Andrew Joewono
Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Otomatisasi sistem irigasi dan pemberian kadar nutrisi berdasarkan nilai Total Dissolve Solid (TDS) pada hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) Maria Angela Kartika Parikesit; Yuliati S.; Peter Rhatodirdjo Angka; Albert Gunadi; Andrew Joewono; Rasional Sitepu
Widya Teknik Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v17i2.1964

Abstract

Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah melainkan air bernutrisi. Prinsip budidaya tanaman ini adalah memberikan atau menyediakan nutrisi yang dibutuhkan berbentuk larutan air bernutrisi dengan cara disiramkan, diteteskan, dialirkan atau disemprotkan. Dari beberapa macam metode pemberian larutan air bernutrisi bercocok taman secara hidroponik dapat dibedakan menjadi beberapa macam sistem, salah satunya adalah sistem Nutrient Film Technique (NFT). Cara bercocok tanam hidroponik sistem NFT menggunakan metode pengaliran air bernutrisi. Kelebihan dari sistem NFT adalah asupan oksigen yang mencukupi. Sistem ini juga memiliki kekurangan yaitu ketergantungannya dengan pompa air karena harus terus menyala selama proses pertumbuhan. Supply nutrisi tumbuhan begitu mengandalkan kinerja dari pompa[5]. Berdasarkan hasil visitasi yang telah dilakukan pengendalian kadar nutrisi yang terlarut pada air saat ini masih dilakukan secara manual. Sehingga pemilik harus secara rutin memonitoring dan menyesuaikan kadar nutrisinya agar tidak terlalu berlebih atau kekurangan. Berpijak dari hal tersebut maka dengan memanfaatkan kemajuan teknologi elektronika dibuatlah automasi sistem irigasi serta pengendalian kadar nutrisi berdasarkan nilai TDS. Tempat penampungan air dilengkapi dengan pelampung untuk mendeteksi kondisi penuh atau kosong dan sebuah sensor TDS untuk mendeteksi kadar nutrisi yang terlarut didalam air, jika kadar nutrisinya dinilai kurang dari batas minimum maka sistem akan menambahkan nutrisi. Sebaliknya, jika kadar nutrisinya berlebihan maka akan ditambahkan air. Selama proses penambahan nutrisi dan air, sistem juga akan menyalakan buzzer untuk memberi tahu pemilik tumbuhan hidroponik. Sistem akan dikendalikan dengan sebuah mikrokontroler. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah sistem dapat bekerja secara otomatis dalam penambahan nutrisi dan air dengan mikrokontroler sebagai pengendalinya untuk memproses input data dari sensor yang ada. Sistem dapat mengatur periode kerja pompa dengan perbandingan waktu pompa bekerja dan mati adalah 1:1.82 sehingga dapat menekan nilai konsumsi daya total sebesar 37.77 kwh per bulan dengan penghematan sebesar Rp. 55.419/ bulan dan menyeimbangkan kadar nutrisi yang terlarut pada air media tanam hidroponik NFT dengan rata- rata persen error 1.545%.
Pelatihan Penanggulangaan Kegawatdaruratan Bagi Masyarakat di Desa Curah Cottok, Kapongan, Situbondo, Jawa Timur Kristina Pae; Ira Ayu Maryuti; Made Indra Ayu Astarini; Andrew Joewono
BERDAYA: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2023)
Publisher : LPMP Imperium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36407/berdaya.v5i3.1115

Abstract

Emergency conditions can occur anywhere and anytime. Medical personnel have an obligation to help deal with this situation, even though it is not uncommon for emergencies to occur in areas that are difficult for medical personnel to reach. Community participation in overcoming this situation before it is handled by the medical team is very important. One of the keys to the success of emergency relief is the provision of assistance from the community, which is the first element in finding the victim. The only health facility in Curah Cottok Village is the Primary Health Center (Puskesmas), which is five kilometers away and medical personnel are rarely available. The aim of health education in this community service activity is to increase the knowledge of the people of Curah Cottok Village and their role in handling emergencies. This activity was attended by 30 cadres and village officials. The methods used are lectures, demonstrations, and discussions. Pre-test and post-test is done by filled the questionnaire. Results: There were differences in the results of the correct answers pre and post the emergency management training. The increase is between 3 and 5 points. Conclusion: After training in emergency management, the community's knowledge has increased.