Nanik Hamidah, Nanik
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA (STUDI KASUS OBJEK WISATA BUKIT JAMUR DI KECAMATAN BUNGAH GRESIK) HAMIDAH, NANIK
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Objek wisata Bukit Jamur mempunyai daya tarik wisata yang memikat serta dapat membangkitkan rasa ingin tahu seseorang karena letaknya yang berada di tengah di kelilingi bukit kapur dan sawah. Bukit Jamur mempunyai keunikan tersendiri yaitu batuannya berbentuk jamur dan terbentuk secara alami. Bukit Jamur ini menjadi sangat penting ketika dapat menjadi penunjang perekonomian bagi para pemuda desa dan warga sekitar yang ingin mengembangkan objek wisata tersebut. Partisipasi dalam bentuk koordinasi dari masyarakat merupakan langkah awal untuk membangun kerjasama antara pembuat kebijakan dengan masyarakat sebagai pendorong suksesnya kebijakan tersebut dalam rangka pengelolaan objek wisata. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui potensi kepariwisataan yang ada di Gresik untuk itu penulis mengambil judul “Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata (Studi Kasus Objek Wisata Bukit Jamur di Kecamatan Bungah Gresik)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata  Bukit Jamur di Kecamatan Bungah, yang terdiri dari : a) bentuk interaksi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata, b) bentuk-bentuk koordinasi antar masyarakat dengan objek wisata dan pemerintah daerah, c) pola partisipasi antar masyarakat dengan objek wisata. Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dimana peneliti akan menggunakan berbagai sumber data yang digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komperhensif berbagai aspek individu, kelompok, program, organisasi dan peristiwa secara sistematik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu reduksi, penyajian, dan kesimpulan yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan informan yang di pilih dengan teknik purposive dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk interaksi sosial diawali dengan kerjasama antara perusahaan dan masyarakat, lahan penambangan dulunya merupakan lahan warga yang tidak bersertifikat setelah itu pada tahun diatas 1985 lahan tersebut dibeli oleh CV Bhumi Shakti yang akan digunakan sebagai penambangan, hubungan baik antara perusahaan dan masyarakat menyebabkan adanya kerjasama yang berkelanjutan dengan partisipasi warga dalam koordinasi pengelolaan wisata Bukit Jamur. Interaksi sosial yang terjadi dapat membentuk sebuah pola koordinasi horizontal dan vertikal. Koordinasi vertikal berkisar pada lembaga yang lebih tinggi setingkat yaitu dinas pariwisata, perusahaan, Kepala Desa berupa sumbangan pikiran secara nyata dengan membuat perubahan sistem kerja perusahaan. Warga desa yang melakukan koordinasi horizontal yaitu Linmas, karang taruna, Satpam, Polsek Bungah suatu lembaga yang sederajat bentuk koordinasi mereka berupa sumbangan tenaga, pikiran dan mempunyai tanggung jawab terhadap ke amanan area wisata, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara interaksi dengan koordinasi masyarakat dalam pengelolaan wisata Bukit Jamur. Partisipasi masyarakat secara tidak langsung berupa ide atau gagasan untuk kepentingan bersama dalam pengambilan keputusan perencanaan pembangunan. Partisipasi langsung berupa sumbangan fisik dari pengelola wisata yaitu berupa penjagaan keamanan dan menjual makanan serta minuman. Kata kunci: Interaksi, Koordinasi, Partisipasi
Development of CAPINA Blenderized Formula Based on Banana, Mung Bean Extract, Chicken Breast, and Dragon Fruit as a Low-Sodium and Low-Fat Liquid Diet in Bhayangkara Hospital, Kediri Lukman, Fadillah Diana; Nisa’, Ariqah Hidayatun; Juniarda, Friska; Nafidatul Isfanah, Nelli; Dwi Arianti, Novita; Apriliawan, Pinky; Rahayu, Suci; Filiya, Ana Nur; Hamidah, Nanik; Sutoyo, Rr Lieliesnaini Octaviariani; Dwi Utami, Nuzul
Ficco Public Health Journal Vol. 3 No. 01 (2026): January-April 2026
Publisher : Ficco Scientific Corner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18509128

Abstract

Background: Meeting the nutritional requirements of hospitalized patients receiving low-sodium (LS) and low-fat (LF) liquid diets remains a significant clinical challenge, particularly due to the frequent use of tajin as the main liquid diet, which provides inadequate energy and protein. Insufficient nutritional intake may increase the risk of hospital malnutrition and adversely affect clinical recovery. This study aimed to develop a CAPINA blenderized formula based on banana, mung bean extract, chicken breast, and dragon fruit as a nutritionally improved liquid diet alternative, and to evaluate its nutrient composition, acceptability, and cost-effectiveness. Methods: A true experimental study was conducted using a posttest-only control design with a Completely Randomized Design (CRD). Two formulations were developed: F0 (without dragon fruit) and F1 (with the addition of 10 Gram of dragon fruit). Nutrient composition was assessed using quantitative descriptive analysis, while acceptability was evaluated based on color, aroma, texture, and taste by 10 panelists using a hedonic scale. Cost analysis was performed to assess the economic feasibility of each formulation. Results: The results showed that the energy content of F0 and F1 was 285.4 kcal and 281.7 kcal, respectively, with comparable protein contents of 15.38 Gram and 15.45 Gram. Both formulations met the criteria for LS and LF diets due to their low fat content. Acceptability testing demonstrated higher overall acceptance for F1, particularly in color (100%) and taste (93%). High acceptance was also observed for aroma and texture in both formulations. Cost analysis indicated that F1 was more cost-effective than F0. Conclusion: In conclusion, the CAPINA blenderized formula, particularly formulation F1, represents a promising alternative to tajin for hospitalized patients requiring LS and LF liquid diets, as it provides improved nutritional adequacy, high acceptability, and favorable cost-effectiveness.