Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Factors Associated With Diaper Rash In Infants Aged 0-12 months Stianto, Mitayakuna; Fatimah, Siti; Fitriana, Alfira
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 10, No 6 (2024): Volume 10,No.6 Juni 2024
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v10i6.15467

Abstract

Latar Belakang : Kulit bayi  relatif  tipis sehingga lebih rentan terhadap infeksi, peradangan, dan alergi. Ruam popok merupakan masalah kulit yang umum terjadi pada bayi. Data epidemiologi menunjukkan bahwa ruam popok atau diaper rash terjadi di 65% populasi anak-anak. Kejadian ruam popok dapat dimulai sejak periode neonatus, sejak bayi mulai menggunakan popok (Putri & Ludiana, 2021). Namun, insidensi lebih sering ditemukan pada bayi yang lebih tua, sebab frekuensi penggantian popok lebih jarang dibandingkan neonatus.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ruam popok pada bayi.Metode : Penelitian Strategi dalam mencari jurnal yang digunakan dalam literature review, pertanyaan yang digunakan untuk melakukan review jurnal yang disesuaikan dengan PICOT dan istilah pencarian jurnal melalui MESH, batasan mengambil jurnal dan hal lainnya. Jurnal yang digunakan dalam literature review didapatkan melalui database google scholar. Populasi : Bayi yang mengalami ruam popok. Sampling : Sebagian dari bayi yang mengalami ruam popok.Hasil : Berdasarkan 10 penelitian terdapat 4 jurnal penelitian tentang ruam popok terjadi karena kurangnya pengetahuan ibu, terdapat 4 jurnal penelitian tentang ruam popok dikarenakan personal hygiene, terdapat 1 jurnal penelitian tentang ruam popok karena lama pemakaian popok sekali pakai dan terdapat 1 jurnal penelitian tentang ruam popok karena penggunaan bedak tabur pada area genetal. Kesimpulan : dengan penatalaksanaan memberikan edukasi kepada ibu untuk menggunakan popok kain yang memiliki daya serap tinggi dan mengganti sesering mungkin. Masalah teratasi setelah diberikan perawatan selama 5 hari dengan intervensi yang diberikan, kemudian dilakukan pendokumentasian dengan menggunakan manajemen SOAP.Saran : Dalam kasus ruam popok akan sembuh dengan penanganan penggunaan popok tidak lebih dari 4 jam, setelah BAK/BAB segera dibersihkan dengan air atau kapas DTT, menjaga kelembaban area genetal. Kata kunci : bayi, personal hygiene, ruam popok. ABSTRACT Background.Babies' skin is relatively thin, making it more susceptible to infection, inflammation and allergies. Diaper rash is a common skin problem in infants. Epidemiological data shows that diaper rash occurs in 65% of the paediatric population. The incidence of diaper rash can start as early as the neonatal period, from the time an infant starts wearing nappies. However, the incidence is more common in older infants, as the frequency of nappy changes is less frequent compared to neonates.Objective: To determine the factors associated with diaper rash in infants.Methods: Research strategy in finding journals used in the literature review, questions used to review journals tailored to PICOT and journal search terms through MESH, journal retrieval limitations and other matters. Journals used in the literature review were obtained through the google scholar database. Population: Infants with diaper rash. Sampling: Some of the babies who have diaper rash.Results: Based on 10 studies, there are 4 research journals on diaper rash due to lack of maternal knowledge, there are 4 research journals on diaper rash due to personal hygiene, there is 1 research journal on diaper rash due to long use of disposable diapers and there is 1 research journal on diaper rash due to the use of powder on the genetal area. Conclusion: with the management of providing education to the mother to use cloth diapers that have high absorption and change as often as possible. The problem was resolved after being given treatment for 5 days with the interventions provided, then documentation was carried out using SOAP managemenSuggestion: In the case of diaper rash, it will heal by handling the use of diapers for no more than 4 hours, after BAK / BAB immediately cleaned with water or DTT cotton, keeping the genetal area moist. Keywords:baby, diaper rash, personal hygiene. 
Efektifitas Konsumsi Wedhang Jahe Terhadap Hiperemesis Gravidarum Di Wilayah Kerja Puskesmas Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Mitayakuna Stianto; Alfira Fitriana; Feni Lianawati
MEDICAL JURNAL OF AL-QODIRI Vol. 10 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Keperawatan dan Kesehatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Al-Qodiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan masa kehamilan harus terselenggara untuk menilai dan melakukan pencegahan serta menangani komplikasi atau masalah yang mengganggu kesehatan ibu serta janinnya. Survey data pertahun 2024 di Puskesmas Cukir 15 ibu hamil trimester I mengalami hiperemesis gravidarum. Tujuan penelitian ini untuk melaksanakan manajemen asuhan kebidana pada ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Masalah pada ibu hamil trimester pertama mengeluh mual muntah yang berlebihan hingga badan terasa lemas. Pemberian asuhan kebidanan dilakukan dengan 2 kali kunjungan. Pada kunjungan pertama dilakukan penelitian terhadap ibu hamil trimester pertama yang mengeluh mual muntah yang berlebihan, diberikan asuhan kebidanan dengan pembuatan wedhang jahe. Pada kunjungan kedua setelah diberikan perlakuan untuk mengkonsumsi wedhang jahe ibu mengeluh mual muntah mulai berkurang. Pada ibu hamil trimester pertama dengan keluhan mual muntah yang berlebihan hingga menyebabkan badan terasa lemas, dilakukan asuhan kebidanan dengan pemberian asuhan pembuatan wedhang jahe. Saran bagi tempat penelitian, diharapkan menjadi masukan untuk meningkatkan pelayanan ANC seperti konseling ketidaknyamanan dan tanda bahaya trimester I sehinggah mencegah hiperemesis gravidarum tingkat I. Bagi institusi diharapkan bisa menjadi referensi hasil asuhan kebidanan ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum tingkat I bagi institusi pendidikan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir.
Edukasi Gizi Seimbang Ibu Balita Pencegahan Stunting di Desa Dapur Kejambon Jombang Fitriana, Alfira; Stianto, Mitayakuna; Fatimah, Siti; Mahardika, Galih Puspita Citra; Lianawati, Feny; Fatma, Inge Devita
ABHIPRAYA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan dan Sains Vol 2 No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/abhipraya.v2i2.25091

Abstract

Stunting, atau sering disebut kekerdilan, adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini paling sering ditandai dengan tinggi badan anak yang jauh di bawah standar usianya. Dampak yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting adalah dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Salah satu faktor penyebab terjadinya stunting adalah kurangnya pemahaman orang tua mengenai gizi seimbang bagi buah hatinya dan cara pengolahan makanan yang kaya akan gizi, sehingga secara tidak langsung dapat menyebabkan anak mengalami stunting. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita mengenai gizi seimbang dalam upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dengan media leaflet, yang mencakup pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, penyampaian materi edukasi, dan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya kenaikan tingkat pemahaman ibu balita setelah mengikuti edukasi, yang ditunjukkan dengan nilai post-test yang lebih tinggiimana sebagian besar ibu menjawab dengan benar diatas 90% dari pertanyaan yang diajukan dibandingkan nilai pre-test yang hanya 40% pertanyaan yang dijawab dengan benar. Harapan kami dari kegiatan ini dapat ikut serta dalam upaya penurunan angka kejadian stunting melalui peningkatan pengetahuan mengenai pemberian makanan dengan gizi seimbang bagi balita.