Claim Missing Document
Check
Articles

Mengulik Makna Kisah Penyaliban Tuhan Dari Bingkai Pemahaman Kaum Pentakostal Manurung, Kosma
FILADELFIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Imauel Pacet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55772/filadelfia.v6i1.170

Abstract

There are many great and meaningful stories recorded in the Bible and one that is very important for the life of a believer is related to the story of the crucifixion of the Lord. Long before this crucifixion event occurred, the prophets had already announced what the picture of suffering would be like as a result of the event and its impact on human life. This article attempts to explore the meaning of the Lord's crucifixion from the framework of understanding of the Pentecostals. The selection of qualitative descriptive methods and combining them with literature studies is intended to provide a structured, accurate, and in-depth picture related to the Bible's propechy about the Lord's crucifixion, the Lord's crucifixion event recorded by the four Gospels, and the meaning of this crucifixion story for Pentecostals. It is concluded that for Pentecostals, this crucifixion story has a meaning, namely a real manifestation of the peak of God's love for humans, forgiveness of sins in which God's salvation is inherent, an exchange of fate, and an example to follow.
Kiat Ayah Membangun Pemahaman Moderasi Beragama Di Keluarga Kristiani Manurung, Kosma
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.202

Abstract

Religious moderation upholds human dignity. It is believed that through religious moderation, societal harmony will be established, national unity will be strengthened, and the values of Pancasila will be practiced in daily life, including in the context of religious life. Given the importance of religious moderation, it is necessary to teach it within the family. This article seeks to describe fathers' tips for developing an understanding of religious moderation in Christian families. Through the use of descriptive qualitative methods and elaborating on literature reviews, it is hoped that it will provide a strong, systematic, and in-depth picture related to Christianity and public life, the importance of religious moderation, and fathers' tips for developing an understanding of religious moderation in Christian families. It is concluded that a father will maximize the development of an understanding of religious moderation in a Christian family when he introduces religious moderation to his children from an early age, builds an ecosystem, becomes a practice partner for his children, and becomes a role model in religious moderation himself.AbstrakModerasi beragama menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Melalui moderasi beragama diyakini keharmonisan masyarakat akan terbentuk, persatuan dan kesatuan bangsa semakin dipererat, serta nilai-nilai Pancasila teramalkan dalam praktik keseharian hidup termasuk juga dalam konteks kehidupan beragama. Mengingat begitu pentingnya moderasi beragama ini, maka perlu untuk diajarkan hingga pada tatanan keluarga. Adapun artikel ini berupaya untuk menjabarkan kiat ayah dalam membangun pemahaman moderasi beragama di kelaurga Kristiani. Melalui penggunaan metode kualitatif deskriptif dan mengelaborasikannya dengan kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang kuat, tersistimatik, serta mendalam terkait dengan kekristenan dan kehidupan publik, arti penting moderasi beragama, juga kiat ayah membangun pemahaman moderasi beragama di keluarga Kristiani. Disimpulkan seorang ayah akan maksimal membangung pemahaman moderasi beragama di keluarga Kristiani ketika sang ayah memperkenalkan moderasi beragama sedari awal pada anak-anaknya, membangun ekosistem, menjadi teman latihan anak, serta menjadi dirinya role model dalam moderasi beragama.
Mendalami Makna Tafsir Yusuf terhadap Mimpi Firaun dari Bingkai Kaum Pentakostal Manurung, Kosma
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v3i1.60

