Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implikatur Percakapan Dalam Papaseng Toriolo Sebagai Bentuk Penanaman Nilai Karakter Bagi Masyarakat Suku Bugis A Rahman Rahim; Asis Nojeng; Arifuddin Arifuddin; Thamrin Paelori; Abd. Syukur
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.629 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i4.6814

Abstract

Sastra lisan merupakan wahana pemahaman gagasan pewarisan tata nilai yang timbuh di masyarakat. Bahkan, sastra lisan telah berabad-abad berperan sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implikatur percakapan dari Pappaseng Toriolo sebagai salah satu sastra lisan masyarakat suku Bugis. Penelitian ini dikategorikan ke dalam jenis penelitian deksriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah data lisan yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik Participation observasion, yaitu suatu teknik pengumpulan data yang dilaku kan dengan cara peneliti berbaur langsung dalam kehidupan masyarakat yang menjadi objek dari penelitian yang dilakukan. Hasil analisis data membuktikan bahwa paseng itu adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya yang harus selalu diingat sebagai amanah yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas dasar percaya pada diri sendiri disertai rasa tanggung jawab. Hal ini paseng adalah salah satu genre kesastraan Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat penduduknya. Jenis sastra ini merupakan warisan leluhur orang Bugis yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Isinya mengandung bermacam-macam petuah yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dalam Paseng ditemukan, antara lain, petunjuk tentang tata pemerintahan yang baik, pendidikan budi pekerti, dan nilai-nilai moral keagamaan.
Hubungan Pemahaman Agama Islam dan Perilaku Pengasuhan dengan Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Mamuju Firman Firman; Ferdinan Ferdinan; Arifuddin Arifuddin; Nurul Fadilah; Safira Nurjannah
MUMTAZ : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 5 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/mumtaz.v5i2.3935

Abstract

Stunting is a multidimensional child-growth problem shaped by biological, social, environmental, and family-behavior factors. This study examined the relationships of Islamic religious understanding and Islamic parenting behavior with a composite stunting-risk indicator among families with children under five in Mamuju Regency. A cross-sectional correlational design involved 150 parents or primary caregivers from five health-center service areas, with 30 respondents from each area, and data were collected from January to April 2025. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlations, multiple linear regression, and HC3 robust standard errors. Islamic religious understanding was positively correlated with Islamic parenting behavior (r = 0.269, p = 0.001) and weakly negatively correlated with the stunting-risk indicator (r = -0.171, p = 0.037). Islamic parenting behavior was not correlated with the stunting-risk indicator (r = -0.053, p = 0.522). In the simultaneous regression model, the coefficient for religious understanding was negative but not robust after HC3 adjustment (β = -0.169; p OLS = 0.047; p HC3 = 0.120), while parenting behavior remained nonsignificant (β = -0.007; p OLS = 0.932; p HC3 = 0.937). The model explained 2.9% of outcome variance. Thus, religious understanding was related to parenting behavior, but its relationship with the stunting-risk indicator was weak and sensitive to the estimation method, whereas the parenting score showed no statistical relationship with the outcome. Because the outcome was a composite score rather than a standard anthropometric diagnosis, the results should not be interpreted as evidence of stunting prevalence. Faith-sensitive education should therefore be integrated with nutrition, feeding practices, WASH, growth monitoring, and access to health services.