Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREVALENSI OSTEOARTHRITIS GENU BERDASARKAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI PADA PASIEN GERIATRI DI RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO Ahmad Muhyi; Brilian Sinta Adiratna; Siti Maisyaroh Bakti Pertiwi
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 11, No 2 (2023): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v11i2.1613

Abstract

Osteoartritis genu merupakan suatu kondisi masalah kesehatan yang mayoritas dialami oleh orang lanjut usia. Faktor yang memiliki peran penting dalam terjadinya osteoarthritis genu yaitu jenis kelamin, usia dan perkerjaan, hal ini berkaitan dengan keseimbangan antara degradasi tulang dan juga hormonal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi osteoarthritis genu pada lansia berdasakan jenis kelamin, usia dan pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi sebanyak 301 pasien geriatri dengan kriteria tertentu yang berobat ke poli geriatric RSUD K.R.M.T Wongsonegoro pada periode Januari sampai Juni 2022 dan jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi yaitu  sejumlah 83 pasien. Distribusi kejadian osteoarthritis terbanyak pada perempuan sejumlah 44 pasien (53%), dengan terbanyak pada rentang  60 sampai dengan 74 tahun sejumlah 69 pasien (83%), responden penderita osteoarthritis genu mayoritas pada pasien yang masih aktif bekerja sejumlah 38 pasien (46%). Berdasarkan hasil analisis univariat variabel usia, jenis kelamin dan pekerjaan merupakan faktor yang berisiko  terjadinya seseorang menderita osteoarthritis genu.  Faktor lainnya seperti obesitas, riwayat cedera sendi lutut, occupational overuse, dan kelainan anatomis juga memiliki peran dalam terjadinya osteoarthritis genu, namun orang yang mengalami osteoarthritis risikonya meningkat saat bertambah usia 
The Utilization of Cattle Manure Biogas as a Renewable Energy Solution and a Means to Improve Community Welfare in Kuripan Village, Karangawen District, Demak Achmad Buchori; Dina Prasetyowati; Suwarno Widodo; Adhi Kusmantoro; Siti Maisyaroh Bakti Pertiwi
Proceeding International Conference on Digital Education and Social Science Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding International Conference on Digital Education and Social Science 202
Publisher : Asosiasi Pengelola Publikasi Ilmiah (APPI) PT PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55506/icdess.v3i1.157

Abstract

Kuripan Village, located in Karangawen District, Demak, holds significant opportunities for renewable energy advancement through the optimal management of cattle waste. When left untreated, livestock waste can cause serious environmental pollution, while local households continue to depend largely on fossil-based energy sources for daily use. This community engagement project was designed to empower residents by converting cattle waste into biogas as a sustainable energy alternative. The initiative involved awareness campaigns, hands-on workshops for building biogas installations, and ongoing technical guidance in their operation and upkeep. Beyond energy generation, the project also emphasized the transformation of waste by-products into organic fertilizer and complementary livestock feed. This practice not only reduces feed costs but also improves animal nutrition, establishing a circular livestock system that supports eco-friendly farming. The outcomes revealed that villagers successfully constructed and operated biogas facilities independently. The generated biogas is used for cooking activities, while the remaining slurry and solids are applied as fertilizer and feed material. Overall, the program has reduced environmental waste and greenhouse gas emissions, decreased monthly household energy spending by IDR 60,000–90,000, and enhanced farmers’ quality of life. These results affirm that combining appropriate technology with active community involvement fosters sustainable and energy-resilient rural development.
KADAR GLUKOSA DARAH SEBAGAI DETERMINAN TATALAKSANA PENDERITA TUBERKULOSIS DENGAN KOMORBID DIABETES MELLITUS TIPE -2 Aslani Threestiana Sari; Azizah Siantya; Siti Maisyaroh Bakti Pertiwi
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 14, No 1 (2023): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v14i1.1685

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Jumlah kasus TBC di Indonesia berdasarkan  data dari WHO Global TBC Report 2020 tahun 2019 diperkirakan sebesar 845.000 kasus dengan insidensi 312 per 100.000 penduduk. Terkait jumlah kasus tuberkulosis di dunia, Indonesia mendapatkan urutan kedua setelah India. Salah satu faktor risiko sakit tuberkulosis adalah penyakit diabetes mellitus (DM). Tuberkulosis dengan faktor komorbid DM menjadi beban penyakit terbesar ketiga di Indonesia. Tatalaksana TBC dengan komorbid DM dapat dipengaruhi oleh kadar glukosa darah yang tidak terkontrol.Tujuan dilalukan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar glukosa darah melalui penilaian kadar HbA1c dengan keberhasilan pengobatan penderita TB yang memiliki komorbid DM Tipe 2. Metode penelitian menggunakan analitik observasional dengan desain cross-sectional melalui pendekatan retrospektif. Sample penelitian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sebanyak 25 responden. Berdasakan hasil uji statistik menggunakan aplikasi IBM SPSS 25 menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai P = 0,012 dengan nilai Ratio Prevalence 3,958, sehingga  dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara nilai HbA1c terhadap keberhasilan pengobatan Penderita TB dengan komorbid DM tipe-2, tingkat risiko ketidakberhasilan antituberculosis pasien dalam kondisi HbA1c tidak normal 3 kali lebih besar dibandingkan pasien dalam kondisi HbA1c normal. Perlunya monitoring yang baik pada kadar gula darah sehingga terjadinya ketidakberhasilan antituberculosis pada pasien DM tipe-2 dengan TB paru menjadi rendah.