ABSTRACT Father involvement in family education remains more limited than maternal involvement, resulting in suboptimal father–child relationships. This issue is important because father attachment plays a significant role in supporting children's social, emotional, and psychological development. In the Minangkabau community, which adopts a matrilineal kinship system, fathers continue to hold an essential role in family education; however, studies examining father attachment within this cultural context remain limited. This study aimed to describe father attachment as an integral component of family education in Minangkabau culture from the perspective of late adolescents. A descriptive quantitative approach was employed involving 166 Minangkabau late adolescents aged 18–21 years living in Padang City, selected through accidental sampling. Data were collected using the father version of the Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) and analyzed descriptively using JASP. The findings revealed that father attachment was generally at a moderate level, with trust emerging as the strongest dimension, followed by communication and alienation. These findings indicate that father–child relationships are primarily built on mutual trust, although the quality of communication requires further strengthening. The study highlights the importance of developing fathering education programs that emphasize effective communication, emotional involvement, and the integration of Minangkabau cultural values into family education. ABSTRAK Keterlibatan ayah dalam pendidikan keluarga masih cenderung lebih rendah dibandingkan ibu, sehingga kualitas hubungan ayah dan anak belum berkembang secara optimal. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting karena kelekatan ayah berperan dalam mendukung perkembangan sosial, emosional, dan psikologis anak. Pada masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, peran ayah tetap memiliki kedudukan penting dalam pendidikan keluarga, namun kajian mengenai kelekatan ayah dalam konteks budaya tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kelekatan ayah sebagai bagian dari pendidikan keluarga dalam budaya Minangkabau berdasarkan perspektif remaja akhir. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 166 remaja akhir berusia 18–21 tahun di Kota Padang yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) pada dimensi kelekatan ayah dan dianalisis secara deskriptif menggunakan JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan ayah berada pada kategori sedang, dengan dimensi trust sebagai aspek yang paling dominan, diikuti communication dan alienation. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan ayah dan anak telah dibangun melalui rasa saling percaya, namun kualitas komunikasi masih perlu diperkuat. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan program pendidikan pengasuhan ayah yang berorientasi pada peningkatan kualitas komunikasi, keterlibatan emosional, dan penguatan nilai-nilai budaya Minangkabau dalam pendidikan keluarga.