Abstract

Abstract: The dream of Pharaoh, the ruler of the world at that time, turns out to be the way in for a young man named Joseph to fulfill God's purpose in his life. Yusuf, who was a teenager from a shepherd family, was in the process of becoming the second most powerful person in a superpower country and the most advanced in civilization at that time and in that very place Joseph saw the dream that God had placed fulfilled, through the entrance telling the dream of Pharaoh, the ruler of the world at that time. This study examines the deeper meaning of Joseph's interpretation of Pharaoh's dream in Genesis 41 from the perspective of the Pentecostals. The selection of qualitative methods with the approach of text analysis and literature review is expected to be able to provide a strong, systematic, and careful explanation of the story of Joseph's life as described in the Bible, an analysis of Pharaoh's dream interpretation in Genesis 41, and the meaning of the Pentecostal frame regarding this story. It was concluded that for Pentecostals, the interpretation of Pharaoh's dream by Joseph is a story which shows that God designed the most perfect, Joseph who lived God's purpose, divine solution, and God's means to fulfill his purpose in Joseph's life. Abstrak: Mimpi Firaun sang penguasa dunia waktu itu ternyata merupakan jalan masuk seorang anak muda bernama Yusuf untuk mengenapi tujuan Allah dalam hidupnya. Yusuf yang tadinya seorang remaja dari keluarga pengembala, berproses menjadi orang kedua paling berkuasa di sebuah negara adidaya serta paling maju peradabannya waktu itu dan di tempat itu juga Yusuf melihat mimpi yang Allah taruh tergenapi, melalui pintu masuk berupa menafsirkan mimpi Firaun sang penguasa dunia waktu itu. Penelitian ini berupaya mendalami makna tafsir Yusuf terhadap mimpi Firaun di Kejadian 41 dari bingkai kaum Pentakostal. Pemilihan metode kualitatif dengan pendekatan analisis teks dan kajian literatur diharapkan mampu memberikan penjelasan yang kuat, sistimatik, dan cermat terhadap kisah kehidupan Yusuf yang digambarkan Alkitab, analisis tafsir mimpi Firaun di Kejadian 41, dan pemaknaan dari bingkai kaum Pentakostal terkait kisah ini. Disimpulkan bahwa bagi kaum Pentakostal tafsir mimpi Firaun oleh Yusuf ini merupakan sebuah kisah yang menunjukkan bahwa Allah perancang maha sempurna, Yusuf yang menghidupi tujuan Tuhan, solusi ilahi, serta sarana Allah untuk mengenapi mengenapi tujuanNya dalam hidup Yusuf.
Transformasi Kehidupan Paulus oleh Roh Kudus: Studi Hermeneutika Kisah Para Rasul 9:17 Estefanus, Christopher Sigar; Manurung, Kosma
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i1.118

Abstract

Abstract: Conversion and being newly born is a spiritual experience closely connected with the encounter with the Holy Spirit. The story of Saul's conversion is popular in the Bible. Starting with his miraculous encounter with Jesus when Saul was on his way to Damascus and then his encounter with Ananias who God sent through a vision to meet Saul. A conversion story that is best framed in Acts 9:17. Through the recorded experience of Paul in this text, readers will get the idea of the Holy Spirit’s work as a guide to someone’s conversion. This research aims to analyze the real role of the Holy Spirit in Paul's conversion process in convincing him about the lives of believers today. The reason and main background of this study is the author’s curiosity to deeply understand about how the Holy Spirit work in conversion of a believer. The method chosen to work on this article is descriptive qualitative and literature review. This article further discusses the story of Paul's conversion, including several important events that started it and the role of the Holy Spirit in conversion, which also has an influence on the present. It is concluded that the Holy Spirit is not only the main factor in a person's conversion but also plays an active role in modifying him into a new person and equipping him to become a tool in preaching the good news. Abstrak: Pertobatan dan kelahiran baru merupakan sebuah pengalaman spiritual yang tidak terpisahkan dari perjumpaan seseorang dengan Roh Kudus. Kisah pertobatan Paulus adalah sebuah kisah yang populer dalam Alkitab. Dimulai dengan perjumpaannya yang ajaib dengan Yesus ketika Paulus sedang dalam perjalanan menuju Damsyik lalu perjumpaannya dengan Ananias yang diutus Tuhan melalui suatu penglihatan untuk berjumpa dengan Paulus. Sebuah kisah pertobatan yang terbingkai dengan sangat baik dalam Kisah Para Rasul 9:17. Melalui pengalaman Paulus yang terekam dalam teks ini, para pembaca dapat memperoleh gambaran bagaimana Roh Kudus bekerja menuntun seseorang untuk bertobat. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisa peran nyata dari Roh Kudus dalam proses pertobatan Paulus dalam implikasinya terhadap kehidupan orang percaya masa kini. Alasan dan latar belakang utama yang melandasi penelitian ini adalah keinginan peneliti untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana Roh Kudus berperan dalam pertobatan seseorang. Metode yang dipilih untuk mengerjakan artikel ini adalah kualitatif deskriptif dan kajian literatur. Lebih jauh artikel ini kemudian membahas tentang kisah pertobatan Paulus dengan beberapa peristiwa penting yang mengawalinya, peran Roh Kudus dalam pertobatan, juga implikasi pada masa kini. Disimpulkan bahwa, Roh Kudus bukan sekedar faktor utama pertobatan seseorang melainkan juga berperan aktif dalam mengubahnya menjadi manusia baru serta memperlengkapinya untuk menjadi alat dalam pemberitaan kabar baik.
Mengulik Pemahaman tentang Gender menurut Kejadian 1:27 sebagai Refleksi Teologi Pentakosta Tradisional terhadap LGBT Purnomo, Catur Sigit; Manurung, Kosma
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v3i2.65

