Rini Maryone, Rini
Unknown Affiliation

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

RUMAH POHON SUKU MOMUNA, YAHUKIMO [The Tree House of Momuna Tribe in Yahukimo] Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 7, No 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.57 KB)

Abstract

This paper examines about the traditional house of Momuna Tribe in Yahukimo, Papua. The purpose of this paper is to determine the shape of the tree house, knowing the concept and philosophy and cultural values of Momuna's tree houses. Etnoarchaeology approach used to reconstruct the meaning of the culture in the past. The result of this research has shown some elemental concept of Southeast Asian architecture, showing by conception of house without room where the main family living. The representation of this concept towards to philosophical meaning especially as a protection from some kind of the treathness.This paper heading to gain knowledge about the traditional house in Papua as well in Indonesia as a big part. AbstrakTulisan ini mengkaji rumah tradisional suku Momuna di Yahukimo, Papua. Tujuannya, untuk mengetahui bentuk, konsep, filosofi serta nilai budaya rumah tradisional suku Momuna. Dengan metode kualitatif dan penalaran induktif, pokok masalah yang akan dibahas berkaitan dengan bentuk rumah tradisional suku Momuna, konsep dan filosofinya, serta nilai budayanya. Dengan pendekatan etnoarkeologi diharapkan budaya masa lampau dapat direkontruksi lewat data etnografi dari tradisi masyarakat yang masih hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional suku Momuna memiliki bentuk dasar arsitektur Asia Tenggara dengan konsep tanpa kamar yang dihuni keluarga inti dan menegaskan filosofi dasar aman dari ancaman. Tulisan ini diharapkan dapat menambah referensi rumah suku yang ada di Papua khususnya dan di Indonesia umumnya.
MEGALITIK DAN CERITA RAKYAT SUKU BAHAM DI GUA SOSOSRAWERU FAK-FAK (Megalithic and Folklore of Baham Tribe in the Sosoraweru Cave Fak-Fak) Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 6, No 2 (2014): November 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.061 KB)

Abstract

Megalith Papua is the actual activity with medium natural stones such as stalagmites and stalagtik in a cave, a dolmen, stone sculptures and other natural stones are considered to be the reincarnation of the spirits of ancestors, as found in the cave Sosoreweru. In this study conducted in the Cave Sosoraweru Forir village in the district of Coke, Fakfak. The methods used in this study is the method of data collection includes library research, field surveys, using the approach Ethnoarchaeology. The results of the study in the form of 4 pieces shaped stone menhirs. based on these findings may reveal molar tribal folklore in the village district Forir the consortium. Folklore have utility in a common life, as a means of educators, entertainment, social protest and the projection of a pent-up desire.ABSTRAKMegalitik Papua merupakan kegiatan aktual dengan media batu-batu alam seperti stalagmit dan stalagtik dalam gua, dolmen, batu pahatan dan batu-batu alam lainnya yang dianggap sebagai jelmaan roh-roh nenek moyang. Penelitian ini dilakukan di Gua Sosoraweru, Kampung Forir di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data yang meliputi studi pustaka, survei lapangan, dan analisis menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian berupa empat buah batu berbentuk menhir. Berdasarkan temuan tersebut dapat mengungkapkan cerita rakyat suku Baham di Kampung Forir, Distrik Fakfak. Cerita rakyat mempunyai fungsi sebagai media pendidikan, hiburan, protes sosial dan proyeksi suatu keinginan yang terpendam.
FUNGSI KAPAK BATU PAPUA DALAM MEMPERSATUKAN KERAGAMAN Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 5, No 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.947 KB)

