Cayetanus Andreas Masriat
Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik Santo Yohanes Penginjil Ambon, Ambon, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Digitalisasi dalam Kegiatan Katekese oleh Para Katekis pada Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Halong, Ambon Andreas Sainyakit; Willem Batlayeri; Cayetanus Andreas Masriat
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i1.11722

Abstract

Katekese adalah sebuah kegiatan pengajaran iman dalam gereja katolik. Katekis adalah tenaga atau para petugas yang melaksanakan kegiatan katekese. Saat ini digitalisasi sudah berkembang dan masuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang katekese. Katekese yang memanfaatkan saran digital disebut katekese digital. Tulisan ini hendak menelusuri bagaimana para katekis di Paroki Santo Yohanes Maria Vianney memanfaatkan sarana digital dalam kegiatan katekesenya. Dengan menggunakan metode wawancara, FGD (Focus Group Discussion), observasi, ditemukan bahwa para katekis di Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Halong Ambon, telah mengupayakan kegiatan katekese dengan memanfaatkan berbagai sarana digital, seperti aplikasi WhatsApp, YouTube, Facebook, dan beberapa sarana digital lainnya. Namun, terdapat beberapa keterbatasan tertentu, misalnya para katekis cenderung masih memanfaatkan sarana digital hanya sebatas untuk mengakses informasi, tidak untuk menciptakan sebuah konten kreatif yang baru; para partisipan dalam kegiatan katekese lebih banyak menggunakan sarana digital untuk games; keterbatasan jaringan internet dan keterbatasan biaya untuk mengakses internet. Fakta-fakta ini menjadi catatan yang patut diperhatikan oleh para katekis di Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Halong dalam setiap kegiatan katekese yang berbasis digital atau katekese digital.
Solidaritas Sosial dalam Membangun Moderasi Beragama di Maluku (Sebuah Alternatif untuk Membangun Moderasi Beragama) Masriat, Cayetanus Andreas; Ngoranubun, Willem; Kandunmas, Fransiskus
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 8, No 4 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v8i4.2024.1837-1846

Abstract

Masyarakat Maluku hidup dalam keberagaman agama. Moderasi hidup beragama merupakan salah satu pilihan dalam upaya membangun kesetaraan dan keseimbangan relasi nilai-nilai norma agama yang beragam. Membangun dialog antar agama adalah cara untuk mewujudkan moderasi beragama. Namun, selain itu solidaritas sosial dalam masyarakat Maluku adalah juga sebuah alternatif yang berguna bagi cita-cita moderasi beragama. Untuk itu, penelitian ini, dengan pendekatan kualitatif, hendak menunjukkan solidaritas sosial, terutama solidaritas mekanis, seperti  Ain Ni Ain dan Larvul Ngabal, Duan Lolat, Sita Kaka Walike, dan Pela-Gandong di Maluku sebagai modal budaya bagi moderasi beragama. Selain itu, hal ini juga menjadi model pendekatan strategis dalam relasi masyarakat yang memiliki keberagaman agama.
THE STRUCTURAL-FUNCTIONALISM THEORY AND DUAN-LOLAT RELATIONSHIP IN TANIMBAR, MOLUCCAS-INDONESIA Masriat, Cayetanus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 1, No 1 (2017): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v1i2.8

Abstract

One of the systems of relations within Tanimbar society (in Moluccas, Indonesia), that is surviving until today is the relation of the duan and lolat. This relation system greatly affects the life of Tanimbar community. In many of the events of life, especially with regard to the life cycle of Tanimbar people, the relation between duan and lolat is always placed as an important factor. Because it is considered as on the most important kind of relationship, West- Southeast Moluccas Regency Government takes the duan and lolat as the symbol of West- Southeast Moluccas Regency.
Solidaritas Sosial dalam Membangun Moderasi Beragama di Maluku (Sebuah Alternatif untuk Membangun Moderasi Beragama) Masriat, Cayetanus Andreas; Ngoranubun, Willem; Kandunmas, Fransiskus
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 8, No 4 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v8i4.2024.%p

