Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NEGOSIASI GENDER DALAM PRAKTIK BESIRU: PERAN IBU RUMAH TANGGA DALAM STRATEGI ADAPTASI EKONOMI KELUARGA PETANI DI DUSUN SEJARI, SUMBAWA Putri Liana; Imran Siswadi
Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ekonomi & Bisnis
Publisher : Pusat Riset dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jeb.v14i2.2579

Abstract

This study examines gender negotiation in the practice of besiru and explores the role of housewives in the economic adaptation strategies of farmer households in Dusun Sejari, Plampang District, Sumbawa Regency. Farmer households in rural areas continue to face economic uncertainty due to fluctuating agricultural yields, climate change, and limited access to production resources. In this context, besiru, a local collective labor practice based on reciprocity, functions not only as a traditional form of mutual cooperation but also as a social arena that reflects gender relations within agrarian communities. This study employed a qualitative descriptive approach with a sociological ethnographic perspective. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving 11 informants consisting of housewives, male farmers, and community leaders. The findings show that housewives play a significant role in sustaining besiru practices through labor contribution, food preparation, work coordination, and the maintenance of social networks within the community. However, women’s contributions remain structurally marginalized because domestic responsibilities and decision-making authority are still largely shaped by patriarchal norms. Despite these limitations, women continue to negotiate their roles and build agency through active participation in collective agricultural and community-based economic activities. Thus, besiru represents not only an economic adaptation strategy for farmer households but also a dynamic social space where gender relations are continuously negotiated in everyday rural life.
Implementasi Hukum Lingkungan dalam Konversi Lahan: Perspektif Sosiologi Hukum (Deforestasi, Konsumtivisme, dan Pertanian Jagung di Bima) Imran Siswadi; Supriadi Supriadi
EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI ) Vol 7 No 2 (2024): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v7i2.2992

Abstract

Konversi lahan untuk pertanian jagung di Kabupaten Bima telah menjadi fenomena signifikan dengan dampak besar terhadap lingkungan dan pola sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi hukum lingkungan terkait konversi lahan, dampak sosial-ekonomi dari perubahan pola pertanian, dan bagaimana perspektif sosiologi hukum dapat menjelaskan interaksi antara kebijakan, struktur sosial, dan perilaku masyarakat dalam konteks tersebut. Konversi lahan memicu deforestasi yang mengancam ekosistem. lemahnya implementasi regulasi seperti Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 dan peraturan terkait. Di sisi sosial, orientasi pertanian jagung sebagai komoditas ekspor telah mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih konsumtif, memunculkan mentalitas miskin, dan meningkatkan tekanan terhadap lahan. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara hukum, perubahan sosial, dan dampak lingkungan dalam implementasi hukum lingkungan sangat kompleks dan saling mempengaruhi. Lemahnya penegakan hukum dan pengawasan, serta konflik antara kebutuhan ekonomi lokal dan kebijakan konservasi, menjadi tantangan utama dalam mengatasi deforestasi. Diperlukan pendekatan kebijakan terpadu yang mencakup penguatan penegakan hukum, penyuluhan tentang keberlanjutan lingkungan, pemberian insentif ekonomi berbasis lingkungan, dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Dengan reformasi kebijakan berbasis bukti dan inklusif, Kabupaten Bima dapat mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi melalui pertanian jagung dan pelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan model pembangunan berkelanjutan yang dapat menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia.