Abdul Hadi Kadarusno
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ECOBRICK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI SD N 3 JARAKAN, DUSUN JARANAN, PANGGUNGHARJO, SEWON, BANTUL, DI YOGYAKARTA Sekar Lintang Sejati; Feti Fatiah Nada Milenia; Ratih Rahmadani; Prisela Elta Kelana; Namira Salsabila Tyadin; Choirul Amri; Abdul Hadi Kadarusno
JPS : Jurnal Pengabdian Serulingmas Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : JPS : Jurnal Pengabdian Serulingmas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.364 KB)

Abstract

Waste is a national problem so that its processing needs to be carried out in a comprehensive and integrated manner from upstream to downstream in order to provide economic, health and safety benefits for the environment. Based on this, the background for this activity is because the problem of waste is still a challenge in Bantul Regency, which is caused by the amount of volume that continues to increase every year. Lack of knowledge in processing and utilizing plastic waste is one of the factors of the existing problems. This activity was carried out using several methods, namely counseling, question and answer, and the practice of making ecobricks which were arranged into a chair. The form of waste processing and utilization that can be done is the use of ecobrick . The purpose of this activity is to instill knowledge and behavior in waste management and as a learning medium for children's creativity. The extension method aims to provide understanding and knowledge to 4th grade students at SD Negeri 3 Jarakan. One of the uses of inorganic waste into ecobricks at SD Negeri 3 Jarakan, Jaranan Hamlet, Panggungharjo Village, Sewon District , Bantul Regency, DI Yogyakarta with the target of grade 4 students. Before making ecobricks was preceded by counseling on STBM, 3R and materials on how to make ecobricks. Materials for making ecobricks were started by giving new knowledge to elementary school siblings about how to process waste that was initially considered goods. useless into something that has value. The enthusiasm of the 4th graders was reflected in their efforts when they were asked to bring inorganic waste such as plastic as materials for making ecobricks. Through making ecobricks, its hoped that elementary school students can participate in implementing the waste management program and also wisely use plastic later.
Tinjauan Faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medis Rawat Jalan dengan Metode Fishbone dan USG di RSUD X Zanu Nury Latifah; Anton Kristijono; Syarah Mazaya Fitriana; Abdul Hadi Kadarusno
Journal of Health Information Management and Medical Record Vol. 2 No. 1 (2026): Volume 2 No 1 ( Juni ) 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/himmr.v2i1.3260

Abstract

Kelengkapan rekam medis merupakan bagian penting dalam proses pencatatan pelayanan, pengobatan pasien, dan pengajuan klaim asuransi, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap ketidaklengkapan pengisiannya, terutama pada pelayanan rawat jalan dengan jumlah kunjungan pasien yang tinggi. Kelengkapan pengisian Rekam Medis Elektronik rawat jalan di Rumah Sakit X belum memenuhi standar sesuai ketentuan yaitu 100%. Tujuan mengetahui tingkat kelengkapan rekam medis rawat jalan periode bulan Oktober–Desember 2025 dan mengetahui faktor penyebab ketidaklengkapan menggunakan metode Fishbone dan USG. Penelitian deskriptif dengan metode campuran dilakukan pada Januari–April 2026. Pengumpulan data melalui Google Form, wawancara, dan kuesioner kepada tiga responden. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kelengkapan pengisian rekam medis rawat jalan 88,72%. Berdasarkan Analisis Fishbone ditemukan faktor penyebab ketidaklengkapan rekam medis yaitu tingginya beban kerja, sosialisasi pengisian RME, anggaran, tidak ada penghargaan atau punishment, belum ada SOP Pengisian RME, perangkat masih terbatas, dan format, tampilan, serta fitur RME yang belum tersedia. Berdasarkan analisis USG prioritas utama penyebab ketidaklengkapan rekam medis yang harus segera ditindaklanjuti adalah belum optimalnya penerapan sistem RME. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi, pengembangan sistem RME secara berkelanjutan untuk meningkatkan kelengkapan rekam medis, dan mendukung pelayanan kesehatan.
Evaluasi Penggunaan Rekam Medis Elektronik di Puskesmas Wirobrajan Kota Yogyakarta Nita Budiyanti; Henry Farel Dewanto; Abdul Hadi Kadarusno; Primus Radixto Prabowo
Jurnal Rekam Medis & Manajemen Infomasi Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/jurmik.v5i1.328