Abstract

Stone axe found at several prehistoric sites in Papua, shows the influence of Austronesian culture that brought together other cultures. The survey results revealed that the presence of the stone axe is still functional in some tribes in Papua for traditional ceremonies, funeral rites, religious, gardening and farming. The results of the research that has been conducted shows that the stone axe is one of the remains of the cultural diversity that can unite the tribes in Papua. Stone axes can also serve to strengthen the identity of the nation and the state, and can be passed down to younger generations through education of local content for students.AbstrakKapak batu yang ditemukan pada beberapa situs prasejarah di Papua, menunjukan adanya pengaruh budaya Austronesia yang dibawa bersama budaya lainnya. Dari hasil penelitian diketahui bahwa keberadaan kapak batu saat ini masih difungsikan dalam beberapa suku di Papua untuk upacara-upacara adat, upacara kematian, religius, berkebun dan berladang. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa kapak batu adalah salah satu tinggalan budaya yang dapat mempersatukan keragaman suku-suku yang berada di Papua. Kapak batu juga dapat berperan untuk menguatkan jati diri bangsa dan negara, serta dapat diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan muatan lokal bagi pelajar dan mahasiswa.
FUNGSI KERAMIK CINA BAGI MASYARAKAT BIAK Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 1, No 2 (2009): November 2009
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.856 KB)

Abstract

The presence of foreign-made ceramics in Papua, especially in Biak Island, has shown that historically before the 15th century Papua has made contact with foreign countries, such as the merchants from China, Spain and Portugal. The name Nova Guinea given to Irian by the sailor from Spain is also shown that this land has made contact with foreigners. Other than foreign influence, it is admitted that the Biak community has sailed a long way to the west of Maluku, Tidore and Halmahera. They’re known as excellent seamen who sailed across the vast ocean from North-Coast of Papua to the Bird’s Head Peninsula and Raja Ampat Islands. On their way back home, most of the time they brought back the foreign-made ceramics or as the Biak community said “benbepon” and textile “sananpun”. As a result, their contact with foreign countries has made changes in material life of Biak community.
KERAGAMAN SISTEM PENGUBURAN Dl PAPUA (KAJIAN ETNOARKEOLOGI) Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7710.936 KB)

Abstract

Papua has a diverse traditions including burial system. The purpose of this paper to know the diversity of burial system in Papua and values contained therein. Ethnoarchaeology approach used in this paper. The results of the research contained burials systems in Supiori, Sorong, Merauke, Yalimo and Pegunungan Bintang. The values contained in burial systems in Papua namely: religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, independent, democratic, curios;ty, the spirit of nationalism, patriotism, respect for the achievements, friends I communicative, peace-loving, caring social, and environmental care. AbstrakPapua memiliki tradisi yang beragam termasuk sistem penguburan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui keragaman sistem penguburan di Papua dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pendekatan etnoarkeologi digunakan dalam penulisan ini. Hasil penelitian terdapat sistem penguburan di Supiori, Sarong, Merauke, Yalimo dan Pegunungan Bintang. Nilai-nilai yang terdapat pada sistem penguburan di Papua yaitu: nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, ke~a keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabatlkomunikatif, cinta damai, peduli sosial, dan peduli lingkungan.
ENGUBURAN MASA LALU DI KAMPUNG BAINGKETE DISTRIK MAKBON KABUPATEN SORONG Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.342 KB)

Abstract

Research on past burials conducted in Sorong is an attempt to reveal the burial of the past that are in the region particularly in the area of Kampung Papua Baingkete Makbon Sorong District. The methods used in this study is etnoarkeologi approach. The results in Kampung Baingkete, find flute drum, gong, porcelain plates, cloth Timor, white plates, white cloth and red cloth. Based on these findings can describe past and burial ceremonies debt payments to the families of the dead in owedAbstrakPenelitian tentang penguburan masa lalu yang dilakukan di Kabupaten Sorong adalah upaya dalam mengungkapkan penguburan masa lalu yang berada di wilayah Papua khususnya di wilayah Kampung Baingkete Distrik Makbon Kabupaten Sorong. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian di Kampung Baingkete, menemukan suling tambur, gong, piring porselin, kain timor, piring putih, kain putih dan kain merah. Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat menggambarkan penguburan masa lalu dan upacara pembayaran hutang si mati kepada keluarga yang di hutangi.
PERAN PEREMPUAN DALAM BUDAYA MARITIM WAROPEN [The Role of Women in the Culture of Maritime in Waropen] Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol 9, No 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.239 KB)

