lokal dalam masyarakat global.
Nilai Moral dalam Novel Catétan Poéan Réré Karya Ai Koraliati Bayu Wahyudin; Ruhaliah Ruhaliah; Agus Suherman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8273

Abstract

This study examines the narrative structure and moral values in the novel Catétan Poéan Réré by Ai Koraliati, a contemporary Sundanese literary work that boldly addresses LGBTQ+ issues, particularly gender identity and sexual orientation (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer/Questioning), within a society that upholds religious norms, propriety, and social harmony. The study employs a qualitative descriptive method with content analysis techniques to identify forms of moral values, classified according to Sudaryat’s framework, which includes human relationships with God, the self, others, nature, time, and the pursuit of both physical and spiritual well-being. The analysis reveals that all six categories of moral values are manifested explicitly and implicitly through the narrative, dialogues, and character actions. The novel presents emotional dynamics, moral conflicts, and reflective processes experienced by the characters as they face social pressures and questions of identity. Beyond its strong narrative structure, the work conveys profound ethical messages without being didactic. Catétan Poéan Réré illustrates how literature can serve as a space for dialectical engagement between traditional values and the complexities of contemporary Sundanese social realities. Abstrak Penelitian ini mengkaji struktur naratif dan nilai-nilai moral dalam novel Catetan Poéan Réré karya Ai Koraliati, sebuah karya sastra Sunda kontemporer yang secara berani mengangkat Isu LGBTQ+ merujuk pada identitas gender dan orientasi seksual (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer/Questioning) yang ada dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma agama, kesopanan, dan harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nilai moral yang diklasifikasikan oleh Sudaryat, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, alam, waktu, serta dalam meraih kebahagiaan lahiriah dan batiniah. Hasil analisis menunjukkan bahwa keenam kategori nilai tersebut terwujud dalam narasi, dialog, dan tindakan tokoh secara eksplisit maupun implisit. Novel ini menampilkan dinamika emosional, konflik moral, serta proses reflektif tokoh-tokohnya dalam menghadapi tekanan sosial dan identitas. Selain menyuguhkan struktur cerita yang kuat, karya ini juga menyisipkan pesan-pesan etis yang dalam, tanpa kesan menggurui. Catetan Poéan Réré memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi ruang dialektika antara nilai-nilai tradisional dan kompleksitas realitas sosial kontemporer masyarakat Sunda.
Diksi dalam Syair Dero Tradisional “Kajian Stilistika” Siti Aminah Lapangandong; Moh. Tahir; Yunidar Yunidar; Ruhaliah Ruhaliah
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1710

Abstract

The research aims to describe the classification of diction and to explain the linguistic, social, spiritual, and philosophical meanings reflected in Dero poetry. This study employed a stylistic approach using a descriptive qualitative method. The data consisted of 30 Dero poetry texts collected through interviews, observation, documentation, and note-taking from Pamona community informants. Data were analyzed through the stages of data reduction, classification, interpretation, and conclusion drawing. The findings show that the diction in Dero poetry can be classified into several categories, namely religious diction, kinship and brotherhood, nature and agriculture, romantic and affectionate expression, praise and respect, advice and wisdom, struggle and life spirit, sorrow and separation, customs and rituals, as well as symbolic and metaphorical diction. These word choices contain denotative, connotative, and philosophical meanings that reflect the Pamona worldview concerning the relationship between humans, God, fellow human beings, nature, and customary values. In addition, Dero poetry functions as a medium of moral education, reinforcement of social solidarity, emotional expression, and a marker of local cultural identity. Therefore, Dero poetry represents a cultural heritage that integrates language, art, and the life values of the Pamona people. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi ragam diksi serta menjelaskan makna linguistik, sosial, spiritual, dan filosofis yang tercermin dalam syair Dero. Penelitian menggunakan pendekatan stilistika dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa 30 teks syair Dero yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan pencatatan dari informan masyarakat Pamona. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diksi dalam syair Dero terbagi ke dalam beberapa kategori, yaitu religius, kekerabatan dan persaudaraan, alam dan pertanian, romantis dan kasih sayang, pujian dan penghormatan, nasihat dan kebijaksanaan, perjuangan dan semangat hidup, kesedihan dan perpisahan, adat dan upacara, serta simbolik dan metaforis. Diksi-diksi tersebut mengandung makna denotatif, konotatif, dan filosofis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Pamona tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan adat. Selain itu, syair Dero berfungsi sebagai media pendidikan moral, penguat solidaritas sosial, ekspresi emosional, dan penanda identitas budaya lokal. Dengan demikian, syair Dero merupakan warisan budaya yang memadukan bahasa, seni, dan nilai kehidupan masyarakat Pamona.