Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PUDARNYA TRADISI SEUMANOE PUCOK DI PAYA LUMPAT KECAMATAN SAMATIGA KABUPATEN ACEH BARAT Fitri Wahyuni; Triyanto Triyanto; Nurkhalis Nurkhalis; Lilis Sariyanti
Jurnal Society : Pengamat Perubahan Sosial Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Society : Pengamat Perubahan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.492 KB)

Abstract

Penelitian ini mengangkat tentang hilangnya tradisi Seumanoe Pucok di Paya Lumpat Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat. Padahal dari segi fungsinya, tradisi Seumanoe Pucok memberikan nasehat-nasehat kepada calon pengantin perempuan dalam menjalani kehidupan ke depan. Penelitian ini lebih fokus pada  mengetahui faktor-faktor penyebab hilangnya tradisi Seumanoe Pucok di Paya Lumpat Samatiga Kabupaten Aceh Barat. Metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab hilangnya tradisi Seumanoe Pucok yaitu tidak adanya tuntutan dalam agama, tidak adanya orang tua purba yang memahami adat Seumanoe Pucok, dan perubahan pola pikir masyarakat.
RASIONALITAS PENGHAPUSAN UJIAN NASIONAL TERHADAP SEMANGAT BELAJAR PADA SISWA SMPN 3 ACEH BARAT Devi Intan Chadijah; Lilis Sariyanti; Yeni Srilestari
Jurnal Society : Pengamat Perubahan Sosial Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Society : Pengamat Perubahan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The policy of abolishing national exams has been running for 2 years, but still has pros and cons in society. On the one hand, the abolition of national exams is considered to be able to stimulate the talents possessed by each student in depth. However, on the other hand, abolition of national exams has affected students' low enthusiasm for learning. The aim of this research is to describe students' enthusiasm for learning since the implementation of the abolition national exams. The method used is descriptive qualitative with purposive sampling. The research results revealed that the impact of the policy of abolishing national exams was proven to have reduced enthusiasm for learning which was influenced by the rational choices of each student. Students have enthusiasm for learning when there is urgency, coercion or high fear, such as during national exams. There are changes to learning methods that unconsciously make students feel confused and choose not to be active in studying. The loss of intervention from parents is due to the lack of urgency that requires students to continue studying actively. The reduction in the number of outstanding students is the impact of the decline in enthusiasm for learning among students
PEMBERDAYAAN KOMUNITAS LOKAL DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA Ligar Abdillah; Devi Intan Chadijah; Lilis Sariyanti; Yeni Sri Lestari
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i2.10227

Abstract

This research aims to analyze empowerment in the rural tourism sector which relies on local communities who do not have experience in the tourism sector. The concept used in this research is empowering local communities that rely on local knowledge and culture. The method used in this research is a qualitative case study, thus prioritizing the novelty of the case and in-depth interviews with several informants. Several previous studies in Indonesia show that rural communities have not been able to take advantage of local potential, so there is still little research that shows the success of independent villages. The results of this study describe the success of rural communities in empowering local-based communities in the tourism sector. This research is useful as a reference for the success of local community empowerment. The Pantai Indah Peunaga Pasi rural tourism development began at the end of 2018 and continues to this day. Rural tourism development is in accordance with the concept of empowering local communities, which prioritizes the independent learning process. The local community involved in it relies heavily on local potential, knowledge, and culture. As a result, local communities can improve welfare without trying to preserve the environment.Riset ini bertujuan untuk menganalisis pemberdayaan pada sektor desa wisata yang bertumpu pada komunitas lokal yang tidak memiliki pengalaman di bidang kepariwisataan. Konsep yang digunakan dalam riset ini adalah pemberdayaan komunitas lokal yang mengandalkan pengetahuan dan kebudayaan lokal. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah kualitatif studi kasus, sehingga mengutamakan kebaruan kasus dan wawancara mendalam terhadap beberapa informan. Beberapa riset terdahulu di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat desa belum bisa memanfaatkan potensi lokal, sehingga masih sedikit riset yang menunjukkan keberhasilan desa mandiri. Hasil penelitian ini menguraikan tentang keberhasilan masyarakat pedesaan dalam pemberdayaan berbasis komunitas lokal pada sektor kepariwisataan. Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya referensi tentang keberhasilan penberdayaan komunitas lokal. Pengembangan desa wisata Pantai Indah Peunaga Pasi dimulai pada akhir 2018 dan masih berlangsung sampai saat ini. Pengembangan desa wisata tersebut sangat sesuai dengan konsep pemberdayaan komunitas lokal yang mengutamakan proses belajar secara mandiri. Komunitas lokal yang terlibat di dalamnya sangat mengandalkan potensi, pengetahuan, dan kebudayaan lokal. Komunitas lokal sebagai penyelenggara desa wisata mampu meningkatkan kesejahteraan tanpa mengesampingkan upaya pelestarian lingkungan.
Communication and culture: Exploring the impact of modernization and social change in Subulussalam city through Dampeng dance Fathayatul Husna; Siti Derhana; Ainal Fitri; Lilis Sariyanti; Futri Syam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42536