Abstract

Puskesmas Wirobrajan telah menggunakan RME sejak bulan September 2023. Sejauh ini Puskesmas Wirobrajan belum pernah melakukan evaluasi terkait penggunaan RME. Perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui gambaran penggunaan RME di Puskesmas Wirobrajan dan untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Salah satu metode evaluasi untuk mengetahui seberapa besar tingkat penerimaan pengguna dalam penggunaan teknologi yaitu dengan menggunakan metode Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian ini menggambarkan hasil ealuasi penggunaan RME di Puskesmas Wirobrajan. Metode Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan responden merupakan perwakilan dari masing-masing unit pelayanan yang menggunakan rekam medis elektronik. Hasil Penelitian ini yaitu Evaluasi pada aspek kegunaan masuk dalam kategori Puas dengan skor 3,23, aspek kemudahan masuk dalam kategori Puas dengan skor 3,08, aspek sikap masuk dalam kategori Puas dengan skor 3,17, aspek minat masuk dalam kategori Sangat Puas dengan skor 3,27, aspek penggunaan masuk dalam kategori Sangat Puas dengan skor 3,33, dan tingkat kepuasan penggunaan rekam medis elektronik masuk dalam kategori Puas dengan skor 3,20. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Evaluasi penerapan RME pada aspek kegunaan, kemudahan, dan sikap masuk dalam kategori Puas, sedangkan pada aspek minat dan penggunaan masuk dalam kategori Sangat Puas. Secara keseluruhan tingkat kepuasan penggunaan RME masuk dalam kategori Puas.
Gambaran Adopsi Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit X Tahun 2025 Windi Ayudhiaswari; Anton Kristijono; Syarah Mazaya Fitriana; Abdul Hadi Kadarusno
Journal of Health Information Management and Medical Record Vol. 2 No. 1 (2026): Volume 2 No 1 ( Juni ) 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/himmr.v2i1.3272

Abstract

Latar Belakang: Digital Maturity Index (DMI) digunakan untuk menilai kematangan transformasi digital pelayanan kesehatan, termasuk Rekam Medis Elektronik (RME). Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul telah menerapkan RME sejak tahun 2022 dan mengalami peningkatan nilai DMI komponen RME hingga tahun 2025. Namun, gambaran adopsi RME berdasarkan komponen RME dalam DMI tahun 2025 belum diketahui secara mendalam. Tujuan: Mengetahui gambaran adopsi RME di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul Tahun 2025 berdasarkan aspek fungsi RME, patient-centered care, kedalaman RME, dan layanan personalisasi pasien. Metode Penelitian: Metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen checklist, observasi, studi dokumentasi, dan wawancara tidak terstruktur. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan penerapan RME di rumah sakit. Hasil Penelitian: Adopsi RME di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul memperoleh nilai DMI komponen RME sebesar 4,36 pada kategori managed. Aspek fungsi RME telah mendukung pencatatan dan pengelolaan data pasien secara elektronik. Aspek patient-centered care telah mendukung evaluasi kepuasan pasien. Aspek kedalaman RME telah mendukung pengelolaan data pasien secara lengkap, meskipun fitur clinical decision support, identifikasi pasien berbasis teknologi, dan informed consent elektronik belum optimal. Aspek layanan personalisasi pasien telah mendukung kemudahan akses pelayanan, tetapi akses resume medis pasien secara online masih dalam pengembangan. Kesimpulan: Adopsi RME di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul tahun 2025 telah berjalan baik dengan nilai DMI komponen RME sebesar 4,36 pada kategori managed. Pengembangan fitur pendukung keputusan klinis, identifikasi pasien berbasis teknologi, informed consent elektronik, dan akses informasi medis pasien secara online masih diperlukan. Kata Kunci: RME, DMI, Adopsi RME, Rumah Sakit, Nur Hidayah.
ANALISIS AKURASI KODE DIAGNOSIS SECARA MANUAL DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE DI PUSKESMAS UMBULHARJO I Rezqa Amaliza; Nita Budiyanti; Syarah Mazaya Fitriana; Abdul Hadi Kadarusno; Mutiara Pertiwi; Rahmah Nindyakinanti
Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakakuratan kode diagnosis ICD-10 di puskesmas berdampak pada kualitas data morbiditas dan pelaporan penyakit, dengan kesalahan yang umumnya terjadi pada subkategori (Munandziroh et al., 2024). Artificial Intelligence (AI) terbukti mampu meningkatkan akurasi kodefikasi. Penelitian ini menganalisis perbedaan akurasi kode diagnosis ICD-10 antara metode manual dan AI serta identifikasi kelompok kesalahan pemberian kode di Puskesmas Umbulharjo I. AI yang digunakan dalam menetapkan kode adalah Claude , hasil penetapan tersebut dilanjutkan dengan mengidentifikasi kelompok kesalahan kode. Pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan sampel 398 rekam medis rawat jalan tahun 2025 melalui metode simple random sampling . Hasil kode manual dan kode AI divalidasi oleh expert judgement sesuai ICD-10 Volume II 2010. Hasil penelitian pemberian kode manual oleh Puskesmas Umbulharjo diperoleh keakuratan sejumlah 93 rekam medis (23,37%), sedangkan pemberian kode menggunakan AI diperoleh sejumlah 345 rekam medis (86,68%). Hasil identifikasi kesalahan kode manual didominasi kelompok kesalahan subkategori sejumlah 291 rekam medis (95,41%) dan kelompok kesalahan kategori (14 kasus, 4,59%), sedangkan kesalahan kode menggunakan AI meliputi kelompok kesalahan subkategori 53 rekam medis (100%). Hasil penelitian menunjukkan adanya akurasi yang signifikan antara kode manual dan AI , sehingga mempertegas potensi AI sebagai alat bantu kodefikasi dengan verifikasi akhir oleh PMIK.