Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : nutrix journal

Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien COVID-19 Di Rumah Sakit Kota Manado Autry Alvian Mandagi; Baithesda Suba
NUTRIX Vol 7 No 2 (2023): Volume 7, Issue 2, 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v7i2.1024

Abstract

The high average number of antibiotic prescriptions for COVID-19 patients has an impact on increasing the risk of the spread of nosocomial infections and triggering an increase in Antimicrobial Resistance globally. This research aimed to identify the type of antibiotic and factors associated with prescribing antibiotics for COVID-19 patients. Using data from the Electronic Medical Record, a retrospective descriptive-analytical study design was used to track antibiotic use in COVID-19 patients. The population in this study was all confirmed 18-year-old COVID-19 patients and above who were treated from 1 January 2021 to 5 October 2021, totaling 2089 patients. There was a significant relationship between age, comorbidities, and clinical symptoms with antibiotic use in COVID-19 patients. Also, there was a significant relationship between antibiotic use and length of stay in hospital. It is recommended that hospitals implement Antibiotic Stewardship in hospital to optimize clinical outcomes while minimizing undesirable consequences of antibiotic. Keywords: antibiotic, COVID-19, risk factors Abstrak Tingginya persentase peresepan antibiotik pada pasien COVID-19 berdampak pada peningkatan risiko penyebaran infeksi nosokomial dan resistensi antimikroba secara global. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis antibiotik dan faktor yang berhubungan dengan peresepan antibiotik untuk pasien COVID-19. Desain penelitian deskriptif-analitis retrospektif digunakan untuk melacak penggunaan antibiotik pada pasien COVID-19 dengan menggunakan data dari Rekam Medis Elektronik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien terkonfirmasi COVID-19 berusia lebih dari sama dengan 18 tahun ke atas yang dirawat pada tanggal 1 Januari 2021 hingga 5 Oktober 2021 berjumlah 2089 pasien. Levofloksasin, Sefriakson, dan Azytro-mycin merupakan jenis antibiotik yang paling banyak diresepkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, penyakit penyerta, dan gejala klinis dengan penggunaan antibiotik pada pasien COVID-19. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan antibiotik dan lama rawat inap di rumah sakit. Disarankan agar rumah sakit menerapkan Penatagunaan Antibiotik (PGA) untuk mengoptimalkan hasil klinis sekaligus meminimalkan konsekuensi penggunaan antibiotik yang tidak diinginkan. Kata Kunci: antibiotik, COVID-19, faktor risiko
Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (Pretend) in Preschool Children at Provincial General Hospital of North Sulawesi Molintao, Winarsi Pricilya; Legi, Julita Roslia; Baithesda
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1464

Abstract

Hospitalization can trigger emotional distress in preschool children due to separation, unfamiliar surroundings, and invasive procedures. This study aimed to determine the effectiveness of Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (PRETEND) in reducing emotional distress. A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group involved 44 children aged 3–5 years at the North Sulawesi Provincial Hospital (2025), divided into intervention (n=22) and control (n=22) groups. Distress was measured using the OSBD-R, as well as questionnaires on child involvement, parental satisfaction, and perceived benefits. The results showed a significant decrease in distress scores in the intervention group from 6.77 ± 1.27 to 0.45 ± 0.67, while the control group remained high (5.36 ± 1.56). Child involvement was classified as moderate–high, parental satisfaction was very high, and program perceptions were very positive. It was concluded that PRETEND was effective in reducing emotional distress and increasing parental involvement and satisfaction. This intervention is recommended as part of child closure practice, with further research to assess long-term effects. Hospitalisasi dapat memicu distress emosional pada anak pra-sekolah akibat perpisahan, lingkungan asing, dan tindakan invasif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (PRETEND) dalam menurunkan distress emosional. Desain quasi-eksperimen dengan pretest-posttest kelompok kontrol melibatkan 44 anak usia 3–5 tahun di RSUD Provinsi Sulawesi Utara (2025), yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=22) dan kontrol (n=22). Distress diukur menggunakan OSBD-R, serta kuesioner keterlibatan anak, kepuasan orang tua, dan persepsi manfaat. Hasil menunjukkan penurunan signifikan skor distress pada kelompok intervensi dari 6,77 ± 1,27 menjadi 0,45 ± 0,67, sementara kelompok kontrol tetap tinggi (5,36 ± 1,56). Keterlibatan anak tergolong sedang–tinggi, kepuasan orang tua sangat tinggi, dan persepsi program sangat positif. Disimpulkan bahwa PRETEND efektif menurunkan distress emosional dan meningkatkan keterlibatan serta kepuasan orang tua. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian praktik keperawatan anak, dengan penelitian lanjutan untuk menilai efek jangka panjang.
Risk Factors of Chronic Energy Deficiency among Pregnant Women in Minahasa Kairupan, Michelle; Manengkey, Olvin Kristin; Baithesda
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1505

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) remains a major public health concern among pregnant women and is associated with adverse maternal and neonatal outcomes. This study aimed to analyze the risk factors for CED and identify the dominant predictors among pregnant women in Minahasa. A cross-sectional analytical design was employed involving 246 pregnant women. Data were collected using structured questionnaires, dietary assessments, and Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) measurements. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test, and multivariate analysis was conducted using logistic regression. The prevalence of CED was 41.5%. Significant factors associated with CED included maternal age (p=0.012; OR=3.9), parity (p=0.004; OR=4.7), knowledge (p<0.001; OR=14.8), and dietary patterns (p=0.002; OR=2.9). Multivariate analysis revealed that maternal knowledge was the strongest predictor of CED (aOR=15.25; 95% CI: 3.80–61.20), followed by parity, age, and dietary diversity. Education and antenatal care (ANC) visits were not significantly associated with CED prevalence. These findings indicate that knowledge gaps and poor dietary diversity are key determinants of CED. Strengthening culturally sensitive nutrition education within antenatal care services is essential for improving maternal nutrition and supporting stunting reduction strategies. Defisiensi Energi Kronis (CED) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di kalangan ibu hamil dan dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk bagi ibu dan bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko CED dan mengidentifikasi prediktor utama di kalangan ibu hamil di Minahasa. Desain penelitian analitik cross-sectional digunakan dengan melibatkan 246 ibu hamil. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, penilaian pola makan, dan pengukuran Lingkar Lengan Atas Tengah (MUAC). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square, sedangkan analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik. Prevalensi CED sebesar 41,5%. Faktor-faktor signifikan yang terkait dengan CED meliputi usia ibu (p=0,012; OR=3,9), paritas (p=0,004; OR=4,7), pengetahuan (p<0,001; OR=14,8), dan pola makan (p=0,002; OR=2,9). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan ibu merupakan prediktor terkuat CED (aOR=15,25; 95% CI: 3,80–61,20), diikuti oleh paritas, usia, dan keragaman makanan. Pendidikan dan kunjungan perawatan antenatal (ANC) tidak secara signifikan terkait dengan CED. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan pengetahuan dan keragaman pola makan yang buruk merupakan faktor penentu utama CED. Memperkuat pendidikan gizi yang sensitif terhadap budaya dalam layanan perawatan antenatal sangat penting untuk meningkatkan gizi ibu dan mendukung strategi pengurangan stunting.