Abstract

This article examines the traditional art of Dampeng Dance in Subulussalam City. Dampeng Dance is one of the distinctive traditional art forms of Subulussam, carrying deep social and cultural significance for the local community. Over time, the Dampeng Dance has undergone several transformations, including changes in the composition of dancers, performance duration, and customsThe purpose of this study is to find out how does the presence of the Dampeng dance bring about social change and communication within the community of Subulussalam city through modernization? This is inseparable from the influence of internal and external factors of the dance. This research uses the theory of social change by Soekanto, which is based on two factors: external and internal. The research employs a qualitative method with a descriptive-qualitative approach. Informants were selected through purposive sampling, focusing on individuals with substantial knowledge and understanding of Dampeng Dance tradition in Subulussalam. Data were collected through interviews, observations, and documentations, then analyzed using Reflexive Thematic Analysis. The results of this study are predominantly influenced by internal factors, such as demographic growth, the emergence of new cultural innovations, and internal social conflicts. Meanwhile, external factors such as physical environmental conditions and warfare had little impact, although cross-cultural interactions significantly influence the dance’s style and presentation. These transformations also reflect broader social changes within the community, including of Dampeng Dance is not merely an aesthetic adaptation to modernity but a representation of the complex processes of social change in the life of Subulussalam society.   Artikel ini mengkaji terkait seni tradisional Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Tari Dampeng merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Kota Subulussan yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi bagi masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Tari Dampeng telah mengalami beberapa transformasi, termasuk perubahan komposisi penari, durasi pertunjukan, dan adat istiadat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehadiran Tari Dampeng membawa perubahan sosial dan komunikasi dalam masyarakat Kota Subulussalam melalui modernisasi? Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor internal dan eksternal tarian tersebut. Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial Soekanto, yang didasarkan pada dua faktor: eksternal dan internal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu dengan cara menentukan informan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih terkait Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Sedangkan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, serta dilakukan analisis data dengan menggunakan Reflexive Thematic Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Tari Dampeng lebih dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi pertumbuhan penduduk demografis, munculnya inovasi budaya baru, serta konflik sosial internal. Sementara itu, faktor eksternal berupa kondisi lingkungan fisik dan peperangan tidak memiliki dampak yang berarti, meskipun interaksi budaya lain terbukti memberikan pengaruh kuat terhadap gaya dan bentuk penyajian tari. Transformasi ini turut membawa perubahan sosial dalam masyarakat, seperti pergeseran pola pikir, perilaku dan budaya material. Dengan demikian, perubahan Tari Dampeng bukan sekedar adaptasi estetik terhadap modernitas, melainkan juga representasi dari proses perubahan sosial yang kompleks dalam kehidupan masyarakat Subulussam.