Abstract

Abstract: In this post-modern era, the issue of gender has become increasingly complex. Within Christianity itself, there is a debate about whether the gender issue can be tolerated and accepted within a religious context or not. Churches also tend to differ in their implementation of policies related to this issue, ranging from rejection, indifference, to acceptance. From this dilemma, it is interesting to understand how Pentecostals, in particular, view this matter. This article seeks to examine how the Bible, especially Genesis 1:27, perceives the concept of gender and how this perspective can be applied to LGBT individuals from a Pentecostal standpoint. Through textual analysis and careful literature review, this article investigates the Bible's viewpoint on the LGBT community and offers an interpretation in the form of a divine gender concept according to the Bible. The Pentecostal reflection found includes an emphasis on gender, sexual organs in relation to the divine reproductive system, the holiness of a believer's life, and the need for a divine community to provide support in implementing the divine gender concept in a holistic manner.Abstrak: Pada zaman post-modern ini, isu mengenai gender menjadi semakin rumit. Dalam Kekristenan sendiri, terdapat pertentangan apakah isu mengenai gender ini dapat ditoleransi dan diterima dalam konteks keagamaan atau tidak. Gereja pun cenderung berbeda dalam menerapkan kebijakan terkait isu ini, mulai dari yang menolak, mengabaikan hingga menerima. Dari dilema ini, maka menarik untuk memahami bagaimana kaum Pentakostal, menilik hal ini. Artikel ini berupaya mengkaji bagaimana Alkitab, terutama kitab Kejadian 1:27, memandang konsep gender dan bagaimana pandangan ini dapat diterapkan pada orang-orang LGBT dari sudut pandang kaum Pentakostal. Menerapkan analisis teks serta menggunakan kajian literatur secara seksama, artikel ini menyelidiki cara pandang Alkitab terhadap komunitas LGBT dan membuat interpretasi berupa konsep gender yang ilahi menurut Alkitab. Refleksi Pentakostal yang ditemukan mencakup penekanan pada gender, organ seksual dalam hubungannya dengan sistem reproduksi ilahi, kesucian hidup orang percaya, serta perlunya komunitas yang ilahi untuk memberikan dukungan dalam rangka menerapkan konsep gender yang Ilahi secara holistik.
Membaca Kisah Minyak Seorang Janda dalam 2 Raja-raja 4 dari Narasi Pemaknaan Kaum Pentakostal Kosma Manurung; Hotman Parulian Simanjuntak
LAMPO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 1 (2024): Juli 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR RIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63832/683f2e10

Abstract

Pada hakekatnya setiap pasangan pastilah memiliki sebuah keinginan luhur untuk mengarungi mahligai pernikahan hingga ajal menjemput, berbagi suka dan duka, hingga menua bersama. Menjadi janda bukanlah pilihan yang diinginkan oleh seorang istri, tak terkecuali istri nabi yang dinarasikan dalam 2 raja-raja 4: 1-7. Kematian suaminya, ditambah lagi dengan masalah hutang piutang yang turut menyeret kedua putranya untuk menjadi tebusan, hingga akhirnya sang istri menemui nabi Elisa untuk meminta jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapinya. Melalui nabi Elisa, Tuhan pun menjawab dengan memberikan instruksi yang jelas bahwa sang janda nabi ini perlu meminjam sebanyak mungkin bejana dari tetangganya, serta mengisi penuh bejana tersebut dengan minyak yang ada dalam buli-buli yang dimilikinya. Adapun artikel ini bermaksud untuk membaca kisah minyak seorang janda dalam 2 Raja-raja 4: 1-7 ini dari narasi pemaknaan kaum Pentakostal. Diharapkan melalui penggunaan metode kualitatif naratif dan kajian literatur sanggup memberikan gambaran yang kuat dan mendalam terkait tilikan narasi Alkitab tentang kehidupan janda, kisah minyak janda dalam 2 Raja-raja 4, dan narasi pemaknaan kaum Pentakostal tentang minyak seorang janda ini. Disimpulkan bagi kaum Pentakostal kisah ini bermakna pentingnya memahami bahwa solusi terbaik datangnya dari Tuhan, seringkali sarananya yang Tuhan gunakan sudah ada dalam lingkungan kita, pentingnya kolaborasi, dan memilih untuk tetap dalam tuntunan Tuhan.
Kajian Peranan Konseling Pastoral Terhadap Penyelesaian Konflik di Keluarga Kaum Pentakostal Ronaldo Pratama Simangunsong; Kosma Manurung
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.171

