Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HIV stadium IV on ARV, Tuberculosis Paru dan Gizi Buruk Tipe Marasmus pada Anak Perempuan 10 tahun: Laporan Kasus Anniza Agustina; Kinanti Rahmadita; Shinta Nareswari
Medula Vol 12 No 4 (2022): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v12i4.539

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection remains a global problem, with nearly 38 million people infected worldwide. Tuberculosis (TB) is the most common opportunistic infection found in HIV patients. Malnutrition in children with HIV infection can be caused by various factors such as individual factors, namely the absorption and metabolism disorders of children. Reported a 10-year-old girl with complaints of fever, cough and weight loss. The patient has been diagnosed with HIV since 4 years ago. The HIV status of both parents is unknown. History of contact with adult TB, namely the patient's father. Physical examination found multiple submental and submandibular lymph nodes (KGB) measuring 1x1cm palpable soft. On auscultation of the lungs there were crackles in both lung fields. Nutritional status of malnourished patients with marasmus type. AP chest x-ray examination revealed a primary impression of TB. The medical therapy given was continuing antiretroviral drugs (tenofovir, lamivudine, and evapirenz), D5¼NS fluids 1200cc/day, antibiotics ceftriaxone 1.2g/24 hours, antipyretic paracetamol syrup 3x7.5ml, folic acid 1x5mg on the first day and 1x1mg on the next day, Vitamin C 2x50mg, vitamin B complex 1 tablet per day and salbutamol 3x1,5mg. Pulmonary TB was treated with rifampin 200 mg/day, isoniazid 140 mg/day, ethambutol 300 mg/day, and pyrazinamide 500 mg/day. Non-medical therapy in the form of oral nutrition, namely rice, side dishes, and milk with a total calorie of 55kcal/kgBW/day.
Obesitas pada Anak : Penyebab dan Konsekuensi Jangka Panjang Ananda Fitriliani; Bayu Anggileo Pramesona; Shinta Nareswari
Medula Vol 13 No 1 (2023): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v13i1.605

Abstract

Obesity in children has reached epidemic levels in both developed and developing countries. Overweight and obesity in childhood are known to have a significant impact on physical and psychological health. Overweight and obese children tend to be obese into adulthood and are more likely to develop non-communicable diseases such as diabetes and cardiovascular disease at a younger age. The mechanism of obesity is not fully understood and is believed to be a disorder with various causes. In general, overweight and obesity are assumed to result from increased calorie and fat intake. On the other hand, there is supporting evidence that excessive sugar intake through soft drinks, an increase in portion size, and a steady decline in physical activity play a major role in the increase in obesity rates worldwide. Child obesity can greatly affect children's physical, social and emotional well-being, and self-confidence. It is also associated with poor academic performance and a lower quality of life experienced by children. Many comorbid conditions such as metabolic, cardiovascular, orthopedic, neurological, hepatic, pulmonary, and renal disorders have also been seen to be associated with childhood obesity. The growing problem of childhood obesity can be slowed, if society focuses on its causes. Overweight and obesity cannot be solved through individual actions alone. A comprehensive response is needed to create a healthy environment that can support individuals in making healthy choices based on knowledge and skills related to health and nutrition. This response requires government commitment and leadership, long-term investment, and whole-of-society engagement to protect children's right to good health and well-being. Progress can be made if all actors remain committed to working together towards the common goal of ending childhood obesity. This literature review discusses obesity in children by explaining what risk factors influence and long-term consequences for children.
Gastroesophageal Reflux Pada Anak Azzahra Gadis Junita Perdana; Shinta Nareswari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastroesophageal reflux adalah pergerakan isi lambung kembali ke kerongkongan. Hal ini merupakan fenomena normal yang terjadi berkali-kali dalam sehari baik pada anak-anak maupun dewasa, tetapi, pada bayi, beberapa faktor berkontribusi untuk memperburuk fenomena ini, termasuk diet berbasis susu cair, posisi telentang dan struktural sertaketidakmatangan fungsional gastroesofagus. Gastroesophageal reflux (GER) menjadi gastroesophageal reflux disease (GERD) ketika refluks menyebabkan gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu seperti masalah pernapasan dan pertumbuhan yang buruk. Diagnosis penyakit ini ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang seperti Kuesioner Infant Gastroesophageal Questionnaire (I-GERD), endoskopi disertai biopsi esofagus dan pemeriksaan pH esofagus. Dalam kebanyakan kasus, tidak diperlukan pengobatan untuk gastroesophageal reflux karena kondisinya sembuh sendiri. Pemberian makan yang kental, terapi postural, dan perubahan gaya hidup harus dipertimbangkan jika regurgitasi sering dan bermasalah. Farmakoterapi harus dipertimbangkan dalam pengobatan gastroesophageal reflux disease dengan tanda bahaya (red flag) dengan pertimbangan pemberian terapi empiris Proton Pump Inhibitor (PPI) / antagonis reseptor histamin 2 (AH2). Operasi antirefluks diindikasikan untuk pasien dengan gastroesophageal reflux disease yang signifikan yang resisten terhadap terapi medis. Untuk mendiagnosis GERD dibutuhkan pemahaman yang jelas oleh dokter sehingga dapat mengatasi gejala dengan tepat, mencegah komplikasi jangka panjang,dan mengurangi kecemasan orang tua. Tinjauan pustaka ini membahas gejala, cara diagnostik dan pengobatan gastroesophageal reflux pada anak Kata Kunci: Anak, Gastroesophageal, Reflux
Skrinning Fitokimia Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Dari Kabupaten Way Kanan Dengan Pelarut Etanol 70% Arini Nurul Hanifah; Waluyo Rudiyanto; Shinta Nareswari; Soraya Rahmanisa
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1026

Abstract

Pendahuluan: Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) adalah salah satu jenis tanaman yang telah dipercaya memiliki manfaat dalam dunia kesehatan dengan berbagai kandungan senyawa kimia dalam ekstrak kental daunnya, meliputi flavonoid, fenol, tanin, saponin, alkaloid, terpenoid, dan steroid dengan efek farmakologi sebagai analgetik, antiinflamasi, antidiabetes melitus, antihiperkolesterolemia, antimikroba, dan sitotoksik. Untuk mengidentifikasi kandungan senyawa-senyawa tersebut yang terekstraksi dalam pelarut etanol 70%, diperlukan skrinning fitokimia. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan ekstrak daun binahong yang diperoleh melalui proses maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak yang dihasilkan kemudian dianalisis secara fitokimia menggunakan pereaksi spesifik untuk mengidentifikasi kelompok senyawa, antara lain alkaloid (pereaksi Mayer, Dragendorf, dan Bouchardat), flavonoid (uji Mg-HCl), tanin (FeCl?), saponin (uji busa), serta steroid dan terpenoid (uji Liebermann–Burchard). Hasil: Ekstrak daun binahong (A. cordifolia) dengan pelarut 70% etanol memiliki kandungan flavonoid, fenol, tanin, saponin, alkaloid, terpenoid, dan steroid ditunjukkan dari hasil masing-masing uji positif. Pembahasan: Senyawa-senyawa yang terkandung tersebut membuktikan bahwa daun binahong memiliki potensi efek farmakologi dan penggunaan pelarut etanol 70% efektif mampu mengekstraksi senyawa aktif tersebut karena bersifat semi-polar. Simpulan: Skrinning fitokimia yang dilakukan dengan uji kualitatif membuktikan bahwa daun binahong dari kabupaten Way Kanan yang sudah diekstraksi dengan pelarut etanol 70% mengandung berbagai senyawa aktif yang mampu memberikan efek farmakologi bagi makhluk hidup.