Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RITUAL ADAT MEMINTA IJIN PEMBUKAAN JALAN MENUJU SARAN MOT BENTENG RANU HITU BUKIT MAKES DESA DIRUN KECAMATAN LAMAKNEN KABUPATEN BELU Furqan, M.
JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE Vol 1 No 1 (2025): SOSIAL DAN HUMANIORA EDISI 1 TAHUN 2025
Publisher : CV. Jamin Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiur.v1i1.51

Abstract

Upacara adat meminta izin menuju Saran Mot merupakan ritual yang dilaksanakan untuk menghindari hambatan atau gangguan yang mungkin terjadi ketika tamu yang berkunjung hendak mengelilingi area benteng. Ritual ini dilakukan dengan memberikan sesaji berupa sirih pinang, uang, dan darah ayam sebagai bentuk pengakuan serta penghormatan terhadap roh yang dipercaya oleh masyarakat Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, sebagai penjaga kerajaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan proses pelaksanaan upacara adat meminta izin menuju Saran Mot. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual ini berfungsi sebagai permohonan izin untuk memasuki Saran Mot yang dianggap memiliki kekuatan gaib, di mana pengunjung dipandang sebagai tamu bagi penghuni Saran Mot. Seperti halnya ketika mengunjungi rumah seseorang, tamu harus mengetuk pintu sebelum masuk. Begitu pula dengan Saran Mot yang merupakan istana kerajaan. Sebelum memasuki benteng, terdapat beberapa tahap yang harus dipersiapkan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, dan tahap penutupan. Makna dari pelaksanaan ritual ini adalah sebagai usaha masyarakat untuk menghindari hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat tamu berkunjung dan hendak mengelilingi benteng, dengan memberikan sesaji sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan terhadap roh penjaga kerajaan tersebut.
PERNIKAHAN ADAT SEBAGAI MEKANISME INTEGRASI SOSIAL: STUDI TENTANG PENERIMAAN ANGGOTA SUKU DI DESA LEKUNIK, ROTE NDAO Furqan, M.
JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE Vol 1 No 2 (2025): JURNAL SOSIAL DAN HUMANIORA EDISI 2 TAHUN 2025
Publisher : CV. Jamin Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiur.v1i2.61

Abstract

Pernikahan adat dalam masyarakat tradisional tidak hanya dimaknai sebagai penyatuan dua individu, tetapi juga sebagai sarana integrasi sosial antar keluarga maupun antar suku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pernikahan adat berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial melalui penerimaan anggota suku yang diangkat di Desa Lekunik, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan dukungan kuantifikasi sederhana. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan kuesioner sederhana. Informan terdiri atas tokoh adat, perangkat desa, anggota suku yang menikah, serta masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan adat. Analisis dilakukan secara tematik dengan menekankan hubungan antara proses adat, simbol budaya, dan penerimaan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengangkatan anggota melalui pernikahan adat di Lekunik mencakup tahapan legitimasi adat, kesepakatan keluarga, penyerahan belis, serta keterlibatan dalam upacara adat. Anggota baru memperoleh pengakuan sosial setelah aktif berpartisipasi dalam kegiatan adat, gotong royong, musyawarah desa, maupun acara keagamaan. Tingkat penerimaan sosial tercatat tinggi hingga sangat tinggi, yang ditandai dengan interaksi positif, dukungan sosial, serta keterlibatan dalam komunitas. Temuan ini mengonfirmasi relevansi teori solidaritas Durkheim, interaksi simbolik Mead, identitas sosial Tajfel & Turner, dan modal sosial Putnam dalam menjelaskan proses integrasi sosial.Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pernikahan adat di Desa Lekunik berfungsi sebagai instrumen strategis yang menjaga kohesi sosial dalam masyarakat multietnis. Adat tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi fondasi penerimaan sosial dan harmoni antar kelompok.
SASANDO SEBAGAI WARISAN BUDAYA ROTE: SEJARAH, NILAI ADAT, DAN TANTANGAN PELESTARIAN DI ERA MODERN Furqan, M.
JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE Vol 1 No 2 (2025): JURNAL SOSIAL DAN HUMANIORA EDISI 2 TAHUN 2025
Publisher : CV. Jamin Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiur.v1i2.68