Abstract

Humans, in living their social lives, are very susceptible to conflict, including in family life. Conflicts that occur in the family will have a negative impact on relationships between family members and also affect the stability and harmony of household life. In the Pentecostal community, conflict resolution approaches often require interventions that are not only psychological, but also based on spiritual values. This research aims to frame the role of pastoral counseling in resolving conflicts that occur in Pentecostal families. Through qualitative descriptive methods and literature studies, efforts are made to provide a strong picture of the world of marriage and its various problems, descriptions of pastoral counseling services, and the role of pastoral counseling in solving problems. It was concluded that pastoral counseling plays a role in solving problems through the role of mentoring, restoration role, problem solver and monitoring role. Abstrak: Manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya, sangat rentan terjadi konflik tak terkecuali dalam kehidupan keluarga. Konflik yang terjadi di keluarga akan berdampak negatif pada hubungan antar anggota keluarga juga mempengaruhi stabilitas serta keharmonisan kehidupan rumah tangga. Dalam komunitas kaum Pentakostal, pendekatan penyelesaian konflik sering kali memerlukan intervensi yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan membingkai peran konseling pastoral dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di keluarga kaum Pentakostal. Melalui metode deskriptif kualitatif serta kajian literatur diupayakan bisa memberikan gambaran yang kuat tentang dunia pernikahan dan berbagai permasalahannya, deskripsi pelayanan konseling pastoral, serta peran konseling pastoral dalam menyelesaikan permasalahan. Disimpulkan bahwa konseling pastoral berperan dalam menyelesaikan masalah melalui peran pendampingan, peran restorasi, solver problem dan peran monitoring.Kata Kunci: Keluarga Kristiani; Konseling Pastoral; Teologi Pentakostal
Kajian Teologis Mendalami Kontribusi Ayah dalam Mempersiapkan Masa Depan Anak di Keluarga Kristiani Sugiarto Sugiarto; Kosma Manurung
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.328

Abstract

It is important to prepare your child's future properly because this provides a sense of peace and also increases the child's chances of success in the future. This also means preventing children from committing various crimes in the future. This research seeks to explore the contribution of fathers in preparing children's future in Christian families. It is hoped that the use of descriptive qualitative methods and literature studies can explain at a glance the existence of fathers in Christian families, the urgency in preparing children's futures, and the maximum contribution a father can make in preparing children's futures. It is concluded that fathers will contribute maximally in preparing their children's future when they teach Bible truths as a guide to their children's faith and daily behavior, making themselves role models, consistent and the main motivator when their children need it.AbstrakPentingnya masa depan anak dipersiapkan dengan benar karena hal ini memberikan rasa tentram sekaligus memperbesar peluang anak untuk berhasil di masa depan. Ini juga berarti mencegah anak melakukan berbagai tindak kejahatan di kemudian hari. Adapun penelitian ini berupaya mendalami kontribusi ayah dalam mempersiapkan masa depan anak di keluarga Kristiani. Penggunaan metode kualitatif diskriptif serta kajian literatur diharapkan bisa menjelaskan dengan baik selayang pandang keberadaan ayah dalam keluarga Kristiani, urgensi dalam mempersiapkan masa depan anak, serta kontribusi maksimal yang bisa seorang ayah lakukan dalam mempersiapkan masa depan anak. Disimpulkan bahwa ayah akan berkontribusi maksimal dalam mempersiapkan masa depan anak ketika mengajarkan kebenaran Alkitab sebagai tuntunan iman dan berperilaku keseharian anak, menjadikan dirinya figur teladan, konsisten, dan pemberi motivasi utama ketika anak membutuhkan.
Umur dan Kehidupan: Mengulik Makna Hidup dari Potret Kaum Pentakostal Kosma Manurung
FILADELFIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Imauel Pacet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55772/filadelfia.v7i1.266

Abstract

Mengerti dan memahami makna hidup sudah sejak lama menjadi topik perbincangan di lingkup akademik. Merujuk pada fakta lapangan, sangat disayangkan bahwa di kalangan sekolah tinggi teologi, kajian akademik yang kuat dan berimbang yang menyoroti terkait makna hidup ini masih sangat jarang dipublikasi. Adapun artikel ini ingin menjadi jawaban kekurangan tersebut dengan menambahkan bingkai dari potret kaum pentakostal. Melalui metode kualitatif naratif dalam kolaborasinya dengan kajian literatur dimungkinkan untuk mampu menjelaskan secara kuat dan mendalam terkait gambaran kehidupan manusia masa kini, narasi Alkitab tentang hidup manusia dengan mendaratkannya pada berbagai peristiwa yang menyertainya, dan makna hidup dari potret kaum pentakostal. Disimpulkan, bagi kaum pentakostal hidup dimaknai sebagai pemberian Allah, penyembahan, dan dijalani dengan usaha maksimal agar bisa bermakna bagi sesama.