Agustina Marwati
Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memahami Nilai Budaya yang Terkandung dalam Lagu Tradisional Suku Ohey, Papua Agustina Marwati; Kadek Indra Wijaya
IKONIK : Jurnal Seni dan Desain Vol 5, No 1 (2023): JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/ijsd.v5i1.2075

Abstract

Hampir setiap masyarakat etnis di Indonesia mempunyai lagu tradisional yang digunakan dalam berbagai fungsi. Termasuk Suku Ohey di Kabupaten Jayapura, Papua yang sering melaksanakan acara adat, lagu tradisional disertakan sebagai medium pesan. Namun demikian, banyak nilai yang tersimpan di dalamnya yang belum terungkap karena kurangnya translasi bahasa yang menyebabkan tidak dipahaminya arti lagu lagu tersebut. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menguak nilai luhur yang terdapat pada lagu lagu tradisional Suku Ohey agar dapat dipahami. Pentlitian ini menggunakan model kualitatif dengan pendekatan etnografi. Metode pengumpulan data menggunakan teknik simak, catat dan analisis. Data diperoleh dengan cara observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai yang terkandung dalam lagu lagu Suku Ohey berkaitan erat dengan alam lingkungan, persatuan, kekerabatan dan pemujaan pada nenek moyang. Lagu lagu tersebut seringkali difungsikan sebagai lagu tarian dan pesta adat dan dapat dinyanyikan oleh siapapun. Hasil pembahasan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian selanjutnya yang berupaya untuk memahami makna dalam lagu lagu tradisional pada etnis lain baik di Papua maupun Indonesia secara umum.
Peningkatan Skill Perfomatif Tari Cak Dalam Rangka Dharma Shanti Parisadha Hindu Dharma Indonseia (Phdi) Provinsi Papua Agustina Marwati; I Dewa Ketut Wicaksana
IKONIK : Jurnal Seni dan Desain Vol 5, No 2 (2023): JULI 2023
Publisher : LPPM Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/ijsd.v5i2.14326