Abstract

Penelitian ini membahas Sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki peran penting dalam sejarah, nilai adat, dan identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pengrajin, serta pemerhati budaya, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan model interaktif Miles & Huberman, sementara keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah Sasando memiliki beragam versi yang hidup dalam tradisi lisan, antara lain versi Pupuk Soroba pada abad ke-13, Sangguana pada abad ke-17, maupun dua pemuda Lunggi Lain dan Balo Ama. Perbedaan narasi ini mencerminkan dinamika tradisi lisan yang tetap menguatkan identitas kolektif masyarakat Rote. Dari segi fungsi budaya, Sasando bukan sekadar instrumen musik, melainkan memiliki nilai sakral, sosial, dan simbolik dalam berbagai upacara adat. Proses pembuatan Sasando melibatkan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, sehingga menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang eksklusif. Faktor pendukung pelestarian Sasando meliputi peran komunitas lokal melalui sanggar seni, dukungan pemerintah dalam festival budaya, serta pendidikan multikultural di sekolah. Namun demikian, hambatan yang dihadapi antara lain menurunnya minat generasi muda, berkurangnya tenaga pengrajin terampil, serta dominasi musik modern. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi pelestarian yang adaptif, seperti revitalisasi fungsi, integrasi dalam pendidikan, serta promosi budaya melalui festival dan diplomasi internasional. Dengan demikian, Sasando tidak hanya menjadi warisan lokal masyarakat Rote, tetapi juga berpotensi sebagai ikon budaya bangsa Indonesia di tingkat global.
Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Media Pendidikan Literasi Lingkungan Berbasis Sosial Budaya Masyarakat Furqan, M.
JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE Vol 1 No 1 (2025): PKM UNIVERSITAS NUSA LONBTAR ROTE TAHUN 2025
Publisher : CV. Jamin Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiur.v1i1.72

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk merevitalisasi kearifan lokal sebagai media pendidikan literasi lingkungan berbasis sosial budaya masyarakat di Desa Oelolot, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao. Tantangan utama yang dihadapi dalam pelestarian lingkungan dewasa ini adalah rendahnya kesadaran ekologis masyarakat, terutama generasi muda, yang semakin jauh dari nilai-nilai budaya lokal. Padahal, masyarakat tradisional Indonesia memiliki sistem pengetahuan lokal yang terbukti efektif dalam menjaga keseimbangan alam secara berkelanjutan. PKM ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan kultural melalui tahapan identifikasi kearifan lokal, pengembangan media edukatif, pelatihan, serta sosialisasi dan pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat beragam bentuk kearifan lokal seperti larangan adat penebangan pohon, pengelolaan sumber daya air kolektif, dan ritus ekologis yang masih hidup di masyarakat. Melalui pelatihan dan media visual (modul, poster, video), terjadi peningkatan pemahaman dan motivasi peserta dalam menjaga lingkungan. Sebanyak 82% peserta mengalami peningkatan pemahaman, dan 76% merasa termotivasi menerapkan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga berhasil membentuk komunitas literasi lingkungan “Hijau Budaya” yang beranggotakan pemuda dan pendidik lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pendidikan lingkungan mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sosial budaya masyarakat secara lebih mendalam. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dan keberlanjutan program agar pendekatan ini menjadi model edukasi lingkungan yang relevan dan kontekstual bagi masyarakat lokal di era modern.
Model Pendidikan Lingkungan Transformatif Berbasis Nilai Sosial Budaya Lokal di Komunitas Pedesaan Furqan, M.
JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE Vol 1 No 1 (2025): PKM UNIVERSITAS NUSA LONBTAR ROTE TAHUN 2025
Publisher : CV. Jamin Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiur.v1i1.76

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengembangkan model pendidikan lingkungan transformatif yang mengintegrasikan nilai sosial budaya lokal di Desa Oelolot, Kabupaten Rote Ndao. Model ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal. Pelaksanaan dilakukan selama 45 hari meliputi survei pendahuluan, koordinasi dengan tokoh masyarakat, diskusi kelompok terarah, penyusunan modul, pelatihan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta penguatan nilai sosial budaya lokal. Model pendidikan ini diharapkan dapat menjadi alternatif efektif dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di komunitas pedesaan.