Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRAINING OF SCIENTIFIC PAPERS WRITING FOR HIGH SCHOOL TEACHER TO IMPROVE THE QUALITY OF THE TEACHER Rina Herowati; Gunawan Pamuji Widodo; Supriyadi Supriyadi; Sunarti Sunarti; Yane Dila Keswara; Nuraini Dewi Purnamasari
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.43 KB) | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v2i1.176

Abstract

ABSTRACTThe professional development of the teachers through the writing of scientific papers needs to be improved. The obstacle faced by teachers so they did not write scientific paper mainly are caused by limitation of time and not understanding the rules of writing a scientific paper. This devotional activity aims to improve  teachers' motivation to write scientific papers and improve the ability for the teachers to write scientific papers to produce as many articles as published in scientific journals. The method used is situational analysis by interviewing the principal and distributing questionnaires. Furthermore, the preparation of materials, lectures and discussions, as well as accompaniment of scientific writing until the participants successfully publish their articles in scientific journalsKeywords: quality improvement, scientific papers, teachers ABSTRAKPengembangan profesionalitas guru melalui penulisan karya ilmiah perlu ditingkatkan. Kendala yang dihadapi guru sehingga tidak menulis karya ilmiah terutama adalah belum ada waktu dan belum paham aturan penulisan karya ilmiah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi guru menulis karya ilmiah dan  meningkatkan kemampuan guru menulis karya ilmiah hingga dihasilkan sebanyak mungkin artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Metode yang dilakukan adalah analisis situasi dengan wawancara dengan kepala sekolah dan penyebaran kuesioner.  Selanjutnya dilakukan penyusunan materi, ceramah dan diskusi, serta pendampingan penulisan karya ilmiah hingga peserta berhasil menerbitkan artikelnya di jurnal ilmiah.KataKunci: guru, karya ilmiah, peningkatan kualitas
Pelatihan dan penyuluhan penggunaan alat cek kolesterol pada kader Posyandu Iqbal Wahid Abdullah; Gunawan Pamuji Widodo; Agus Gunawan; Agatha Tyva Julian Atmajaningtyas; Chossy Fradine; Erika Kiky Septiana; Putri Rovita Sari; Anangga Widhuta; Dwi Nooriskandar Sugiyo; Melinda Hidayatul Munawaroh; Almas Amalul Fasha; Zulfian Laila Aziz; Amara Fismasari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4085

Abstract

Background: Hypercholesterolemia is a major modifiable risk factor for atherosclerosis, coronary heart disease, and stroke. However, public awareness regarding blood cholesterol levels in Indonesia remains low, particularly among community health volunteers the front line for early disease detection at the local level. Purpose: To increase the knowledge of Integrated Health Post volunteers regarding hypercholesterolemia and to provide practical skills in operating Point-of-Care Testing (POCT) cholesterol devices. Method: This community service activity consisted of an educational session and training for volunteers, conducted in Serengan Urban Village, Serengan District, Surakarta City, Central Java. Fifteen Integrated Health Post volunteers participated, serving as the target audience for education aimed at improving their knowledge and proficiency in conducting cholesterol screenings using POCT. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activity. Proficiency levels were evaluated through observation of simulations where volunteers practiced using the POCT cholesterol device. These evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the education and training program. Results: The results showed that the mean age of participants was 27.7 years, with the majority (11 participants or 73.3%) falling within the 26–35 age range. Most participants (9 or 60.0%) had a high school education. There was a notable increase in the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge: rising from 2 participants (13.3%) before the activity to 11 participants (73.3%) afterward. Regarding proficiency, all participants (100.0%) were able to use the POCT device independently following the training. This indicates that the educational and training materials were effectively conveyed to and understood by the volunteers. Conclusion: Interactive educational sessions and training on the use of point-of-care testing (POCT) cholesterol devices proved effective in enhancing health volunteers' knowledge of hypercholesterolemia and improving their practical skills in independently operating the POCT equipment. Increased knowledge and proper technical training for volunteers will contribute positively by ensuring valid and reliable screening results for the community. Suggestion: It is recommended that similar activities be conducted on a regular and sustainable basis, supported by adequate equipment and consumables as well as routine guidance from the Community Health Center, thereby enabling Integrated Health Post volunteers to play an optimal role as the frontline for the early detection of non-communicable diseases within the community. Keywords: Cholesterol screening training; Community health volunteers; Health education; Hypercholesterolemia Pendahuluan: Hiperkolesterolemia merupakan factor risiko utama yang dapat dimodifikasi untuk aterosklerosis, penyakit jantung coroner,dan stroke. Namun kesadaran masyarakat di Indonesia mengenai kadar kolestrol darah masih rendah, khususnya dikalangan kader kesehatan masyarakat yang merupakan garda terdepan dalam deteksi dini penyakit tingkat lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu mengenai hiperkolesterolemia dan memberikan keterampilan praktis dalam mengoprasikan alat tes kolestrol POCT. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan edukasi dengan pelatihan pada kader yang dilaksanakan di Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan dikuti 15 kader Posyandu untuk menjadi partisipan sebagai sasaran pemberian edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemeriksaan kolesterol berbasis point of care testing (POCT). Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik penggunaan alat cek kolesterol POCT. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan pemeriksaan kolesterol dengan POCT. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 27.7 tahun dan mayoritas berada direntang usia 26-35 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (73.3%). Sebagian besar tingkat pendidikan partisipan adalah Sekolah Menengah Atas yaitu sebanyak 9 partisipan (60.0%). Secara porporsional terdapat peningkatan pengetahuan partisipan dalam kategori baik dari sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 partisipan (13.3%) menjadi menjadi sebanyak 11 partisipan (73.3%). Sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan setelah kegiatan pelatihan, seluruh partisipan (100.0%) mampu menggunakan POCT secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa materi kegiatan edukasi dan pelatihan dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh kader. Simpulan: Kegiatan penyuluhan interaktif dan pelatihan penggunaan alat cek kolesterol point of care testing (POCT) terbukti efektif meningkatkan pengetahuan kader mengenai hiperkolesterolemia dan juga meningkatkan keterampilan praktik seluruh kader dalam mengoperasikan alat POCT secara mandiri. Peningkatan pengetahuan dan pelatihan teknis yang benar bagi kader akan memberikan kontribusi positif berupa hasil pemeriksaan yang valid dan dapat dipercaya pada masyarakat. Saran: Diharapkan untuk kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan dengan dukungan alat dan bahan habis pakai yang memadai, disertai pendampingan rutin dari Puskesmas, sehingga kader Posyandu dapat berperan optimal sebagai ujung tombak deteksi dini penyakit tidak menular di tingkat masyarakat.