Sara Dewanti Purba
Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengembangan Inovasi Kreatif Fashion Bagi Anak Muda melalui Pelatihan dan Pendampingan di PPA ID 0431 GPdI Yerusalem Baru Nathalia Dwijayanti; Sara Dewanti Purba; Daud Vernando Waay
Abdimas Pedagogi: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um050v9i12026p51-55

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas anak muda dalam bidang fashion melalui pelatihan komprehensif yang mencakup keterampilan menjahit, inovasi desain busana, serta pemasaran digital. Pusat Pengembangan Anak (PPA) ID 0431 GPdI Yerusalem Baru di Kota Jayapura, menjadi lokasi kegiatan di mana anak muda yang berada dikelas tata busana mendapatkan pelatihan yang lebih mendalam. Permasalahan yang dihadapi di PPA adalah keterbatasan dalam keterampilan teknis menjahit, kurangnya inovasi dalam menciptakan desain yang kompetitif. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini melibatkan pelatihan menjahit dari dasar, pengembangan inovasi dalam desain, serta strategi pemasaran melalui media sosial dan marketplace. Dengan pengabdian ini diharapkan dapat meningkatan keterampilan peserta dalam menghasilkan produk fashion yang inovatif dan bernilai jual. Dengan pelatihan dan pendampingan yang terstruktur, pengabdian ini dapat memberikan solusi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian ekonomi anak muda, serta memperluas akses mereka terhadap pasar fashion modern yang semakin kompetitif.
Pelatihan Teknik Penggunaan Lagu untuk Pembelajaran Karakter Anak Berbasis Tradisi Mako Mako pada Guru Paud Sara Dewanti Purba; Markus Rumbino; Nathalia Dwijayanti; Zacheus Bomani Meokbun
Indonesia Bergerak : Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Indonesia Bergerak : Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/inber.v4i3.1575

Abstract

Sentani is a region rich in cultural traditions and local wisdom that continue to be preserved, one of which is the Mako-Mako tradition, a communal eating practice uniquely carried out by children aged 7 to 13 along the lakeshore or upstream areas of rivers. This tradition not only persists amid modernization and technological development but also embodies important values, including togetherness, environmental awareness, and conflict-resolution skills. However, in the era of globalization, local cultural values are increasingly marginalized, particularly in early childhood education. This community service program aimed to develop learning media in the form of songs based on the Mako-Mako tradition and to train early childhood teachers in their use for character education at PAUD Melody Kids. The program employed a participatory approach consisting of three main stages: the creation of songs incorporating values derived from the Mako-Mako tradition, teacher training on the use of the songs as learning media, and the integration of the songs into character education activities. The results indicated that the Mako-Mako tradition-based songs provided an engaging and contextual learning medium for introducing local cultural values to children. The training also enhanced teachers’ understanding and ability to incorporate songs into character education activities. This approach has implications for strengthening culturally responsive early childhood education and supporting the preservation of local wisdom through creative and child-friendly learning media.
Politik Ekonomi Liberal dan Politik Etis dalam Masyarakat Malind Merauke: Membaca Ulang Karya Etnografi J. Van Baal melalui Lantunan Tutur Septina Layan; Agustina Marwati; Markus Rumbino; Sara Dewanti Purba
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores the intersections between colonial political policies and indigenous knowledge systems in Papua, focusing on the Malind society in Merauke. It examines the impact of Liberal Economic Policy (1870) and the Ethical Policy (1901) as colonial frameworks that shaped the representation of indigenous peoples in the Dutch East Indies. Van Baal’s writings, particularly his ethnographic descriptions of the Malind, are discussed as colonial narratives that documented mythologies, rituals, and kinship systems while simultaneously reproducing Eurocentric interpretations. Through a critical postcolonial reading, this study positions Van Baal’s works as part of a broader archive that legitimized colonial authority and economic exploitation. At the same time, the article highlights the oral traditions of the Malind narratives chant as a form of local epistemology that preserves ecological knowledge, social structures, and territorial rights. Unlike colonial archives, these oral traditions constitute living narratives that affirm Malind identity and their relationship with the natural environment. The comparison reveals a tension between colonial narratives that objectified indigenous societies and local narratives that assert autonomy and resilience. Methodologically, this research employs qualitative textual analysis, combining literature review of colonial archives with interpretative analysis of Malind oral traditions. The findings indicate that while Liberal Economic and Ethical Policies institutionalized exploitation and paternalism, Malind oral traditions provided counter-narratives of ecological balance and communal sovereignty. This study contributes to the discourse on decolonizing knowledge by showing how local narratives challenge colonial epistemologies and remain relevant for contemporary reflections on cultural identity and environmental justice. Keywords: Politics of Liberal Economy; Ethical Policy; Colonial Narrative; Oral Tradition; Malind Society
Ekspresi Musikal Black Brothers sebagai Resistensi Budaya Papua pada Masa Orde Baru Septina Layan; Sara Dewanti Purba; Markus Rumbino; Agustina Marwati
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji ekspresi musikal Black Brothers sebagai strategi resistensi kultural terhadap dominasi negara pada masa Orde Baru. Sebagai kelompok musik legendaris asal Papua, Black Brothers tidak hanya dikenal karena kontribusinya dalam musik populer Indonesia, tetapi juga melalui peran penting mereka dalam membangun kesadaran identitas, martabat, dan solidaritas kolektif masyarakat Papua. Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan berekspresi dibatasi dan identitas nasional dihomogenkan, musik menjadi ruang artikulasi simbolik bagi kelompok terpinggirkan untuk menyampaikan kritik dan aspirasi tanpa konfrontasi langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan studi literatur. Sumber data mencakup syair lagu, dokumentasi pertunjukan, arsip media, serta kajian akademik terkait musik, resistensi budaya, dan diaspora Afro-Melanesia. Analisis dilakukan menggunakan kerangka teori resistensi kultural, performativitas, dan identitas rasial. Temuan menunjukkan bahwa Black Brothers mengartikulasikan perlawanan melalui penggunaan metafora dalam lirik, pengolahan genre reggae-rock yang identik dengan tradisi Afro-diaspora, serta performativitas panggung yang menegaskan kebanggaan rasial Melanesia. Musik Black Brothers tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi menjadi medium politik kultural yang menyuarakan trauma kolonial, ingatan kolektif, dan harapan kebebasan Papua secara simbolis. Penelitian ini memperkuat pemahaman tentang peran musik sebagai ruang perlawanan non-kekerasan dalam konteks politik represif, sekaligus membuka ruang penelitian lanjutan mengenai praktik estetis Papua sebagai bentuk diplomasi budaya dan advokasi memori sejarah dalam komunitas pascakolonial. Kata kunci: Black Brothers, Papua, resistensi kultural, Orde Baru, Ekspresi Musikal
Struktur Melodi, Ekspresi Musikal dan Variasi Dialek dalam Lantunan Wor Randan pada Ritual Fan Nanggi Biak Numfor Yakonias Rumbrawer; Septina Layan; Sara Dewanti Purba
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wor randan merupakan bentuk ekspresi vokal tradisional masyarakat Biak yang memiliki peran penting dalam berbagai ritus adat, salah satunya adalah ritual Fan Nanggi. Sebagai bagian dari warisan budaya lisan, Wor Randan mengandung nilai-nilai spiritual, historis, dan sosial yang diwujudkan melalui struktur melodi, ekspresi musikal, serta penggunaan bahasa yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur melodi, bentuk ekspresi musikal, dan variasi dialek yang muncul dalam Wor Randan pada ritual Fan Nanggi di empat wilayah adat Kabupaten Biak Numfor: Oridek, Swandiwe, Barmani, dan Napa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pelantun Wor Randan, serta dokumentasi audio-visual. Analisis dilakukan terhadap aspek musikal (struktur melodi, ritme, tempo, dan dinamika), ekspresi musikal (intonasi, artikulasi, serta suasana emosional), dan unsur linguistik (interferensi serta variasi dialek lokal dalam teks Wor randan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur melodi Wor Randan memiliki pola repetitif dan melismatik yang berbeda-beda di tiap wilayah adat, mencerminkan karakter lokal masing-masing. Ekspresi musikal mengandung nuansa emosional yang kuat dan berfungsi sebagai sarana komunikasi spiritual dalam konteks ritual. Selain itu, ditemukan adanya interferensi dialek yang memperkaya keberagaman bentuk teks Wor randan, memperlihatkan dinamika linguistik antar wilayah adat Biak Numfor. Temuan ini memperkuat posisi Wor randan tidak hanya sebagai warisan musik vokal, tetapi juga sebagai representasi identitas kultural dan linguistik masyarakat Biak. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap dokumentasi, pelestarian, dan revitalisasi seni vokal tradisional yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal Papua.