Abstract

Tulisan ini menggambarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan skill performatif tari Cak dengan nuansa Hindu Bali dan budaya Papua. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PHDI Provinsi Papua, PHDI Kota Jayapura, Kepolisian Daerah Papua, umat Hindu Kota Jayapura, dan ISBI Tanah Papua. Proses pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai tahap, termasuk pelatihan tari, pelatihan drama tari Topeng Bondres, dan pelatihan musik iringan tari dengan menggunakan alat musik gamelan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan keterampilan dan performa tari para penari Cak. Selain itu, melalui pelatihan tari fauna, para penari juga mampu menguasai teknik tari Burung dan Kijang yang kemudian diimplementasikan dalam dramatari Cak. Pelatihan drama tari Topeng Bondres juga menghasilkan sepasang penari yang kompak menguasai alur cerita dan mampu menghidupkan suasana pentas. Dalam pelatihan musik iringan tari, para pemain gamelan berhasil menguasai musik tari di setiap bagian pertunjukan dan mampu menampilkan transisi musik dengan halus dan lancar. Seluruh proses dan luaran dari kegiatan ini kemudian diwujudkan dalam sebuah pementasan dramatari Cak yang bernuansa Hindu Bali dengan Budaya Papua. Kegiatan ini memberikan manfaat yang signifikan, antara lain peningkatan keterampilan dan pemahaman seni budaya, pelestarian warisan budaya, pengembangan kolaborasi antarbudaya, dan peningkatan apresiasi terhadap seni dan budaya.
Politik Ekonomi Liberal dan Politik Etis dalam Masyarakat Malind Merauke: Membaca Ulang Karya Etnografi J. Van Baal melalui Lantunan Tutur Septina Layan; Agustina Marwati; Markus Rumbino; Sara Dewanti Purba
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores the intersections between colonial political policies and indigenous knowledge systems in Papua, focusing on the Malind society in Merauke. It examines the impact of Liberal Economic Policy (1870) and the Ethical Policy (1901) as colonial frameworks that shaped the representation of indigenous peoples in the Dutch East Indies. Van Baal’s writings, particularly his ethnographic descriptions of the Malind, are discussed as colonial narratives that documented mythologies, rituals, and kinship systems while simultaneously reproducing Eurocentric interpretations. Through a critical postcolonial reading, this study positions Van Baal’s works as part of a broader archive that legitimized colonial authority and economic exploitation. At the same time, the article highlights the oral traditions of the Malind narratives chant as a form of local epistemology that preserves ecological knowledge, social structures, and territorial rights. Unlike colonial archives, these oral traditions constitute living narratives that affirm Malind identity and their relationship with the natural environment. The comparison reveals a tension between colonial narratives that objectified indigenous societies and local narratives that assert autonomy and resilience. Methodologically, this research employs qualitative textual analysis, combining literature review of colonial archives with interpretative analysis of Malind oral traditions. The findings indicate that while Liberal Economic and Ethical Policies institutionalized exploitation and paternalism, Malind oral traditions provided counter-narratives of ecological balance and communal sovereignty. This study contributes to the discourse on decolonizing knowledge by showing how local narratives challenge colonial epistemologies and remain relevant for contemporary reflections on cultural identity and environmental justice. Keywords: Politics of Liberal Economy; Ethical Policy; Colonial Narrative; Oral Tradition; Malind Society
Ekspresi Musikal Black Brothers sebagai Resistensi Budaya Papua pada Masa Orde Baru Septina Layan; Sara Dewanti Purba; Markus Rumbino; Agustina Marwati
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji ekspresi musikal Black Brothers sebagai strategi resistensi kultural terhadap dominasi negara pada masa Orde Baru. Sebagai kelompok musik legendaris asal Papua, Black Brothers tidak hanya dikenal karena kontribusinya dalam musik populer Indonesia, tetapi juga melalui peran penting mereka dalam membangun kesadaran identitas, martabat, dan solidaritas kolektif masyarakat Papua. Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan berekspresi dibatasi dan identitas nasional dihomogenkan, musik menjadi ruang artikulasi simbolik bagi kelompok terpinggirkan untuk menyampaikan kritik dan aspirasi tanpa konfrontasi langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan studi literatur. Sumber data mencakup syair lagu, dokumentasi pertunjukan, arsip media, serta kajian akademik terkait musik, resistensi budaya, dan diaspora Afro-Melanesia. Analisis dilakukan menggunakan kerangka teori resistensi kultural, performativitas, dan identitas rasial. Temuan menunjukkan bahwa Black Brothers mengartikulasikan perlawanan melalui penggunaan metafora dalam lirik, pengolahan genre reggae-rock yang identik dengan tradisi Afro-diaspora, serta performativitas panggung yang menegaskan kebanggaan rasial Melanesia. Musik Black Brothers tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi menjadi medium politik kultural yang menyuarakan trauma kolonial, ingatan kolektif, dan harapan kebebasan Papua secara simbolis. Penelitian ini memperkuat pemahaman tentang peran musik sebagai ruang perlawanan non-kekerasan dalam konteks politik represif, sekaligus membuka ruang penelitian lanjutan mengenai praktik estetis Papua sebagai bentuk diplomasi budaya dan advokasi memori sejarah dalam komunitas pascakolonial. Kata kunci: Black Brothers, Papua, resistensi kultural, Orde Baru, Ekspresi Musikal
Eyo Gitar sebagai Medium Ekspresi Lisan dan Identitas Komunal Masyarakat Pegunungan Papua : Nataniel Kogoya; siswanto; Markus Rumbino; Agustina Marwati
Pacific Performing Arts Review Vol. 2 No. 1 (2026):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examined Eyo Gitar as a medium of oral expression and communal identity representation in highland Papuan society, specifically in the Lanny Jaya region of Papua Pegunungan. The research employed qualitative ethnographic methods, including participant observation, in-depth interviews, and audio-visual documentation conducted over five months (August–December 2025) with instrument makers, senior players, traditional leaders, and youth learners. The findings revealed that the production of Eyo Gitar involved collective work with clear role divisions, reflecting the solidarity system and communal values fundamental to Papuan social life. The selection of wood materials such as lem eyo or wuyu eyo was based not only on physical and acoustic properties but also on spiritual considerations, demonstrating a sacred ecological relationship between humans and nature. Eyo Gitar was performed in various social contexts including welcoming guests, accompanying wedding processions, and bakar batu ceremonies, with songs containing personal narratives, family histories, and emotional reflections that functioned as embodied memory connecting present generations with ancestors and traditional values. The performativity of Eyo Gitar—through the combination of guitar plucking, foot stomping, and emotional singing—created participatory and communal musical experiences that strengthened solidarity and collective identity. However, the preservation of Eyo Gitar faced several challenges including limited regeneration of players and makers, minimal documentation, external cultural influences, and environmental degradation threatening material availability. Despite these challenges, significant potential existed through community initiatives, educational institution involvement, and researcher interest in documenting and promoting Eyo Gitar as Papuan cultural heritage. This study confirmed that Eyo Gitar was not merely a musical instrument but a living system of knowledge integrating aesthetic, social, spiritual, and ecological dimensions in a distinctive musical practice. The research recommended collaborative and community-based approaches to support the sustainability of Eyo Gitar through local curriculum integration, participatory documentation, and ecological conservation programs.