Abstract

In Waropen livelihood, women in connected maritime tradition play roles in providing food for their family In related to the title, there are some problems deal with the women’s roles in Waropen maritime tradition that can be formulated as follows: How are the roles of women in Waropen maritime tradition, what values revealed in maritime tradition. The research applies etnoarcheolgical approach by using some techniques: bibliographical study, observation, and interview. Those collected data are then described, analyzed, interpreted, and concluded. The results show that there are three main livelihood, i.e., processing sagoo, cathing fish (by men), cathing crabs (by men), and gathering seashells (by men). While women’s roles follow the knowledge system of maritime tradition: time, season, wind, and stars. To go to the location of sagoo processing, shrimps and seashells gathering, Waropen women use canoes without leeboard. In local language it is called sewado. Through the roles of Waropen women in maritime tradition, there are some beneficial socio-cultural values, i.e. being religious, corporation, independence, discipline, hard work, creativity, and care to nature.  ABSTRAKPeran serta perempuan Waropen dalam sistem mata pencaharian hidup berkaitan dengan tradisi maritim, perempuan bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Berkaitan dengan judul, ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan peran perempuan dalam budaya maritim Waropen, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran perempuan dalam budaya maritim di Waropen?, nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam budaya maritim tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga macam mata pencaharian utamanya yaitu meramu sagu, menangkap ikan (dilakukan oleh lakilaki), menangkap kepiting dan mengumpulkan atau kerang, berburu (dilakukan oleh perempuan). Sementara itu, perempuan Waropen mengikuti sistem pengetahuan budaya maritim seperti sistem pengetahuan mengenai waktu, musim, angin dan bintang. Untuk ke lokasi tempat mencari seperti menokok sagu, mencari keping, udang dan bia, perempuan Waropen menggunakan perahu tak bercadik yang disebut dengan sewado. Melalui peran perempuan Waropen dalam budaya maritim, termuat nilai-nilai sosial-budaya yang berguna dalam kehidupan, yaitu nilai religius, gotong royong atau kerjasama, kemandirian, disiplin, kerja keras, kreatif, dan peduli lingkungan.
SITUS BENTENG 03 PAPUA BARAT: FUNGSI NILAI PENTING DALAM KEARIFAN LOKAL (Fort Site in West Papua: Value, Function in Local Knowledge) Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3391.14 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.184

Abstract

Studies on the site of the fort in West Papua has never been done. This paper aims to be able to know forts in West Papua, the importance and function of the fortress. The method used in this research is the field surveys, interviews and a literature review. Archaeological research find Yenbekaki fort, Usaha Jaya fort, Wayom fort, Claudia sacred fort, and Babo fort. Construction of the fort was based on the defense function and has values of local wisdom is with wear resources adapted to the local environment and the local topography.AbstrakKajian tentang situs benteng di Papua Barat belum pernah dilakukan. Tulisan ini bertujuan dapat mengetahui benteng-benteng yang ada di Papua Barat, nilai penting dan fungsi benteng tersebut. Metode yang digunakan dalam peneiitian ini adalah survei lapangan, wawancara dan kajian pustaka. Peneiitian benteng yang dilakukan di Papua Barat menemukan benteng Yenbekaki, benteng Usaha Jaya, benteng Wayom, benteng keramat Claudia, dan benteng Babo. Pembangunan benteng didasarkan pada fungsi pertahanan serta memiliki nilai kearifan lokal yaitu dengan memanfaaatkan sumberdaya iingkungan setempat dan disesuaikan dengan topografi setempat.
PERKEMBANGAN TRADISI PEMBUATAN GERABAH ABAR SENTANI [The Development of Abar Pottery] Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.089 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.208

