Helma Winda
UIN Sunan Kalijaga

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Antara Koneksi Dan Komunikasi: Eksplorasi Media Baru, Jaringan, Dan Budaya Phatic Di Era Digital Helma Winda
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/21c0n664

Abstract

This article explores the complex relationship between connection and communication in the context of new media, networks and phatic culture in the digital era. Through the library research method, this research explores related literature to identify and analyze trends, developments and implications of this phenomenon. The findings of this article can provide deep insight into how new media and digital networks influence the way we connect and communicate, as well as how phatic culture plays a role in these dynamics. In the shift from blogging, to social networking, to microblogging we see a shift from dialogue and communication between actors in a network, where the goal of the network was to facilitate the exchange of substantive content, to a situation where maintenance of the network itself has become the primary focus. Here communication has been subordinated to the role of simple maintenance of an ever-expanding network and the idea of ​​a connected presence. This has resulted in the emergence of what I call 'phatic media' where communication without content is preferred Abstrak Artikel ini melakukan eksplorasi terhadap hubungan yang kompleks antara koneksi dan komunikasi dalam konteks media baru, jaringan, dan budaya phatic di era digital. Melalui metode library research, penelitian ini menggali literatur terkait untuk mengidentifikasi dan menganalisis tren, perkembangan, dan implikasi dari fenomena ini. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa wawasan bagaimana media baru dan jaringan digital mempengaruhi cara kita berkoneksi dan berkomunikasi, serta bagaimana budaya phatic memainkan peran dalam dinamika tersebut. Dalam pergeseran dari blogging, ke jejaring sosial, Dan ke microblogging. kita melihat pergeseran dari dialog dan komunikasi antara aktor dalam jaringan, di mana tujuan jaringan adalah untuk memfasilitasi pertukaran konten substantif, ke situasi di mana pemeliharaan jaringan sendiri telah menjadi fokus utama. Di sini komunikasi telah tunduk pada peran pemeliharaan sederhana dari jaringan yang terus berkembang dan gagasan tentang kehadiran yang terhubung. Hal ini mengakibatkan munculnya apa yang di sebut 'media fatis' di mana komunikasi tanpa konten lebih diutamakan
Model Komunikasi Digital dalam Mencegah Penyebaran Hoaks di Media Sosial Eka Laila Fithrianita; Helma Winda; Zainal Arifin
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 3 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/dxggw379

Abstract

Advancements in information and communication technology have driven the increased use of social media as a means for the rapid, widespread, and interactive dissemination of information. Despite its various benefits, social media has also become a primary channel for the spread of hoaxes, which can lead to disinformation, social conflict, and panic, while eroding public trust in accurate information. This study aims to analyze digital communication models for preventing the spread of hoaxes on social media by employing approaches such as digital literacy, information verification, technology utilization, and multi-stakeholder collaboration. A qualitative approach using the library research method was adopted; this involved collecting and analyzing various scholarly sources—including books, journals, articles, research reports, and documents relevant to digital communication and the spread of hoaxes. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and descriptive conclusion drawing. The results indicate that an effective digital communication model for preventing the spread of hoaxes is built upon interactive, participatory, and digital network-based communication. This model positions the public not merely as recipients of information but also as producers and disseminators who bear the responsibility of verifying content before sharing it with others. The success of such a digital communication model depends on several factors: high levels of digital literacy, critical thinking skills, the credibility of information sources, the use of Artificial Intelligence (AI) to detect hoax content, and collaboration among the government, social media platforms, mass media, fact-checking organizations, educational institutions, and the public. The synergy among these parties accelerates the processes of identifying, clarifying, and countering false information, thereby mitigating the negative impacts of hoax dissemination in the digital space. Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi yang cepat, luas, dan interaktif. Di balik berbagai manfaatnya, media sosial juga menjadi media utama dalam penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan disinformasi, konflik sosial, kepanikan, serta menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model komunikasi digital dalam mencegah penyebaran hoaks di media sosial melalui pendekatan literasi digital, verifikasi informasi, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antar-pemangku kepentingan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yaitu mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, artikel, laporan penelitian, serta dokumen yang relevan dengan komunikasi digital dan penyebaran hoaks. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model komunikasi digital yang efektif dalam mencegah penyebaran hoaks dibangun melalui komunikasi yang bersifat interaktif, partisipatif, dan berbasis jaringan digital. Model ini menempatkan masyarakat tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai produsen dan penyebar informasi yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan verifikasi sebelum membagikan konten kepada orang lain. Keberhasilan model komunikasi digital dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingginya tingkat literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kredibilitas sumber informasi, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam mendeteksi konten hoaks, serta kolaborasi antara pemerintah, platform media sosial, media massa, lembaga pemeriksa fakta, institusi pendidikan, dan masyarakat. Sinergi berbagai pihak tersebut mampu mempercepat proses identifikasi, klarifikasi, dan penanggulangan informasi palsu sehingga dapat mengurangi dampak negatif penyebaran hoaks di ruang digital.