Media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menciptakan ruang yang rentan terhadap disinformasi. Transformasi ini menciptakan ruang interaksi yang cepat dan terbuka, tetapi juga melahirkan tantangan etis berupa ujaran kebencian, disinformasi, dan dehumanisasi. Tulisan ini membahas etika komunikasi new media sebagai bentuk tanggung jawab terhadap liyan dalam perspektif Emmanuel Levinas. Tujuannya ialah menganalisis bagaimana prinsip etika Levinas dapat diterapkan dalam komunikasi digital untuk merespons kehadiran liyan sebagai subjek yang menuntut tanggung jawab etis. Tulisan ini memakai metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Penulis menafsirkan pemikiran Levinas tentang fenomenologi wajah sebagai dasar komunikasi yang bermoral. Maka, langkah pembahasannya akan dimulai dengan menguraikan konsep liyan dan tanggung jawab etis dalam pemikiran Levinas, kemudian menghubungkannya dengan praktik komunikasi di media sosial. Levinas menekankan bahwa kehadiran liyan, baik secara fisik maupun virtual, menuntut respons moral yang menghargai martabat manusia. Karena itu, tulisan ini mau menegaskan etika Levinasian dalam konteks media digital, menawarkan perspektif alternatif untuk mengatasi degradasi nilai etika di ruang virtual bahwa kesadaran dari individu akan bertanggung jawab terhadap liyan yang menjadikan dasar untuk membangun interaksi digital lebih manusiawi dan bermartabat. Jadi, etika komunikasi dalam new media bukan hanya teknik, melainkan sikap eksistensial mengutamakan hormat dan kepedulian terhadap sesama.