Abstract

The knowledge of making pottery in Abar Village has been around since time immemorial. Until now Abar pottery development has undergone many changes. Artisan pottery in Abar Village is determined to continue to improve the quality of production in order to compete in the market. Based on this the authors feel interested to examine more about the development of pottery tradition in Abar Village. The purpose of this research is to know the development of shape, type, function and meaning of pottery Abar. The research method is qualitative, while for the strategy in the data collection phase is literature study, observation and interview. The results: found types of pottery Abar is ebe hele (crock), sempe (belanga) and kenda / plate, and pottery that has undergone changes namely: flower pots, wall hangings, drums, table chairs, stoves. Abar pottery has three functions: function as a kitchen tool, social function and religious function.  ABSTRAKPengetahuan pembuatan gerabah di Kampung Abar sudah ada sejak dahulu kala. Hingga saat ini perkembangan gerabah Abar sudah mengalami banyak perubahan. Pengrajin gerabah di Kampung Abar bertekad untuk terus meningkatkan kualitas produksi agar mampu bersaing di pasaran. Berdasarkan hal tersebut penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai perkembangan tradisi gerabah di Kampung Abar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan bentuk, jenis, fungsi dan makna gerabah Abar. Metode penelitian bersifat kualitatif, sedangkan untuk strategi dalam tahap pengumpulan data adalah studi pustaka, observasi dan wawancara. Adapun hasil: ditemukan jenis-jenis gerabah Abar berupa ebe hele (tempayan), sempe (belanga) dan kenda/ piring, serta gerabah yang sudah mengalami perubahan yaitu: pot bunga, hiasan dinding, tifa, kursi meja, kompor. Gerabah Abar memiliki tiga fungsi yaitu: fungsi sebagai alat dapur, fungsi sosial dan fungsi religius.
TINGGALAN MEGALITIK BATU SUKUN MENGUNGKAP CERITA RAKYAT DI KAMPUNG YAPASE (The Remains of the Sukun Stone and Folklore in Yapase Village) Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.963 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i1.267

Abstract

This article examines the remains of the sukun stone and folklore in Yapase Village. The purpose of this paper is to reveal the Yakarmilena folklore and cultural values contained in the sukun stone folklore. The method used is a qualitative method, with inductive reasoning. The results of the study were nine sukun stones, consisting of one large stone which was a mother’s stone and one stone in the shape of a statue as a girl, while six other oval-shaped stones were a pillow, and one flat rock was a plate of offerings. Archaeological remains of sukun stones in Kampung Yabase serve as a place to perform religious ceremonies to ask for blessings from the ancestors. From the folklore stone sukun has noble values, including cultural values, conceptualiza t ion values, social values and religious values. Tulisan ini mengkaji tinggalan megalitik batu sukun dan cerita rakyat di Kampung Yapase . ABSTRAKTujuan penulisan ini adalah dapat mengungkapkan cerita rakyat suku Yakarmilena dan nilai-nilai budaya yang terkandung dari cerita rakyat batu sukun. Metode yang di gunakan adalah metode kualitatif, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian berupa sembilan buah batu sukun, terdiri dari satu batu yang berukuran besar merupakan batu ibu dan satu buah batu yang berbentuk arca sebagai anak perempuan, sedangkan enam buah batu berbentuk lonjong lainnya merupakan bantal, dan satu buah batu ceper bercekungan merupakan piring tempat persembahan. Tinggalan arkeologi batu sukun di Kampung Yabase dijadikan sebagai tempat melakukan upacara keagamaan untuk meminta berkah kepada leluhur. Dari cerita rakyat batu sukun ini memiliki nilainilai luhur, diantaranya nilai budaya, nilai konseptualisasi, nilai sosial dan nilai religi.