Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

CORRELATION BETWEEN BLOOD PRESSURE AT ADMITTED EMERGENCY ROOM AND CLINICALLY OUTCOME IN ACUTE THROMBOTIC STROKE PATIENTS Rianawati, Sri Budhi; Aurora, Habiba; Nugrahanitya, Yulia
Malang Neurology Journal Vol 1, No 2 (2015): July
Publisher : Malang Neurology Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.205 KB) | DOI: 10.21776/ub.mnj.2015.001.02.4

Abstract

Background. High blood pressure is the first risk factor in stroke, but it is possible that low blood pressure causes stroke, although it is a few incident. Objective. To know the relation between blood pressure on arrival time in stroke unit and the clinical outcome of acute thrombolytic stroke patients using NIHSS score. Methods. Using cohort retrospective study, 38 samples were selected by consecutive method. The variable measured in this research is systolic blood pressure (SBP), diastolic blood pressure (DBP), and Mean Arterial Pressure (MAP) at the first time in stroke unit to NIHSS patients in the last day nursing (10-14 days). Results. Based from Spearman correlation test, SBP (p = 0,136; r = 0,246), DBP (p = 0,586; r = 0,091), and MAP (p = 0,171; r = 0,227) indicate that have not significant correlation with NIHSS and indicate that very weak correlation. Conclusion. Systolic blood pressure (SBP), diastolic blood pressure (DBP), and Mean Arterial Pressure (MAP) have not significant correlation with NIHSS and indicate that very weak correlation. Study is needed to understand the relation without any treatment influence and confounding factor.
Korelasi Refluks Laringofaring dengan Terjadinya Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) Nugrahanitya, Yulia; Murdiyo, H. Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Refluks Laringofaring (RLF) merupakan kondisi inflamasi yang terjadi pada mukosa laring dan faring akibat refluks isi lambung, yang sering dikaitkan dengan berbagai gejala pernapasan. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah gangguan tidur yang ditandai dengan henti napas berulang akibat sumbatan saluran napas atas. Studi sebelumnya menunjukkan kemungkinan korelasi antara RLF dan OSAS, namun hubungan ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara Reflux Symptom Index (RSI) dan Reflux Finding Score (RFS) pada pasien RLF dengan gejala OSAS yang dinilai menggunakan Epworth Sleepiness Scale for Children and Adolescents (ESS-CHAD) serta STOP-Bang Questionnaire. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien RLF di RSUD Dr. Saiful Anwar selama periode 1 Juli 2023 hingga 31 Juli 2024. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu pasien RLF dengan skor RSI > 13 dan RFS > 7, serta telah menjalani pemeriksaan klinis terkait OSAS. Hasil: Dari 27 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berusia 41-50 tahun (37%) dengan proporsi jenis kelamin perempuan (51,9%). Analisis korelasi menggunakan uji Spearman menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara RSI dan RFS dengan ESS-CHAD maupun STOP-Bang. Hasil uji regresi juga menunjukkan bahwa RSI dan RFS tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap risiko OSAS. Kesimpulan: Penelitian ini tidak menemukan korelasi yang signifikan antara RLF dan OSAS berdasarkan skor RSI, RFS, ESS-CHAD, dan STOP-Bang. Hasil ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyatakan bahwa meskipun kedua kondisi ini sering ditemukan bersamaan, hubungan kausalnya masih belum jelas. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih besar dan metode diagnostik yang lebih komprehensif seperti polisomnografi.
Korelasi Volume Mastoid Air Cells dengan Keberhasilan ProsedurTimpanoplasti Tipe 1 dengan Graft Fascia di Rsud Dr. SaifulAnwar pada Periode 1 Januari 2024 – 31 Desember 2024 Nugrahanitya, Yulia; Handoko, Edi; Wahyudiono, Ahmad Dian
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Mastoid air cells (MACs) berperan dalam ventilasi dan regulasi tekanan telinga tengah. Pneumatisasi mastoid yang baik diduga dapat memengaruhi keberhasilan timpanoplasti karena berfungsi sebagai reservoir udara bagi telinga tengah. Namun, hubungan antara volume mastoid air cells dan keberhasilan timpanoplasti masih menunjukkan hasil yang bervariasi pada berbagai penelitian. Tujuan: Mengetahui hubungan antara volume mastoid air cells dengan keberhasilan prosedur timpanoplasti tipe I menggunakan graft fascia temporalis di RSUD Dr. Saiful Anwar. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien yang menjalani timpanoplasti tipe I dengan graft fascia temporalis di RSUD Dr. Saiful Anwar pada periode 1 Januari–31 Desember 2024. Volume mastoid air cells diukur menggunakan HRCT mastoid melalui DICOM viewer dengan batas −1024 hingga −200 HU menggunakan metode ABC/2. Keberhasilan operasi dinilai dari status graft membran timpani setelah evaluasi 3 bulan pascaoperasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Sebanyak 23 pasien memenuhi kriteria penelitian. Rata-rata volume mastoid air cells adalah 2,46 ± 2,06 mL. Keberhasilan graft timpanoplasti didapatkan pada 16 pasien (69,5%), sedangkan kegagalan graft pada 7 pasien (30,4%). Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi Pearson r = 0,018 dengan p = 0,934, yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara volume mastoid air cells dengan keberhasilan graft timpanoplasti. Kesimpulan: Volume mastoid air cells tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan timpanoplasti tipe I. Faktor lain seperti kondisi telinga tengah, fungsi tuba eustachius, ukuran perforasi, dan teknik pembedahan kemungkinan memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan keberhasilan operasi.