Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KAIDAH “’ADAMU TARADUF” PERSPEKTIF MUHAMMAD SHAHRUR (TELAAH ISTILAH AL-QURAN, AL-KITAB, AL-DHIKR DAN AL-FURQAN) Misbahul Munir
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.824 KB) | DOI: 10.33754/miyah.v16i2.366

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas tentang salah satu kaidah penafsiran “’Adamu Tarāduf atau tidak adanya sinonimisitas dalam perspektif Muhammad Shahrur; seorang berlatar belakang keilmuan Teknik Sipil, mencoba untuk memahami AlQuran berdasarkan disiplin ilmu yang ia miliki. Prinsip ’Adamu Tarāduf ala Shahrur ini diantaranya di terapkan untuk  membedakan istilah-istilah dalam Al Quran yang selamaa ini dianggap sama, yaitu Al Kitāb, Al Quran al Dhikr dan Al Furqān. Shahrur berhasil membedakan dengan tajam antara term-term tersebut. Istilah Al Kitāb dan Al Quran dibedakan Shahrur dengan merujuk pada ayat 11 dari Surat Al Hijr. Adapun Al Dhikir dimaknaai sebagai bentuk pengubahan (al-Qur’an) menjadi bahasa manusiawi yang secara literal berupa linguistik Arab, didasarkan pada surat al Ḥijr ayat 6-9 dan surat Ṣad ayat 1. Sedangkan makna Al Furqān yang berisi Sepuluh Wasiat (the ten commandements) yang menjadi titik temu agama samawi, Shahrur mendasarkannya pada pemahaman terhadap surat al-An’am ayat 151-153.Kata Kunci : Shahrur, ’Adamu Tarāduf
MOTIVASI BERINVESTASI DALAM AL QURAN Misbahul Munir; Arofatul Mukaromah
MIYAH : Jurnal Studi Islam Vol. 18 No. 2 (2022): AGUSTUS
Publisher : Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/miyah.v18i2.527

Abstract

Pada kajian maqasid shariah ada 5 hal yang harus dijaga, yaitu: penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Dalam konteks menjaga harta, terbentuklah tuntutan tentang tata cara mendapatkannya serta larangan untuk menyia-nyiakannya. Oleh karena itu, harta merupakan salah satu aspek yang harus mendapat perhatian penting bagi setiap umat Islam. Namun, hal ini bertolak belakang dengan realita. Ada cukup banyak orang muslim yang kurang memperhatikan keadaan finansial, padahal jika kita fahami lebih jauh harta merupakan salah satu penopang hidup yang dibutuhkan manusia dalam menjalankan aktifitasnya di dunia termasuk beribadah. Dalam perencanaan dan pengelolaan harta, kegiatan investasi merupakan salah satu upaya penting yang bisa dilakukan oleh umat Islam agar dapat memelihara harta yang dimiliki. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research. Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik dan termasuk dalam jenis tematik konseptual, yakni riset pada konsep-konsep tertentu yang secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Quran, tetapi secara substansial ide tentang konsep itu ada dalam Al-Quran. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan 6 ayat yang secara substansial menyinggung investasi, yakni: surat Yusuf ayat 46-49, surat Luqman ayat 34, surat al-Baqarah ayat 261, surat al-Nisa ayat 9, surat al-Hashr ayat 18, surat al-Taubah ayat 34. Ada beberapa motivasi berinvestasi yang disebutkan dalam Al-Quran secara substansial, yakni: Manusia perlu mengantisipasi terjadinya hal yang tidak terduga di masa depan, sesama manusia perlu menciptakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, menciptakan keseimbangan ekonomi negara perlu dilakukan agar rakyat menjadi makmur dan sejahtera, manusia mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya agar kesejahteraan finansial untuk keluarganya terjamin, berinvestasi memudahkan manusia untuk beribadah kepada Allah SWT, harta jika didiamkan dan tidak dikembangkan bisa berkurang setiap tahunnya untuk membayar zakat. Kata Kunci: Investasi, Al-Quran, Tafsir Tematik
ISTIDRAJ PERSPEKTIF TAFSIR AL TABARI Dinda Listiani; Misbahul Munir
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 1 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.626

Abstract

Manusia diberikan kenikmatan oleh Allah tetapi tidak banyak dari mereka yang bersyukur. Nikmat yang diberikan seringkali disalahgunakan untuk perbuatan maksiat. Banyak diantara mereka yang semakin mendapatkan nikmat semakin terjerumus dalam ketidak-taat-an. Mereka tidak sadar bahwa harta, jabatan, status sosial yang dimilki adalah bentuk istidraj Allah kepadanya. Tulisan ini mengekspolarasi tentang istidraj yang terjadi pada umat manusia, yang mana mereka sering tidak merasakan jika sedang mengalaminya. Penulis menggali tema istidraj dari sumber aslinya yakni al Quran dan kemudian melihatnya dari kacamata Mufassir Imam Ibnu Jari Al Tabari. Tulisan ini menggunakan jenis penelitian kuliatatif dengan menggunakan daya kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data-data dan informasi dari berbagai macam literatur pustaka. Teknis analisa data yang digunakan adalah dengan teknis teori tafsir maudhui. Adapun hasil penelitian ini menjelaskan bahwa kata istidraj dalam al Quran secara redaksional (term) ditemukan dalam dua ayat, yakni surah al-Qalam (68):44-45 dan surah al-A’raf (7):182. Sedangkan secara konseptual tema istidraj ditemukan dalam lima ayat, yakni al-An’am (6):44, al-Zumar (39):49, al-Ankabut (29):66, al-Baqarah (2):211, dan Ali Imran (3):178. Menurut al-T?bari adalah hukuman berupa tipu daya kenikmatan duniawi yang diberikan kepada manusia yang mendustakan dan berbuat maksiat kepada Allah, sehingga mereka beranggapan bahwa hukuman tersebut adalah sebuah bentuk kenikmatan, pada akhirnya mereka terjerumus ke dalam kenikmatan tersebut dan semakin lupa kepada Allah. Kemudian Allah akan menarik sedikit demi sedikit ke arah kebinasaan dan Allah akan siksa mereka secara tiba-tiba dari arah yang tidak mereka ketahui. Selain itu penulis menemukan tanda-tanda seseorang yang terkena istidraj, yakni: Selalu mendustakan Allah tetapi kenikmatan terus mengalir, selalu mengingkari nikmat Allah, tidak mengetahui hakikat nikmat yang diberikan dan bersikap sombong. Keywords: Istidraj, Tafsir Al-T?bari, Tafsir.