Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perancangan Agrowisata di Desa Hurung Bunut Kabupaten Gunung Mas Vinolia Florensa; Noor Hamidah; Theresia Susi
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 20, No 1: Januari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v20i1.19107

Abstract

Desa Hurung Bunut telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak tahun 2016. Desa Hurung Bunut difokuskan Pemerintah Daerah sebagai agrowisata. Potensi alami yang dimiliki Desa Hurung Bunut antara lain perkebunan jagung, padi, singkong, pisang dan budidaya madu kelulut serta sanggar tari yang dapat menjadi destinasi kebudayaan. Pengelolaan wisata agro di Desa Hurung Bunut sampai saat ini berjalan masih kurang optimal dan belum ada perencanaan dengan baik. Hal itu dapat dilihat dari penataan pola massa yang masih kurang teratur dan tidak terarah, sirkulasi yang tidak jelas maupun tidak ada penanda yang jelas. Oleh sebab itulah kawasan tersebut tidak punya atraksi yang menarik ditambah lagi dengan kurangnya fasilitas di dalam objek wisata Desa Hurung Bunut menjadikannya tidak bisa dinikmati oleh pengunjung. Metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berikut beberapa tahap yang dilakukan yaitu: 1) metode penulisan, antara lain pengumpulan data, analisis dan sintesa. 2) metode perancangan, antara lain rekognisi, fase kreatif dan implementasi. Berkaitan dengan perancangan agrowisata di Desa Hurung Bunut Kabupaten Gunung Mas, maka perlu tetap mempertahankan kelestarian alam yang masih terjaga tanpa mengganggu ekosistem yang ada. Hal ini yang menjadi penyelesaian dimana berkaitan dengan teori mengenai pendekatan arsitektur organik yang menyatakan bahwa arsitektur organik adalah filosofi arsitektur dimana tempat manusia berkegiatan selaras dengan alamnya. Penyusunan karya ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan kawasan agrowisata di Desa Hurung Bunut Kabupaten Gunung Mas dengan pendekatan arsitektur organik yang menyesuaikan dengan potensi lingkungan serta memperhatikan penataan pola massa, sirkulasi dan karakter visual.
KINERJA RUAS JALAN KORIDOR JALAN TJILIK RIWUT AKIBAT TATA GUNA LAHAN DI SEKITAR KORIDOR BERDASARKAN KONTRIBUSI VOLUME LALU LINTAS Theresia Susi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Kota Palangka Raya sebagai kota yang sedang berkembangadalah terjadinya alih fungsi tata guna lahan permukiman menjadi perdagangan jasa perkantoranyang cenderung terjadi di sepanjang ruas-ruas jalan utama dengan kepadatan lalu-lintas tinggi.Ruas jalan yang paling banyak mengalami perubahan adalah koridor Jalan Tjilik Riwut. Perubahanguna lahan ini berpotensi menghasilkan pergerakan lokal dengan jumlah yang besar terlebih lagi jikaditinjau dari fungsinya sebagai jalan arteri primer sekaligus jalan kota, dimana dampak dari pertambahanvolume lalu lintas lokal ini dengan sendirinya akan mempengaruhi volume lalu lintas regional yangmelewati koridor Jalan Tjilik Riwut dan dapat mengakibatkan menurunnya kinerja ruas jalan koridorJalan Tjilik Riwut.
KAJIAN STRATEGI MARKETING THE PEAK AT SUDIRMAN Theresia Susi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 7 No. 02 (2012): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 7 Nomor 2 Tahun 2012
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena meningkatnya nilai tanah/bangunan seiring dengan perkembangan ekonomi suatu wilayah atau kawasan dimana tanah/ bangunan tersebut berada mendorong munculnya para pengembang (developer). Salah satu pengembang yang cukup ternama adalah Agung Podomoro Group (APG). The Peak at Sudirman merupakan salah satu proyek APG yang fenomenal. Proyek hunian vertikal ini membidik kalangan kelas atas/high end. Karya ini mampu mendobrak pasar dan mematahkan teori supply dan demand, walupun harga yang ditawarkan cukup tinggi namun produk yang dihasilkan mampu menembus pasar dan sangat diterima oleh konsumen. Hal ini terbukti dengan data penjualan dimana produk telah terjual 80 % sebelum pembangunan selesai. Dalam mewujudkan ”The Peak at Sudirman” tentu saja bukan merupakan hal yang mudah, terdapat berbagai strategi manjemen yang dilakukan oleh APG baik untuk produksi, pembiayaan, pemasaran, maupun penjualan.
Kompromi Spasial: Preferensi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Terhadap Perumahan Bersubsidi di Lahan Gambut Palangka Raya Susi, Theresia; Sutrisno, Herwin; Sudyana, I Nyoman; Prianata, Devid
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 4 (2025): JPWK Volume 21 No. 4 December 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i4.71748

Abstract

Penyediaan perumahan bersubsidi merupakan instrumen penting dalam pemenuhan kebutuhan hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan. Namun, pada kota yang berkembang di atas lahan gambut seperti Kota Palangka Raya, keterbatasan lahan yang layak secara teknis serta tingginya risiko lingkungan menjadi tantangan dalam penentuan lokasi perumahan bersubsidi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sebaran spasial hunian berdasarkan karakteristik lahan dan menganalisis preferensi lokasi MBR dengan mempertimbangkan karakteristik gambut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 98 penghuni perumahan bersubsidi yang dipilih dengan teknik purposive quota sampling pada tiga kecamatan, yaitu Jekan Raya, Pahandut, dan Sabangau. Analisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumahan bersubsidi lebih dominan berkembang di kawasan lahan gambut dan cenderung terkonsentrasi di wilayah yang relatif dekat dengan pusat pelayanan kota. Preferensi tertinggi MBR terhadap lokasi perumahan bersubsidi adalah pemenuhan utilitas dasar dan kondisi bebas banjir. Namun, secara empiris MBR tetap menghuni perumahan bersubsidi di kawasan gambut yang rentan karena pertimbangan efisiensi mobilitas menuju tempat kerja dan sekolah. Kesenjangan antara preferensi ideal dan kondisi aktual ini mengonfirmasi adanya kompromi spasial, dimana MBR terpaksa merasionalisasi risiko lingkungan pada lahan gambut demi mempertahankan aksesibilitas terhadap peluang ekonomi dan menekan biaya transportasi harian.