Abstract

Masyarakat Maluku hidup dalam keberagaman agama. Moderasi hidup beragama merupakan salah satu pilihan dalam upaya membangun kesetaraan dan keseimbangan relasi nilai-nilai norma agama yang beragam. Membangun dialog antar agama adalah cara untuk mewujudkan moderasi beragama. Namun, selain itu solidaritas sosial dalam masyarakat Maluku adalah juga sebuah alternatif yang berguna bagi cita-cita moderasi beragama. Untuk itu, penelitian ini, dengan pendekatan kualitatif, hendak menunjukkan solidaritas sosial, terutama solidaritas mekanis, seperti  Ain Ni Ain dan Larvul Ngabal, Duan Lolat, Sita Kaka Walike, dan Pela-Gandong di Maluku sebagai modal budaya bagi moderasi beragama. Selain itu, hal ini juga menjadi model pendekatan strategis dalam relasi masyarakat yang memiliki keberagaman agama. Kata kunci: Solidaritas Sosial; Moderasi Beragama; Keberagaman Agama
Mas Kawin dan Kehormatan Perempuan: Studi Kualitatif Tradisi Meriam Lela pada Masyarakat Kei-Maluku Hateyong, Elizabeth; Seralarat, Kornelis; Masriat, Cayetanus; Refo, Ignasius Samson S.
Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Budaya Vol 10 No 1 (2024): Ideas: Pendidikan, Sosial, dan Budaya (Februari)
Publisher : Ideas Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32884/ideas.v10i1.1815

Abstract

This research explores the tradition of lela cannon as bride-price in the Kei Islands, focusing on its complex social and cultural relationships. The objective is to comprehend the profound meaning of lela cannon and discuss it within the context of respecting women. A qualitative methodology was utilized, employing the snowball technique for data collection. The study reveals the rich significance of lela cannon and socially and culturally illustrates gender dynamics, where on one hand, women symbolically elevate their social status, and on the other, are degraded to objects of exchange. These findings add a new dimension to the understanding of bridal dowry. The study offers new insights into the social impacts of bridal dowry, including the pressures faced by women and their autonomy.
Conflict Resolution in Post-Conflict Maluku: Integrating Lewis Coser's Safety Valve Theory and Pope Francis' Theology of Reconciliation Cayetanus Andreas Masriat; Artemio P. Millo Jr.
Peradaban Journal of Religion and Society Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjrs.v5i2.1288

Abstract

Sustainable conflict resolution in multicultural societies requires not only effective mechanisms for managing social tensions but also moral transformation capable of restoring fractured relationships. Although sociological and theological approaches to reconciliation have been widely discussed, their integration remains underexplored, particularly in the context of post-conflict Maluku. This study analyzes the relationship between Lewis Coser's safety valve theory and Pope Francis' theology of reconciliation and examines their relevance for conflict resolution in post-conflict Maluku. This study employs a qualitative library research design with a conceptual analysis approach. Primary sources include Lewis Coser's writings on conflict theory and Pope Francis' encyclical Fratelli Tutti, supported by scholarly literature on conflict resolution and the Maluku communal conflict. The findings reveal that safety valve mechanisms, including dialogue, customary institutions, and the leadership of religious and traditional authorities, play an important role in preventing the escalation of communal conflict. However, sustainable peace requires more than institutional conflict management. Pope Francis' emphasis on love, forgiveness, justice, and fraternity complements Coser's sociological perspective by providing the moral foundations necessary for enduring reconciliation. This study proposes an integrative socio-religious framework that combines structural conflict management with moral reconciliation, offering a conceptual contribution to conflict resolution and peacebuilding in multicultural societies. Resolusi konflik yang berkelanjutan dalam masyarakat multikultural tidak hanya memerlukan mekanisme yang efektif untuk mengelola ketegangan sosial, tetapi juga transformasi moral yang mampu memulihkan hubungan antarmanusia yang retak. Meskipun pendekatan sosiologis dan teologis terhadap rekonsiliasi telah banyak dikaji, integrasi keduanya masih jarang dibahas, khususnya dalam konteks Maluku pascakonflik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara teori safety valve Lewis Coser dan teologi rekonsiliasi Paus Fransiskus serta mengkaji relevansinya bagi resolusi konflik di Maluku pascakonflik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan analisis konseptual. Sumber utama penelitian meliputi karya-karya Lewis Coser tentang teori konflik dan ensiklik Fratelli Tutti karya Paus Fransiskus, yang didukung oleh berbagai publikasi ilmiah mengenai resolusi konflik dan konflik komunal di Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme safety valve, seperti dialog, lembaga adat, serta kepemimpinan tokoh agama dan tokoh adat, berperan penting dalam mencegah eskalasi konflik komunal. Namun, perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat dicapai hanya melalui pengelolaan konflik secara institusional. Penekanan Paus Fransiskus pada kasih, pengampunan, keadilan, dan persaudaraan melengkapi perspektif sosiologis Lewis Coser dengan menyediakan landasan moral bagi rekonsiliasi yang berkelanjutan. Penelitian ini menawarkan suatu kerangka konseptual sosio-religius yang mengintegrasikan pengelolaan konflik secara struktural dengan rekonsiliasi moral sebagai kontribusi konseptual bagi kajian resolusi konflik dan pembangunan perdamaian dalam masyarakat multikultural.