Muhamad Sabirin
UIN Antasari Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE DYNAMICS OF THOUGHT AND POLICY OF CLASSIFICATION OF SCIENCES IN INDONESIAN ISLAMIC RELIGIOUS COLLEGES Muhammad Zainal Abidin; Muhamad Sabirin; Muhammad Taufik
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v20i2.4765

Abstract

The idea of the classification of science in Islamic Religious Colleges in Indonesia can be traced historically from the spirit of the establishment of Islamic tertiary institutions in this country, which from time to time transformed dynamically to find the ideal format of sciences. The spirit of the classification of science is basically related to efforts to bring up integralistic sciences, which no longer focuses solely on the pure religious sciences, but also accommodates general sciences. The writing of this paper uses a combination of library research and field research. The aspect of the literature to be investigated is about the policies of the Indonesian government related to the classification of science in Islamic tertiary institutions in Indonesia. In the implementation aspect, it took place in three campuses: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta and UIN Maliki Malang. An important finding from this research is that the implementation of the policy on science sciences at Islamic Religious Colleges in Indonesia is not completely smooth sailing. Strong resistance from below on the spirit of uniformity of nomenclature turned out to have an impact on the revocation of Minister of Religion Regulation No. 36/2009 concerning Determination of Science and Academic Degrees in the Environment of Religious Higher Education. Finally, PMA 33 Year 2016 no longer talks about the uniformity of faculty nomenclature, this regulation only talks about the names of study programs and academic degrees that are obtained Gagasan klasifikasi ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia dapat ditelusuri secara historis dari semangat berdirinya perguruan tinggi Islam di negeri ini dalam kurun waktu yang panjang, yang dari waktu ke waktu terus mengalami transformasi dinamis untuk menemukan formatnya yang ideal. Semangat pengklasifikasian ilmu pada dasarnya terkait dengan upaya memunculkan ilmu-ilmu integralistik, yang tidak lagi hanya menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama murni, tetapi juga mengakomodir ilmu-ilmu umum. Penulisan artikel ini memadukan antara studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Aspek literatur yang akan diteliti adalah tentang kebijakan pemerintah Indonesia terkait klasifikasi ilmu di perguruan tinggi Islam di Indonesia, dengan lokus penelitian pada tiga kampus utama, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Maliki Malang. Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa implementasi kebijakan ilmu sains di Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia tidak sepenuhnya berjalan mulus. Resistensi yang kuat dari bawah terhadap semangat penyeragaman nomenklatur ternyata berdampak pada pencabutan Peraturan Menteri Agama No. 36 Tahun 2009 tentang Penetapan Gelar Keilmuan dan Akademik di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan. Terakhir, PMA 33 Tahun 2016 tidak lagi membicarakan keseragaman nomenklatur fakultas, peraturan ini hanya membicarakan nama program studi dan gelar akademik yang diperoleh
Ethnomathematical Study of Historical Mosque Buildings in South Kalimantan Muhamad Sabirin; Muh. Fajaruddin Atsnan; Maisea Ledua Nareki
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 3 (2025): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v5i3.3446

Abstract

Kalimantan Selatan kaya ragam kekayaan budaya seperti kerajinan tangan tradisional, permainan tradisional, dan kesenian tradisional (seni musik dan seni tari), serta bangunan bersejarah seperti museum dan masjid. Salah satu kekayaan budaya yang cukup terkenal adalah bangunan masjid bersejarah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal, nasional maupun mancanegara. Penelitian ini akan memfokuskan pada tiga masjid bersejarah di Kalimantan Selatan, yaitu Masjid Sultan Suriansyah (Banjarmasin), Masjid Agung Al Karomah (Martapura), Masjid Keramat Al-Mukarramah (Banua Halat, Tapin). Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, yang bertujuan mendeskripsikan hasil temuan/eksplorasi etnomatematika pada bangunan masjid bersejarah di Kalimantan Selatan, dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu dengan menggali informasi melalui studi kepustakaan, observasi, serta wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini peneliti sendiri (human instrument), pedoman wawancara dan lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bangunan tiga masjid bersejarah di Kalimantan Selatan terdapat banyak konsep matematika di dalamnya. Secara garis besar ada dua konsep utama yang dominan ditemui pada ketiga masjid, yaitu konsep geometri dan konsep kekongruenan. Selain itu, ada konsep garis sejajar, konsep sudut, konsep transformasi geometri, konsep Pythagoras. South Kalimantan is rich in various cultural wealth, such as traditional handicrafts, traditional games, traditional arts (music and dance), and historical buildings (museums and mosques). One of the most famous cultural wealth is the historical mosques, which are visited by local, national, and foreign tourists. The particular study focused on three historical mosques in South Kalimantan. They were the Sultan Suriansyah Mosque in Banjarmasin, the Masjid Agung of Al-Karomah in Martapura, and the Masjid Keramat Al-Mukarramah in Banua Halat, Tapin). It used a descriptive qualitative study with an ethnographic approach. It aimed to describe the findings/exploration of ethnomathematics in historical mosque buildings in South Kalimantan. The data collection techniques were literature studies, observations, and interviews. The instruments were the researcher himself (human instrument), interview guidelines, and observation sheets. The data analysis technique used data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The study showed that the buildings of the three historical mosques in South Kalimantan have many mathematical concepts. Generally, two main concepts are dominant in the three mosques, namely geometry and congruence. Also, it found the concepts of parallel lines, angles, geometric transformation, and Pythagoras.