Abstrak: Artikel ini membahas tentang salah satu kaidah penafsiran “’Adamu TarÄduf atau tidak adanya sinonimisitas dalam perspektif Muhammad Shahrur; seorang berlatar belakang keilmuan Teknik Sipil, mencoba untuk memahami AlQuran berdasarkan disiplin ilmu yang ia miliki. Prinsip ’Adamu TarÄduf ala Shahrur ini diantaranya di terapkan untuk  membedakan istilah-istilah dalam Al Quran yang selamaa ini dianggap sama, yaitu Al KitÄb, Al Quran al Dhikr dan Al FurqÄn. Shahrur berhasil membedakan dengan tajam antara term-term tersebut. Istilah Al KitÄb dan Al Quran dibedakan Shahrur dengan merujuk pada ayat 11 dari Surat Al Hijr. Adapun Al Dhikir dimaknaai sebagai bentuk pengubahan (al-Qur’an) menjadi bahasa manusiawi yang secara literal berupa linguistik Arab, didasarkan pada surat al Ḥijr ayat 6-9 dan surat á¹¢ad ayat 1. Sedangkan makna Al FurqÄn yang berisi Sepuluh Wasiat (the ten commandements) yang menjadi titik temu agama samawi, Shahrur mendasarkannya pada pemahaman terhadap surat al-An’am ayat 151-153.Kata Kunci : Shahrur, ’Adamu TarÄduf
Copyrights © 2020